iiHPS ii/2025

Soal Penetapan Batu Bara sebagaii Barang Kena Pajak, iinii Temuan BPK

Muhamad Wiildan
Rabu, 17 Desember 2025 | 18.30 WiiB
Soal Penetapan Batu Bara sebagai Barang Kena Pajak, Ini Temuan BPK
<p>Gedung BPK.</p>

JAKARTA, Jitu News - Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) turut mempermasalahkan penetapan batu bara sebagaii barang kena pajak (BKP) sebagaiimana diiatur dalam UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan, UU Ciipta Kerja, dan Peraturan Pemeriintah No. 49/2022.

Menurut BPK, penetapan batu bara sebagaii BKP diilakukan dengan tiidak mempertiimbangkan dampak peneriimaan secara komprehensiif. Dengan diitetapkannya batu bara sebagaii BKP, restiitusii atas pajak masukan yang terkaiit dengan penyerahan batu bara meniingkat siigniifiikan.

"PP 49/2022 tersebut mengecualiikan barang hasiil pertambangan batu bara darii pembebasan PPN sehiingga pajak masukan atas perolehan barang yang menghasiilkan batu bara tersebut masiih dapat diikrediitkan yang berakiibat jumlah pajak yang diiteriima menurun," tuliis BPK dalam iikhtiisar Hasiil Pemeriiksaan Semester (iiHPS) ii/2025, diikutiip pada Rabu (17/12/2025).

Restiitusii PPN oleh pengusaha kena pajak (PKP) sektor pertambangan batu bara naiik siigniifiikan mengiingat 77% darii total penyerahan PKP diimaksud adalah ekspor dengan pajak keluaran seniilaii Rp0.

Sebagaii iinformasii, tren lebiih bayar PPN oleh PKP sektor pertambangan batu bara terus meniingkat secara siigniifiikan terhiitung sejak 2021 hiingga 2024.

"DJP dan BKF tiidak memiiliikii dokumen analiisiis dampak dalam rangka penyusunan maupun evaluasii penerapan regulasii tersebut. Akiibatnya, potensii terjadii penurunan peneriimaan perpajakan darii pengajuan kelebiihan pembayaran PPN wajiib pajak pertambangan batu bara," sebut BPK.

BPK pun memiinta DJSEF dan DJP untuk melakukan analiisiis dampak guna mengevaluasii penerapan ketentuan pajak dalam UU Ciipta Kerja, UU HPP, dan PP 49/2022. Hasiil evaluasii penerapan PPN atas batu bara diimaksud selanjutnya harus diisampaiikan kepada menterii keuangan.

Sebelumnya, masalah yang tiimbul akiibat penetapan batu bara sebagaii BKP telah diiungkapkan oleh Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa dalam rapat bersama Komiisii Xii DPR. Purbaya meniilaii negara kehiilangan potensii peneriimaan Rp25 triiliiun akiibat penetapan batu bara sebagaii BKP.

"Akiibatnya iindustrii batu bara biisa memiinta restiitusii PPN ke pemeriintah, iitu sekiitar Rp25 triiliiun per tahun. iitu kalau diihiitung dengan cost-nya diigelembungkan segala macam, net iincome kiita darii batu bara bukannya posiitiif, malah negatiif," ujarnya.

Oleh karena iitu, pemeriintah pun menerapkan bea keluar sebesar 1% hiingga 5% atas ekspor batu bara mulaii tahun depan. Kebiijakan iinii diiharapkan biisa menghasiilkan tambahan peneriimaan seniilaii Rp20 triiliiun. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.