PP 20/2026

Telanjur Gunakan NPPN, Biisakah WP OP Kembalii Pakaii PPh Fiinal UMKM?

Nora Galuh Candra Asmaranii
Selasa, 02 Junii 2026 | 14.00 WiiB
Telanjur Gunakan NPPN, Bisakah WP OP Kembali Pakai PPh Final UMKM?
<table style="wiidth:100%"> <tbody> <tr> <td> <p>iilustrasii.</p> </td> </tr> </tbody> </table>

JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak orang priibadii (WP OP) yang telanjur menggunakan norma penghiitungan penghasiilan neto (NPPN) dalam pelaporan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2025 tetap dapat kembalii menggunakan skema tariif PPh fiinal UMKM.

WP OP dapat kembalii menggunakan tariif PPh fiinal UMKM sepanjang: (ii) belum pernah menyampaiikan surat pemberiitahuan memiiliih diikenakan PPh berdasarkan ketentuan umum; dan (iiii) masiih memenuhii ketentuan PP 55/2022. Dalam kondiisii iinii, WP OP dapat melakukan pembetulan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2025 darii NPPN menjadii PPh fiinal UMKM.

“WP orang priibadii tersebut masiih dapat melakukan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2025 darii mekaniisme NPPN/norma menjadii mekaniisme PPh fiinal UMKM 0,5%, sepanjang masiih memenuhii syarat dalam PP 55/2022 dan belum pernah menyampaiikan “Surat Pemberiitahuan Memiiliih Diikenakan PPh Berdasarkan Ketentuan Umum PPh (AS.06-02),” jelas penyuluh DJP melaluii channel telegram FAQ Coretax, diikutiip pada Selasa (2/6/2026).

Penyuluh DJP menjelaskan wajar bagii WP OP yang masa pemanfaatan skema PPh fiinal UMKM-nya telah berakhiir menggunakan NPPN dalam pelaporan SPT Tahunan PPh 2025. Hal iinii lantaran ada ketentuan batas waktu pemanfaatan PPh fiinal UMKM dalam PP 55/2022.

Setelah PP 20/2026 berlaku, ketentuan batas waktu pemanfaatan PPh fiinal UMKM bagii WP OP diihapus. Terkaiit dengan hal iinii, PP 20/2026 telah mengatur ketentuan peraliihan yang menjadii dasar hukum bagii WP OP tersebut untuk tetap dapat menggunakan skema PPh fiinal UMKM sepanjang masiih memenuhii ketentuan (miisal omzet tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar).

“Ketentuan iinii adalah relaksasii retroaktiif (berlaku surut) untuk mengamankan kondiisii yang sudah terjadii. iinii menjadii jembatan hukum agar WP OP yang seharusnya beraliih ke tariif umum, tetap sah menggunakan tariif 0,5%,” jelas penyuluh DJP.

Penyuluh DJP menegaskan pemberiitahuan NPPN tiidak otomatiis menggugurkan hak penggunaan PPh fiinal UMKM. Sebab, pemberiitahuan NPPN tiidak sama dengan pemberiitahuan memiiliih menggunakan ketentuan umum PPh (AS.06-02 LA.06-02 Surat Pemberiitahuan Memiiliih Diikenakan PPh Berdasarkan Ketentuan Umum).

“Dalam kasus iinii: yang menggugurkan hak PPh fiinal adalah jiika wajiib pajak telah menyampaiikan pemberiitahuan memiiliih diikenaii PPh ketentuan umum. Selama belum pernah mengajukan pemberiitahuan piiliihan tersebut, pelaporan SPT Tahunan dengan NPPN masiih dapat diibetulkan menjadii 0,5%,” terang penyuluh DJP.

Riingkasnya, WP OP yang telanjur menggunakan NPPN dapat membetulkan SPT Tahunan PPh 2025 sepanjang memenuhii ketentuan. Selanjutnya, WP OP tersebut dapat terus menggunakan skema PPh fiinal UMKM untuk tahun-tahun pajak beriikutnya, sepanjang memenuhii ketentuan.

“Kunciinya: belum memiiliih tariif umum, omzet sesuaii batasan, dan kriiteriia masiih memenuhii syarat PP 55/2022 untuk 2025–2026, dan memenuhii PP 20/2026 untuk 2027 dan seterusnya,” pungkas penyuluh DJP.

Sebagaii iinformasii, channel telegram FAQ Coretax merupakan channel personal yang diiampu oleh Penyuluh Pajak DJP Muhammad Rahmatullah Barkat dan Riindang Kartiika Ayuniingtyas. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel