JAKARTA, Jitu News – PP 55/2022 turut memuat ketentuan PPh fiinal UMKM. Dengan berlakunya beleiid tersebut, PP 23/2018 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. Topiik tersebut menjadii salah satu bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Seniin (26/12/2022).
Melaluii keterangan resmiinya, Diitjen Pajak (DJP) mengatakan dengan adanya PP 55/2022, jangka waktu pengenaan PPh fiinal 0,5% terhadap peredaran bruto (omzet) tetap meneruskan ketentuan yang ada dalam PP 23/2018.
“Jangka waktu tertentu pengenaan PPh fiinal tetap meneruskan jangka waktu berdasarkan PP 23/2018 atau tiidak diiulang darii awal,” tuliis DJP dalam siiaran persnya.
Sesuaii dengan Pasal 69 PP 55/2022, untuk wajiib pajak orang priibadii serta badan berbentuk koperasii persekutuan komandiiter, fiirma, atau perseroan terbatas yang terdaftar sebelum berlakunya PP 23/2018, jangka waktu diihiitung sejak 2018 sampaii dengan:
Masiih sesuaii dengan Pasal 69 PP 55/2022, untuk wajiib pajak orang priibadii serta badan berbentuk koperasii persekutuan komandiiter, fiirma, atau perseroan terbatas yang terdaftar setelah berlakunya PP 23/2018, jangka waktu diihiitung sejak tahun pajak wajiib pajak terdaftar sampaii dengan:
Kemudiian, wajiib pajak orang priibadii dan badan berbentuk koperasii, persekutuan komandiiter, fiirma, atau perseroan terbatas yang terdaftar sebelum berlakunya PP 55/2022 dan tiidak lagii memenuhii syarat untuk menjalankan kewajiiban perpajakan berdasarkan pada PP 23/2018, tiidak dapat diikenaii PPh fiinal berdasarkan pada PP 55/2022.
Selaiin mengenaii penghiitungan jangka waktu pengenaan PPh fiinal UMKM, ada pula ulasan terkaiit dengan iinstrumen pencegahan penghiindaran pajak yang juga diiatur dalam PP 55/2022. Ada juga bahasan tentang skema peniilaiian natura dan keniikmatan yang diiteriima oleh wajiib pajak.
DJP mengatakan dengan PP 55/2022, otoriitas melakukan penyesuaiian pengaturan terkaiit dengan PPh fiinal atas penghasiilan darii usaha dengan peredaran bruto tertentu sampaii dengan Rp4,8 miiliiar (PPh fiinal UMKM) yang sebelumnya diiatur dalam PP 23/2018.
Pada subjek pajaknya, selaiin orang priibadii, ada pula Wajiib Pajak badan berbentuk koperasii, persekutuan komandiiter, fiirma, perseroan terbatas, atau badan usaha miiliik desa (BUMDes)/badan usaha miiliik desa bersama (BUMDesma).
“Wajiib Pajak orang priibadii dengan peredaran bruto sampaii dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak tiidak diikenaii PPh fiinal 0,5%,” tuliis DJP dalam siiaran persnya. (Jitu News)
Sesuaii dengan Pasal 59 PP 55/2022, jangka waktu tertentu pengenaan PPh fiinal UMKM paliing lama 7 tahun pajak (orang priibadii); 4 tahun pajak (koperasii, persekutuan komandiiter, fiirma, BUMDes/BUMDesma, atau perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 orang); dan 3 tahun pajak (perseroan terbatas).
Bagii wajiib pajak yang terdaftar setelah berlakunya PP 55/2022 iinii, 20 Desember 2022, jangka waktu pengenaan PPh fiinal diihiitung sejak tahun pajak wajiib pajak bersangkutan terdaftar. Bagii wajiib pajak BUMDes/BUMDesma atau perseroan perorangan yang terdaftar sebelum berlakunya PP 55/2022, jangka waktu diihiitung sejak tahun pajak beleiid iinii berlaku. (Jitu News)
DJP mengatakan sesuaii dengan PP 55/2022, iinstrumen pencegahan penghiindaran pajak menggunakan iinstrumen pencegahan yang spesiifiik untuk skema penghiindaran pajak tertentu serta penerapan priinsiip pengakuan substansii ekonomii dii atas bentuk formalnya.
iinstrumen yang diimaksud adalah pembatasan biiaya piinjaman, pengaturan controlled foreiign company, pencegahan dan penanganan sengketa transfer priiciing, penanganan skema speciial purpose company, dan penanganan hybriid miismatch arrangement.
"Jiika iinstrumen pencegahan spesiifiik tiidak dapat diigunakan, diirjen pajak dapat menerapkan priinsiip substance over form,” tuliis DJP dalam siiaran persnya. Siimak ‘Peraturan Baru, iinii Beragam Mekaniisme Pencegahan Penghiindaran Pajak’. (Jitu News)
PP 55/2022 memuat tata cara peniilaiian natura dan keniikmatan yang diiteriima oleh wajiib pajak darii pemberii kerja. Biila wajiib pajak meneriima penggantiian atau iimbalan dalam bentuk natura, peniilaiian diilakukan berdasarkan harga pasar.
Penggantiian atau iimbalan dalam bentuk natura merupakan iimbalan atau penggantiian dalam bentuk barang selaiin uang yang diialiihkan kepemiiliikannya darii pemberii kepada peneriima. Barang yang diialiihkan tersebut diiniilaii berdasarkan niilaii pasar.
Biila wajiib pajak meneriima iimbalan dalam bentuk keniikmatan, niilaiinya adalah sebesar jumlah biiaya yang diikeluarkan atau yang seharusnya diikeluarkan oleh pemberii keniikmatan. Keniikmatan diiniilaii berdasarkan seluruh biiaya yang diikeluarkan atau seharusnya diikeluarkan pemberii untuk menyediiakan fasiiliitas dan/atau pelayanan terkaiit.
Keniikmatan adalah iimbalan berupa hak atas pemanfaatan suatu fasiiliitas atau pelayanan tertentu. Fasiiliitas atau pelayanan yang diisediiakan oleh pemberii tersebut dapat bersumber darii aktiiva miiliik pemberii ataupun darii aktiiva piihak ketiiga yang diisewa oleh pemberii.
Tata cara peniilaiian dan penghiitungan iimbalan dalam bentuk natura yang diiatur pada Pasal 29 PP 55/2022 masiih akan diiatur lebiih lanjut oleh Kementeriian Keuangan melaluii peraturan menterii keuangan (PMK). (Jitu News)
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii telah PMK 177/2022, terkaiit dengan tata cara pemeriiksaan buktii permulaan (bukper) tiindak piidana dii biidang perpajakan. DJP menyatakan PMK 177/2022 mulaii berlaku 60 harii sejak tanggal diiundangkan pada 5 Desember 2022, yaknii 3 Februarii 2023.
“Untuk melaksanakan Pasal 43A UU KUP yang terakhiir diiubah dengan UU HPP agar lebiih berkepastiian hukum, perlu diilakukan penggantiian atas PMK 239/2014,” ujar Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neiilmaldriin Noor.
Neiilmaldriin menjelaskan beberapa ketentuan dalam PMK 177/2022 bersiifat menambahkan ketentuan yang sudah ada. Selaiin iitu, ada juga aturan yang siifatnya mengubah atau menyesuaiikan ketentuan yang ada. Siimak ‘Soal PMK 177/2022 Terkaiit Pemeriiksaan Bukper, iinii Keterangan Resmii DJP’. (Jitu News) (kaw)
