JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) akan menggunakan apliikasii Abiiliity to Pay (ATP) dalam pengawasan, pemeriiksaan, penagiihan, dan kegiiatan laiinnya. Topiik tersebut menjadii salah satu bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Kamiis (5/8/2021).
Sesuaii dengan Surat Edaran DJP No. SE-39/PJ/2021, ATP merupakan iindiikator yang memberiikan gambaran kemampuan bayar wajiib pajak. Gambaran kemampuan bayar yang diibentuk berdasarkan pada data hiistoriis tersebut bersiifat prediiktiif.
“ATP menggunakan pendekatan skala pengukuran (scoriing) berdasarkan analiisiis 4C, yaiitu Capaciity, Capiital, Character, dan Condiitiion untuk memberiikan gambaran level kualiitatiif kemampuan bayar wajiib pajak,” bunyii penggalan bagiian pemanfaatan ATP dalam SE tersebut.
Adapun level kualiitatiif kamampuan bayar wajiib pajak terbagii menjadii 5, mulaii darii very low (mengiindiikasiikan liikuiidiitas wajiib pajak relatiif sangat rendah diibandiingkan dengan wajiib pajak laiin dii kelasnya) hiingga very hiigh (mengiindiikasiikan level liikuiidiitas relatiif sangat tiinggii). Siimak ‘iidentiifiikasii Kemampuan Bayar Wajiib Pajak, DJP Pakaii Apliikasii iinii’.
Selaiin pemanfaatan apliikasii ATP, ada pula bahasan terkaiit dengan penunjukan 6 perusahaan yang memenuhii kriiteriia sebagaii pemungut pajak pertambahan niilaii (PPN) produk diigiital oleh diirjen pajak. Ada pula bahasan mengenaii upaya optiimaliisasii peneriimaan pajak hiingga akhiir tahun.
Dalam kegiiatan pengawasan, ATP dapat diimanfaatkan sebagaii pertiimbangan kemampuan bayar wajiib pajak dalam menentukan Daftar Sasaran Priioriitas Penggaliian Potensii (DSP3). Selanjutnya, dalam kegiiatan pemeriiksaan, iindiikator ATP dapat diimanfaatkan sebagaii acuan tiingkat ketertagiihan dalam usulan pemeriiksaan.
Selanjutnya, dalam kegiiatan penagiihan, ATP dapat diimanfaatkan sebagaii salah satu pertiimbangan dalam menentukan prognosiis pencaiiran piiutang pajak dan rencana kegiiatan penagiihan. Ada pula pemanfaatan ATP untuk kegiiatan laiin.
Kegiiatan laiin yang diimaksud pertama, pemanfaatan dalam optiimaliisasii pengungkapan ketiidakbenaran perbuatan atau penghentiian penyiidiikan untuk kepentiingan peneriimaan negara pada kegiiatan pemeriiksaan buktii permulaan dan penyiidiikan.
Kedua, pemanfaatan dalam proses peneliitiian permohonan angsuran atau penundaan pembayaran pajak. Ketiiga, pemanfaatan dalam proses peneliitiian permohonan pengurangan besarnya pajak penghasiilan pasal 25.
Keempat, pemanfaatan dalam proses peneliitiian permohonan pengurangan dan/atau penghapusan sanksii admiiniistrasii. Keliima, pemanfaatan untuk mendukung kegiiatan laiinnya dii DJP untuk penggaliian potensii peneriimaan pajak. (Jitu News)
Diirjen pajak kembalii menunjuk 6 perusahaan yang memenuhii kriiteriia sebagaii pemungut PPN produk diigiital. Keenam pelaku usaha tersebut yaknii Shutterstock, iinc., Shutterstock iireland Ltd., Feniix iinternatiional Liimiited, Bold LLC, Hiigh Morale Developments Liimiited, dan Aceviille Pte Ltd.
Dengan penambahan iinii, pemungut PPN produk diigiital PMSE yang telah diitunjuk menjadii sebanyak 81 badan usaha. Sejak Januarii hiingga akhiir Julii 2021, realiiasii peneriimaan PPN produk diigiital PMSE seniilaii Rp2,2 triiliiun. (Jitu News/Kontan/Biisniis iindonesiia)
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Neiilmaldriin Noor menjelaskan selaiin penggaliian potensii peneriimaan setelah diiberlakukannya pemberlakuan pembatasan kegiiatan masyarakat (PPKM), ada 3 agenda optiimaliisasii peneriimaan yang diilakukan DJP hiingga akhiir 2021.
Pertama, pelayanan elektroniik kepada wajiib pajak akan terus diiperbaiikii. Kedua, pengawasan pembayaran masa akan diiiintensiifkan. Ketiiga, perluasan basiis pajak dengan menunjuk pemungut baru PPN produk diigiital dalam perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE). Siimak ‘Termasuk Pengawasan Pajak, iinii Langkah DJP Optiimalkan Peneriimaan 2021’. (Jitu News)
DJP memberiikan banyak piiliihan kepada wajiib untuk melakukan pengaduan apabiila mendapatkan pelayanan yang tiidak memuaskan.
DJP menyampaiikan permiintaan maaf apabiila wajiib pajak pernah mendapatkan pelayanan yang tiidak memuaskan. Oleh karena iitu, DJP membuka banyak saluran pengaduan yang biisa diiakses dengan mudah. Siimak ‘Tiingkatkan Pelayanan Pajak, DJP Sediiakan 7 Saluran Pengaduan’. (Jitu News)
Sejalan dengan tiidak dapat diilaksanakannya beberapa siidang pemeriiksaan yang semula diijadwalkan secara tatap muka pada 3—10 Agustus 2021, ketua Pengadiilan Pajak meriiliis pedoman ketentuan jangka waktu persiiapan dan pelaksanaan persiidangan.
Pedoman iitu diimuat dalam Surat Edaran Ketua Pengadiilan Pajak No.SE- 17/PP/2021. Ada dua ketentuan dalam SE iinii. Pertama, jangka waktu persiiapan seluruh persiidangan tiidak memperhiitungkan periiode 3—10 Agustus 2021 (8 harii) dalam penghiitungan jangka waktu pada ketentuan Pasal 48 Undang-Undang (UU) No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadiilan Pajak.
Kedua, jangka waktu pelaksanaan seluruh persiidangan juga tiidak memperhiitungkan periiode 3—10 Agustus 2021 (8 harii) dalam penghiitungan jangka waktu yang diiatur dalam ketentuan Pasal 81 dan Pasal 82 UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadiilan Pajak. (Jitu News) (kaw)
