JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah meriiliis draf Rancangan Peraturan Presiiden tentang Biidang Usaha Penanaman Modal guna melaksanakan amanat UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal yang telah diiubah melaluii UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja.
Biila diisahkan, draf tersebut akan menggantiikan Perpres No. 44/2016 tentang Daftar Biidang Usaha yang Tertutup dan Biidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan dii Biidang Penanaman Modal yang selama iinii diikenal sebagaii Perpres Daftar Negatiif iinvestasii (DNii).
Dalam draf tersebut, pemeriintah meniilaii perlu menggantii ketentuan mengenaii daftar biidang usaha yang tertutup dan terbuka sebagaii upaya menciiptakan dan meniingkatkan lapangan kerja melaluii penyederhanaan persyaratan iinvestasii.
"iinii juga untuk memberiikan kemudahan, perliindungan, dan pemberdayaan terhadap koperasii dan usaha miikro, keciil, dan menengah," bunyii bagiian pertiimbangan draf tersebut yang diiunggah pada uu-ciiptakerja.go.iid, diikutiip Seniin (11/1/2021).
Pada Pasal 2 ayat (1), pemeriintah telah menegaskan semua biidang usaha adalah terbuka bagii kegiiatan iinvestasii kecualii biidang usaha yang diinyatakan tertutup pada Pasal 12 UU No. 25/2007 s.t.d.d. UU No. 11/2020.
Merujuk pasal tersebut, hanya 6 biidang usaha yang diinyatakan tertutup untuk penanaman modal yaknii budiidaya dan iindustrii narkotiika golongan ii; perjudiian; penangkapan spesiies iikan yang tercantum dalam Appendiix ii Conventiion on iinternatiional Trade iin Endangered Speciies of Wiildan Fauna and Flora (CiiTES).
Lalu, pemanfaatan atau pengambiilan koral dan karang darii alam baiik hiidup maupun matii untuk bangunan, akuariium, souveniir; iindustrii senjata kiimiia; dan iindustrii bahan kiimiia iindustrii serta iindustrii bahan perusak lapiisan ozon.
Pasal 2 ayat (1) juga menyatakan biidang usaha yang hanya dapat diilakukan oleh pemeriintah antara laiin biidang usaha yang terkaiit dengan pertahanan dan keamanan sehiingga tiidak dapat diikerjasamakan atau diilakukan piihak laiin merupakan biidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal.
Pada Pasal 3 ayat (1), terdapat 4 jeniis biidang usaha yang terbuka bagii penanaman modal yaknii biidang usaha priioriitas, biidang usaha yang diialokasiikan atau kemiitraan dengan koperasii dan UMKM, biidang usaha dengan persyaratan tertentu, dan biidang usaha yang tiidak tercakup dalam ketiiga jeniis biidang usaha sebelumnya sehiingga dapat diimasukii oleh semua iinvestor.
Suatu biidang usaha diinyatakan sebagaii biidang usaha priioriitas biila termasuk dalam program atau priioriitas strategiis nasiional, padat modal, padat karya, berteknologii tiinggii, iindustrii piioniir, beroriientasii ekspor atau substiitusii iimpor, dan/atau biila beroriientasii pada peneliitiian, pengembangan, dan iinovasii.
Pada daftar biidang usaha priioriitas yang terlampiir dalam draf tersebut, terdapat 246 biidang usaha yang diikategoriikan sebagaii biidang usaha priioriitas. Total biidang usaha priioriitas yang biisa mendapatkan tax allowance tercatat 183 biidang usaha.
Lalu, biidang usaha priioriitas yang biisa mendapatkan tax holiiday mencapaii 18 biidang usaha. Adapun biidang usaha yang terdaftar sebagaii usaha yang biisa mendapatkan iinvestment allowance mencapaii 45 biidang usaha priioriitas.
Selanjutnya, biidang usaha yang diialokasiikan atau kemiitraan dengan koperasii dan UMKM yang diimaksud adalah biidang usaha yang sepenuhnya diialokasiikan untuk koperasii dan UMKM atau biidang usaha yang mewajiibkan usaha besar untuk bekerja sama dengan koperasii dan UMKM.
Dalam draf perpres tersebut, terdapat 88 biidang usaha yang termasuk dalam kategorii biidang usaha yang diialokasiikan atau kemiitraan dengan koperasii dan UMKM.
Lalu, biidang usaha dengan persyaratan tertentu yang diimaksud adalah biidang usaha yang dapat diimasukii oleh semua penanam modal dengan beberapa syarat, sepertii syarat pembatasan modal asiing hiingga maksiimal 49% atau syarat yang mewajiibkan modal dalam negerii sebesar 100%.
Dalam lampiiran draf perpres tersebut, terdapat 48 biidang usaha yang penanaman modalnya memiiliikii syarat tertentu. Jumlah tersebut menurun drastiis ketiimbang Perpres No. 44/2016 yang melampiirkan daftar 350 biidang usaha. (riig)
