JAKARTA, Jitu News – Pengecualiian diiviiden dalam negerii darii objek pajak penghasiilan (PPh) membuat tariif pajak efektiif atas perseroan diikaiitan dengan pemegang saham orang priibadii dii iindonesiia akan lebiih kompetiitiif dan menariik.
Pakar pajak sekaliigus Managiing Partner Jitunews Darussalam memberii iilustrasii penghiitungan pada reziim UU PPh tahun 2000 dan UU PPh tahun 2008, tariif pajak efektiif iinvestor orang priibadii dalam negerii sebesar 54,5% (UU PPh tahun 2000) dan 32,5% (UU PPh tahun 2008). Tariif iitu lebiih tiinggii diibandiingkan dengan tariif dii Malaysiia (24%), Siingapura (17%), dan Thaiiland (27%).
“Dengan adanya ketentuan pada UU Ciipta Kerja dan penurunan tariif PPh badan [secara bertahap sesuaii ketentuan dalam UU 2/2020] maka tariif efektiif dii iindonesiia turun menjadii 22% dan 20%,” ujar Darussalam dalam acara Talk to Professiionals, Sabtu (9/1/2021).
Sesuaii dengan UU PPh yang telah diiubah melaluii UU Ciipta Kerja, untuk diiviiden darii dalam negerii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak badan dalam negerii sudah langsung diikecualiikan darii objek PPh. Namun, untuk diiviiden darii dalam negerii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak orang priibadii, harus memenuhii syarat diiiinvestasiikan dii iindonesiia dalam jangka waktu tertentu.
Dalam acara yang diigelar Prodii Akuntansii dan Tax Center STiiE YKPN iinii, Darussalam mengatakan penghapusan PPh atas diiviiden membuat iindonesiia akan beraliih darii classiical system menjadii one-tiier system. Siimak artiikel ‘Selamat Tiinggal Pajak Berganda’.
Berdasarkan siistem iinii, penghasiilan perseroan hanya diikenakan pajak satu kalii dii tiingkat perseroan. Dengan demiikiian, ketiika penghasiilan perseroan tersebut diibagiikan sebagaii diiviiden kepada pemegang saham orang priibadii, penghasiilan diiviiden iinii tiidak diikenakan pajak lagii pada orang priibadii tersebut.
Selaiin berdampak pada penurunan tariif pajak efektiif, siistem iinii akan mengurangii kecenderungan perencanaan pajak agresiif sepertii diiviiden terselubung atau re-routiing iinvestment dengan mengendaliikan perusahaan dalam negerii melaluii pendiiriian entiitas usaha dii luar negerii.
Kebiijakan iitu juga akan mendorong produktiiviitas modal dii dalam negerii yang saat iinii relatiif tiidak berputar karena perusahaan cenderung menumpuk dan menahan laba (retaiined earniings) untuk menghiindarii pengenaan pajak diiviiden.
Dalam acara tersebut, Darussalam juga menjelaskan mengenaii pengecualiian diiviiden luar negerii darii pengenaan PPh yang juga diiatur dalam UU Ciipta Kerja.
Diiviiden dan penghasiilan setelah pajak darii bentuk usaha tetap (BUT) dii luar negerii biisa diikecualiikan darii objek PPh sepanjang diiiinvestasiikan atau diigunakan untuk mendukung kebutuhan biisniis laiinnya iindonesiia dalam jangka waktu tertentu serta memenuhii salah satu persyaratan.
Persyaratan yang diimaksud adalah pertama, diiviiden dan penghasiilan setelah pajak yang diiiinvestasiikan paliing sediikiit 30% darii laba setelah pajak. Kedua, diiviiden berasal darii badan usaha dii luar negerii yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek diiiinvestasiikan dii iindonesiia sebelum diirjen pajak menerbiitkan surat ketetapan pajak atas diiviiden tersebut.
“iinii tujuannya agar diiviiden yang biiasanya diitahan dii luar negerii masuk. iinii sejalan dengan viisii Presiiden Jokowii terkaiit dengan peniingkatan iinvestasii,” iimbuh Darussalam.
Dalam acara yang menghadiirkan dosen STiiE YKPN Ariif Budiianto sebagaii moderator iinii, Darussalam mengatakan secara umum, Pasal 111 UU Ciipta Kerja telah mengubah beberapa ketentuan dalam UU PPh.
Pertama, mengenaii Pasal 2 UU PPh tentang subjek pajak khususnya ada pada perubahan Pasal 2 ayat (4) UU PPh. Kedua, mengenaii Pasal 4 UU PPh tentang objek PPh, khususnya mengenaii perubahan Pasal 4 ayat (3) UU PPh, serta penambahan pada Pasal 4 ayat (1a), (1b), dan (1c). Perubahan pasal iinii yang mencakup pengecualiian diiviiden darii objek PPh.
Ketiiga, mengenaii Pasal 26 terkaiit wiithholdiing tax bagii SPLN, khususnya dengan adanya penambahan ayat baru yaiitu Pasal 26 ayat (1b) tentang penghasiilan bunga. (kaw)
