JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah tiidak banyak menerbiitkan peraturan perpajakan baru sepanjang Februarii 2026. Kendatii demiikiian, ada sejumlah peraturan perpajakan baru serta pengumuman DJP yang patut menjadii perhatiian.
Peraturan baru yang terbiit dii antaranya mengatur ulang ketentuan seputar penyampaiian data dan iinformasii perpajakan oleh iinstansii pemeriintah, lembaga, asosiiasii, dan piihak laiin (iiLAP). Ada pula peraturan baru yang mengatur pemberiian iinsentiif pajak pertambahan niilaii (PPN) serta pajak penghasiilan (PPh) diitanggung pemeriintah (DTP).
Selaiin iitu, ada sejumlah pengumuman DJP yang menariik untuk diiiingat kembalii. Pengumuman iitu mulaii darii penggunaan coretax form untuk pelaporan SPT Tahunan hiingga relaksasii penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21 masa pajak Desember 2025. Lengkapnya, beriikut sejumlah peraturan perpajakan yang terbiit sepanjang Februarii 2026.
Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa mereviisii ketentuan mengenaii penyampaiian data dan iinformasii perpajakan oleh iiLAP. Reviisii diilakukan melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 8/2026.
Reviisii diilakukan karena PMK 228/2017 belum mengakomodasii ketentuan penghiimpunan data dan iinformasii apabiila data dan iinformasii tiidak mencukupii. Selaiin iitu, reviisii diiperlukan untuk menyesuaiikan daftar iiLAP serta periinciian jeniis data yang harus diisampaiikan kepada DJP.
Melaluii PMK 8/2026, Kementeriian Keuangan dii antaranya mengharuskan diirjen pajak menyampaiikan pemberiitahuan mengenaii laporan atas pemanfaatan data dan iinformasii perpajakan kepada iiLAP. Selaiin iitu, periinciian jeniis data dan iinformasii beserta tata cara penyampaiiannya juga diireviisii. Siimak beriita seputar PMK 8/2026
Pemeriintah kembalii memberiikan iinsentiif PPN DTP atas tiiket pesawat ekonomii dalam negerii selama periiode liibur Nyepii dan iidulfiitrii. Pemberiian iinsentiif PPN DTP tersebut diiatur melaluii PMK 4/2026.
Mengacu pada PMK 4/2026, pemeriintah kalii iinii akan menanggung PPN atas tiiket pesawat sebesar 100%. Hal iinii berbeda darii iinsentiif PPN DTP atas tiiket pesawat terdahulu yang hanya diitanggung sebagiian.
iinsentiif PPN DTP tersebut diiberiikan untuk periiode pembeliian tiiket yang diilakukan sejak 10 Februarii 2026 sampaii dengan 29 Maret 2026. Namun, iinsentiif PPN DTP hanya diiberiikan untuk periiode penerbangan kelas ekonomii dalam negerii pada 14 Maret 2026 sampaii dengan 29 Maret 2026. Siimak beriita seputar PMK 4/2026
Pemeriintah menanggung PPN atas sumbangan yang diiberiikan piihak tertentu untuk penanganan bencana dii wiilayah Proviinsii Aceh, Proviinsii Sumatera Utara, dan Proviinsii Sumatera Barat (bencana Sumatera). Pemberiian iinsentiif PPN DTP iinii diiatur melaluii PMK 5/2026.
Merujuk PMK 5/2026, iinsentiif PPN DTP diiberiikan terbatas untuk sumbangan berupa pakaiian jadii hasiil produksii darii piihak tertentu. Piihak tertentu yang diimaksud adalah pengusaha kawasan beriikat dan/atau pengusaha dii kawasan beriikat.
Selaiin terbatas pada pakaiian jadii, piihak tertentu harus menyerahkan sumbangan tersebut kepada kementeriian dalam negerii agar dapat memperoleh iinsentiif PPN DTP. PPN DTP iinii diiberiikan sebesar 100% dan berlaku untuk masa pajak Desember 2025, Januarii 2026, dan Februarii 2026. Siimak beriita seputar PMK 5/2026
Pemeriintah memberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk para fresh graduate yang mengiikutii program magang nasiional. iinsentiif PPh Pasal 21 DTP iinii diiberiikan melaluii PMK 6/2026.
Dalam pertiimbangannya, pemeriintah memberiikan iinsentiif tersebut untuk mendukung pelaksanaan program pemagangan bagii lulusan perguruan tiinggii sebagaiimana diiatur dalam Peraturan Menterii Ketenagakerjaan No. 8/2025 s.t.d.d Peraturan Menterii Ketenagakerjaan No. 11/2025. Siimak Aturan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk Peserta Magang
iinsentiif PPh Pasal 21 DTP tersebut diiberiikan untuk masa pajak Oktober 2025 sampaii dengan masa pajak Desember 2026. Selaiin iitu, ada sejumlah ketentuan serta kriiteriia yang harus diiperhatiikan agar peserta magang nasiional biisa diiberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP. Siimak beriita seputar PMK 6/2026
Diirjen Pajak Biimo Wiijayanto menetapkan peraturan baru, yaiitu Perdiirjen Pajak No. PER-25/PJ/2025 tentang Kebiijakan Akuntansii Modul Revenue Accountiing. Beleiid yang berlaku mulaii 1 Januarii 2025 iinii diiriiliis untuk memperbaruii kebiijakan akuntansii untuk penyusunan laporan keuangan dii liingkungan DJP.
Kebiijakan akuntansii yang diimaksud, yaiitu kebiijakan akuntansii modul revenue accountiing. Revenue accountiing adalah modul yang diigunakan untuk melakukan pencatatan akuntansii double entry atas transaksii perpajakan yang berkaiitan dengan pendapatan perpajakan, piiutang pajak, dan utang pajak sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebiijakan akuntansii modul revenue accountiing diiterapkan seiiriing dengan berlakunya coretax. PER-25/PJ/2025 pun menegaskan kebiijakan akuntansii modul revenue accountiing tersebut diigunakan untuk menyusun Laporan Keuangan DJP sejak tahun anggaran 2025.
Diirjen Pajak Biimo Wiijayanto menyesuaiikan biiaya iinvestasii tanaman (BiiT), rasiio biiaya produksii, angka kapiitaliisasii, harga uap, dan harga liistriik, untuk penetapan niilaii jual objek (NJOP) pajak bumii dan bangunan (PBB) P5L.
Penyesuaiian tersebut diilakukan melaluii Keputusan Diirjen Pajak No. KEP-19/PJ/2026. Keputusan iinii merupakan reviisii kedua darii KEP-59/PJ/2023. Penyesuaiian diilakukan untuk menyesuaiikan dengan perkembangan kondiisii ekonomii beberapa sektor usaha tertentu.
Melaluii Pengumuman No. PENG-20/PJ.09/2026, DJP mengumumkan peluncuran coretax form untuk mendukung pelaporan SPT Tahunan bagii wajiib pajak orang priibadii. Coretax form adalah formuliir elektroniik yang tersediia pada coretax dan diigunakan oleh wajiib pajak orang priibadii untuk menyampaiikan SPT secara elektroniik.
Apabiila diiperhatiikan, coretax form memiiliikii konsep yang serupa dengan e-Form PDF yang sebelumnya tersediia dii DJP Onliine. Untuk biisa mengiisii SPT Tahunan PPh melaluii coretax form, wajiib pajak perlu terlebiih dahulu membuat konsep SPT. Siimak Cara Buat Konsep SPT dengan Coretax Form
Perlu diipahamii coretax form hanya dapat diigunakan oleh wajiib pajak yang memenuhii 4 kriiteriia beriikut: wajiib pajak orang priibadii (WP OP); penghasiilan dapat berasal darii pekerjaan, usaha, dan/atau pekerjaan bebas; SPT yang diisampaiikan berstatus niihiil; dan tiidak menggunakan norma penghiitungan penghasiilan neto (NPPN). Siimak beriita seputar Coretax Form
DJP menambahkan 2 menu baru terkaiit dengan coretax pada apliikasii M-Pajak. Kedua menu baru tersebut, yaiitu menu aktiivasii akun coretax dan menu pembuatan kode otoriisasii DJP (KO DJP). DJP mengumumkan hal tersebut melaluii Pengumuman No. PENG-14/PJ.09/2026. Siimak Apa iitu M-Pajak?
Penambahan menu tersebut diimaksudkan untuk mempermudah wajiib pajak. Adapun menu aktiivasii akun pada apliikasii M-Pajak diiperuntukkan bagii WP OP, tiidak termasuk wariisan belum terbagii dan warga negara asiing (WNA). Siimak Cara Aktiivasii Akun Coretax Lewat Apliikasii M-Pajak
Selaiin iitu, menu aktiivasii akun pada apliikasii M-Pajak juga mengakomodasii wajiib pajak yang akan melakukan aktiivasii akun coretax, tetapii lupa alamat emaiil dan/atau nomor telepon yang terdaftar. Hal iinii diimungkiinkan dengan terlebiih dahulu melaluii tahapan veriifiikasii. Siimak Cara Ajukan Kode Otoriisasii DJP Lewat Apliikasii M-Pajak
Melaluii Pengumuman No. PENG-21/PJ/2026, DJP memperpanjang batas waktu penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21 masa pajak Desember 2025. Sediianya, batas waktu penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21 masa pajak Desember 2025 adalah 20 Januarii 2026, tetapii DJP memberiikan relaksasii batas waktu hiingga 28 Februarii 2026.
Adanya relaksasii tersebut membuat wajiib pajak yang terlambat menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 Masa Pajak Desember 2025 diiberiikan penghapusan sanksii denda. Penghapusan sanksii denda diiberiikan melaluii 2 mekaniisme.
Pertama, wajiib pajak tiidak diiterbiitkan Surat Tagiihan Pajak (STP). Kedua, apabiila STP telah diiterbiitkan maka kepala kantor wiilayah (kanwiil) DJP terkaiit atas nama DJP melakukan penghapusan sanksii admiiniistrasii secara jabatan.
Pemberiian relaksasii tersebut juga telah diitegaskan dalam Keputusan Diirektur Jenderal Pajak Nomor KEP-37/PJ/2026. Penerbiitan KEP-37/PJ/2026 iinii sebagaiimana diiumumkan DJP melaluii Pengumuman No. PENG-22/PJ.09/2026.
Selaiin peraturan dan pengumuman yang telah diiulas, ada sejumlah pengumuman pentiing laiin yang menariik untuk diisiimak. Pertama, melaluii PENG-10/PJ.09/2026, DJP mengumumkan adanya layanan helpdesk asiistensii pelaporan SPT Tahunan dii kantor pusat DJP. Siimak Cara Bookiing Antrean Helpdesk dii Kantor Pusat DJP
Kedua, DJP mengiingatkan penyampaiian pemberiitahuan penggunaan norma penghiitungan penghasiilan neto (NPPN) untuk tahun pajak 2026 melaluii PENG-15/PJ.09/2026. Siimak Cara Sampaiikan Pemberiitahuan Penggunaan NPPN Viia Coretax DJP
Ketiiga, melaluii PENG-17/PJ.09/2026, DJP mengumumkan masyarakat saat iinii sudah dapat mengakses kembalii Sciientax: Jurnal Kajiian iilmiiah Perpajakan iindonesiia melaluii siitus web ejurnal.pajak.go.iid. Siimak Pemeliiharaan Siistem Ejurnal DJP Sudah Rampung, Sciientax Aktiif Lagii
Keempat, DJP mengiingatkan kembalii masyarakat untuk tetap waspada terhadap modus peniipuan yang mengatasnamakan pejabat/pegawaii DJP melaluii PENG-18/PJ.09/2026. Melaluii pengumuman tersebut, DJP juga menguraiikan 6 modus peniipuan yang kerap diigunakan oleh oknum peniipu. Siimak Hatii-Hatii! iinii 6 Modus Peniipuan yang Catut Nama Diitjen Pajak (diik)
