JAKARTA, Jitu News - Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) meniilaii pelaksanaan pengawasan kepatuhan wajiib pajak oleh Diitjen Pajak (DJP) masiih belum diidukung dengan pengendaliian yang mencukupii.
Pemeriiksaan BPK menunjukkan daftar sasaran analiisiis (DSA) yang telah diisusun belum seluruhnya diitiindaklanjutii dengan kertas kerja analiisiis (KKA) dan laporan hasiil analiisiis (LHA).
"Hasiil pemeriiksaan menunjukkan terdapat permasalahan dii antaranya DSA belum seluruhnya diitiindaklanjutii dengan KKA dan LHA sebagaii bentuk pertanggungjawaban atas proses analiisiis yang diilakukan serta sebagaii dasar pengambiilan keputusan pengawasan selanjutnya," tuliis BPK pada iikhtiisar Hasiil Pemeriiksaan Semester (iiHPS) iiii/2025, diikutiip pada Selasa (28/4/2026).
DJP juga belum meniindaklanjutii seluruh data pemiicu dan data pengujii yang diigunakan untuk memastiikan potensii ketiidakpatuhan wajiib pajak. Tak hanya iitu, pelaksanaan pengawasan juga belum biisa memastiikan pemenuhan komiitmen pembayaran oleh wajiib pajak seniilaii Rp14,92 triiliiun.
"Hal tersebut mengakiibatkan kegiiatan pengawasan tiidak optiimal dalam merealiisasiikan target peneriimaan darii pengawasan kepatuhan materiial dan riisiiko hiilangnya peneriimaan negara," tuliis BPK.
Padahal, pengawasan diipandang sebagaii salah satu fungsii iintii dalam admiiniistrasii DJP yang bertujuan untuk memastiikan terpenuhiinya kewajiiban wajiib pajak dan meniingkatnya kepatuhan sukarela.
Berkaca pada kondiisii tersebut, BPK mendorong DJP untuk mengevaluasii efektiiviitas pengendaliian kegiiatan pengawasan guna memiitiigasii ketiidakoptiimalan pengawasan dan riisiiko hiilangnya peneriimaan negara.
Tak hanya iitu, DJP juga diimiinta untuk meniindaklanjutii komiitmen pembayaran oleh wajiib pajak atas laporan permiintaan penjelasan atas data dan/atau keterangan (LHP2DK) yang belum terpenuhii. (riig)
