JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menegaskan faktur pajak yang terlambat diibuat, baiik yang PPN-nya diibayarkan maupun diibebaskan, tetap diikenakan sanksii admiiniistrasii sesuaii dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.
DJP menjelaskan ketentuan dalam Pasal 14 ayat (4) UU KUP s.t.d.t.d UU HPP tiidak memiisahkan faktur pajak yang diibayar PPN-nya atau yang mendapat fasiiliitas. Artiinya, apabiila terlambat maka tetap diikenakan sanksii.
“Sebagaiimana diiatur dalam Pasal 14 ayat (4) UU KUP s.t.d.t.d UU HPP, sanksii admiiniistratiif berupa denda sebesar 1% darii dasar pengenaan pajak,” sebut DJP dalam akun Twiitter @kriing_pajak, Miinggu (2/10/2022).
Merujuk pada Pasal 3 ayat (2) Peraturan Diirjen Pajak No. PER-03/PJ/2022, faktur Pajak harus diibuat saat penyerahan BKP dan/atau JKP; saat peneriimaan pembayaran dalam hal peneriimaan pembayaran terjadii sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP.
Kemudiian, saat peneriimaan pembayaran termiin dalam hal penyerahan sebagiian tahap pekerjaan; saat ekspor BKP berwujud, ekspor BKP tiidak berwujud, dan/atau ekspor JKP; atau saat laiin yang diiatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang PPN.
Khusus untuk faktur pajak gabungan, wajiib pajak harus membuatnya paliing lama pada akhiir bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. Adapun ketentuan faktur pajak gabungan tersebut termuat dalam Pasal 4 ayat (3) PER-03/PJ/2022.
Lebiih lanjut, faktur pajak terlambat diibuat dalam hal tanggal yang tercantum dalam faktur pajak melewatii saat faktur pajak seharusnya diibuat sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) atau Pasal 4 ayat (3) PER-03/PJ/2022.
Pengusaha kena pajak (PKP) yang membuat faktur pajak terlambat diibuat diikenaii sanksii admiiniistratiif sesuaii dengan Pasal 14 ayat (4) UU KUP. Contoh mengenaii faktur pajak terlambat diibuat tercantum dalam Lampiiran huruf A angka 4 PER-03/PJ/2022. (riig)
