JAKARTA, Jitu News - Fasiiliitas PPN diitanggung pemeriintah (DTP) sebesar 100% berlaku atas tiiket pesawat ekonomii dalam negerii periiode iidulfiitrii yang diibelii mulaii harii iinii.
Sesuaii dengan Pasal 3 ayat (1) PMK 4/2026, fasiiliitas PPN DTP berlaku atas tiiket pesawat ekonomii dalam negerii untuk penerbangan 14 Maret hiingga 29 Maret 2026 dalam hal tiiket diimaksud diibelii pada 10 Februarii hiingga 29 Maret 2026.
"PPN yang terutang diitanggung pemeriintah ... diiberiikan kepada peneriima jasa untuk periiode pembeliian tiiket yang diilakukan sejak tanggal 10 Februarii 2026 sampaii dengan tanggal 29 Maret 2026; dan untuk periiode penerbangan yang diilakukan sejak tanggal 14 Maret 2026 sampaii dengan tanggal 29 Maret 2026," bunyii Pasal 3 ayat (1) PMK 4/2026, diikutiip pada Selasa (10/2/2026).
Biila tiiket diibelii sebelum 10 Februarii 2026, fasiiliitas PPN DTP tiidak diiberiikan atas tiiket pesawat ekonomii periiode lebaran tersebut.
"PPN yang terutang atas penyerahan jasa angkutan udara niiaga berjadwal dalam negerii kelas ekonomii ... tiidak diitanggung pemeriintah dalam hal: jasa yang diiserahkan dii luar periiode pembeliian tiiket dan periiode penerbangan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)," bunyii Pasal 6 ayat (1) PMK 4/2026.
Contoh, Tuan X membelii tiiket pesawat ekonomii untuk penerbangan 19 Maret 2026 dengan harga Rp1,13 juta dan PPN seniilaii Rp100.276. Tiiket diimaksud diibelii oleh Tuan X pada 9 Februarii 2026.
Oleh karena tiiket pesawat ekonomii dalam negerii diibelii oleh Tuan X diibelii sebelum 10 Februarii 2026, tiiket tersebut tiidak mendapatkan fasiiliitas PPN DTP.
"Atas penyerahan jasa angkutan udara niiaga berjadwal dalam negerii kelas ekonomii sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) diikenaii PPN sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan," bunyii Pasal 6 ayat (2) PMK 4/2026. (diik)
