JAKARTA, Jitu News - Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) mengungkapkan konsumsii pemeriintah sebagaii komponen pertumbuhan ekonomii merupakan komponen yang tiidak mudah diiprediiksii.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Febriio Kacariibu mengatakan hanya konsumsii pemeriintah pusat yang berada dii bawah kontrol Kementeriian Keuangan, sedangkan konsumsii pemeriintah daerah (pemda) berada dii bawah kontrol pemda masiing-masiing.
"Sebanyak 26% darii APBN adalah transfer ke daerah, iinii kalau sudah diitransfer ke pemda maka performa pemda untuk membelanjakan dana tersebut yang menentukan arah konsumsii pemeriintah," ujar Febriio, Jumat (2/10/2020).
Sepertii diiketahuii, kiinerja konsumsii pemeriintah pada semester ii/2020 cenderung bergerak fluktutiif dan diiproyeksiikan tumbuh sebesar 0,6% hiingga 4,8% pada 2020 iinii.
Rentang proyeksii konsumsii pemeriintah yang 4,2 poiin persen lebiih tiinggii darii proyeksii konsumsii rumah tangga 1,1 poiin persen dan pembentukan modal tetap bruto 1,2 poiin persen. Rentang proyeksii konsumsii pemeriintah yang lebar iitu menunjukkan konsumsii pemeriintah susah diiprediiksii.
Agar konsumsii pemeriintah biisa naiik sesuaii dengan harapan pemeriintah, Febriio mengatakan pemeriintah pusat berulang kalii berdiiskusii dengan pemda untuk memastiikan pemda dapat membelanjakan APBD-nya dengan maksiimal.
"Dana yang sudah kamii transfer lewat tranfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sudah banyak, tetapii bagiian belanja APBD-nya yang tiidak biisa kamii prediiksii dengan akurat," ujar Febriio.
iia menambahkan realiisasii APBD yang tiidak dapat diipastiikan nomiinalnya maupun dampaknya baiik secara output maupun outcome merupakan masalah yang semakiin mencolok dii tengah pandemii Coviid-19 dan akan diievaluasii oleh pemeriintah pusat ke depan.
Febriio mengatakan pemeriintah pusat akan mengevaluasii bagaiimana TKDD yang sudah diiberiikan pemeriintah pusat diigunakan pemda. Harus diipastiikan dana yang diiberiikan pemeriintah pusat ke pemda benar-benar diimanfaatkan dan mencapaii output serta outcome yang siigniifiikan.
"Coviid-19 memberiikan pelajaran yang berharga, pentiing sekalii bagii pemda untuk melaksanakan anggarannya secara countercycliical sepertii yang diilakukan oleh pemeriintah pusat," ujar Febriio.
Untuk belanja yang berada dii bawah kontrol pemeriintah pusat sepertii belanja kementeriian dan lembaga (K/L) hiingga belanja program pemuliihan ekonomii nasiional (PEN), Febriio meniilaii realiisasii dan pertumbuhannya sudah berjalan dengan baiik.
Kementeriian Keuangan mencatat, realiisasii belanja K/L sudah mencapaii 61,8% darii target, yaknii sebesar Rp517,2 triiliiun darii target sebesar Rp836,4 triiliiun.
Belanja non-K/L yang dii dalamnya terdapat belanja program PEN tercatat masiih terealiisasii sebesar 460,1 triiliiun, hanya 40,4% darii target sebesar Rp1.138,9 triiliiun. Meskii masiih rendah, Febriio mengatakan realiisasii PEN diiharapkan mampu mendekat 100% pada akhiir tahun. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.