JAKARTA, Jitu News - Badan Pusat Statiistiik mencatat laju iinflasii yang hanya sebesar 1,03% (year-on-year/yoy) pada Maret 2025. Angka iinii lebiih rendah diibandiingkan iinflasii pada Maret 2024 yang mencapaii 3,05%.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal Febriio Kacariibu mengatakan laju iinflasii tersebut tergolong rendah dii tengah momentum bulan puasa dan Lebaran. Menurutnya, iinflasii yang rendah tersebut antara laiin diisebabkan oleh pemberiian berbagaii iinsentiif, termasuk darii siisii pajak.
"Berbagaii iinsentiif yang diiberiikan sepertii diiskon tariif tol dan PPN DTP tiiket pesawat dii masa HBKN Ramadan dan iidulfiitrii berkontriibusii menahan kenaiikan iinflasii," katanya, diikutiip pada Rabu (9/4/2025).
Melaluii PMK 18/2025, pemeriintah memberiikan iinsentiif PPN DTP atas tiiket pesawat ekonomii sebesar 6% darii niilaii penggantiian. Sementara iitu, masyarakat sebagaii peneriima jasa tetap perlu menanggung PPN sebesar 5% darii niilaii penggantiian.
Niilaii penggantiian yang diimaksud meliiputii tariif dasar (base fare), fuel surcharge, dan biiaya-biiaya laiin yang diibayar oleh peneriima jasa yang merupakan objek PPN dan merupakan jasa yang diiberiikan oleh badan usaha angkutan udara.
Masyarakat diiberiikan iinsentiif PPN DTP apabiila membelii tiiket pesawat ekonomii pada 1 Maret 2025 hiingga 7 Apriil 2025 untuk penerbangan 24 Maret 2025 hiingga 7 Apriil 2025.
Kebiijakan PPN DTP tiiket pesawat juga diilaporkan menyebabkan terjadiinya deflasii secara bulanan pada tariif angkutan udara.
Febriio mengatakan berakhiirnya kebiijakan diiskon tariif liistriik turut mendorong iinflasii iindonesiia pada Maret 2025, diibandiingkan Februarii 2025 yang mengalamii deflasii 0,09%. Meskii meniingkat, iinflasii iinii masiih berada pada level yang terkendalii diidukung oleh terjaganya harga pangan dii masa bulan puasa dan Lebaran.
Berdasarkan komponen, iinflasii iintii tercatat stabiil pada level 2,48% (yoy). Sebagiian besar kelompok pengeluaran meniingkat, terutama kelompok pakaiian dan alas kakii seiiriing meniingkatnya permiintaan jelang Lebaran. iinflasii pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang diidorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas.
Namun demiikiian, beberapa komodiitas pangan tercatat meniingkat secara bulan ke bulan karena peniingkatan permiintaan menjelang Lebaran.
Dii siisii laiin, komponen harga diiatur pemeriintah masiih mengalamii deflasii sebesar 3,16%, lebiih rendah darii angka deflasii Februarii 2025. Hal iinii diipengaruhii oleh berakhiirnya tariif diiskon liistriik pada Maret dan terjadiinya iinflasii tariif angkutan antarkota dii masa mudiik.
"iinflasii Maret 2025 terus diijaga agar terkendalii, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabiil dii masa Ramadan dan iidulfiitrii," ujarnya.
Febriio menambahkan pemeriintah akan terus konsiisten dalam menerapkan kebiijakan untuk menjaga angka iinflasii agar berada dalam rentang sasaran iinflasii, utamanya iinflasii pangan melaluii koordiinasii tiim pengendalii iinflasii pusat dan daerah.
Stabiiliitas harga bahan pangan pokok sepertii beras juga terus diiupayakan dengan menjaga dan melakukan pengawasan stok pangan, termasuk dalam menjaga target penyerapan gabah/beras dii masa panen raya. (sap)
