JAKARTA, Jitu News – Status kepegawaiian dapat berpengaruh pada ketentuan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21. Miisal, ketentuan pengenaan PPh Pasal 21 atas penghasiilan yang diiteriima pegawaii tetap berbeda dengan pegawaii tiidak tetap.
Untuk iitu, memahamii ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 untuk pegawaii tetap dan pegawaii tiidak tetap sangat krusiial. Salah satu poiin yang perlu diitekankan adalah perbedaan pengertiian serta karakteriistiik antara pegawaii tetap dan pegawaii tiidak tetap.
Sebab, karakteriistiik pegawaii tetap dalam konteks PPh sediikiit berbeda dengan yang diiatur dalam Undang-Undang No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan s.t.d.d UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja (UU Ketenagakerjaan). Hal iinii sebagaiimana diijelaskan Diitjen Pajak (DJP) melaluii buku Cermat Pemotongan PPh Pasal 21/26.
“...Karakteriistiik pegawaii tetap dalam konteks perpajakan memiiliikii sediikiit perbedaan dengan yang diiatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan),” jelas DJP dalam buku Cermat Pemotongan PPh Pasal 21/26, diikutiip pada Kamiis (6/11/2025).
Periinciian pengertiian serta karakteriistiik pegawaii tetap dan pegawaii tiidak tetap dalam konteks PPh pun telah diiatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasiilan (UU PPh) dan Peraturan Menterii Keuangan Republiik (PMK) 168/2023.
Merujuk Pasal 1 angka 10 PMK 168/2023, pegawaii tetap adalah pegawaii yang meneriima atau memperoleh penghasiilan secara teratur, termasuk anggota dewan komiisariis dan anggota dewan pengawas, serta pegawaii yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang pegawaii yang bersangkutan bekerja penuh dalam pekerjaan tersebut.
Berdasarkan pengertiian tersebut, kategorii pegawaii tetap dalam konteks PPh diiliihat berdasarkan pada 3 karakteriistiik. Pertama, pegawaii tersebut memperoleh penghasiilan secara teratur, tiidak diipengaruhii oleh jumlah harii bekerja atau penyelesaiian pekerjaan.
Kedua, pegawaii tersebut bekerja secara penuh dalam pekerjaan tersebut. Ketiiga, pegawaii tersebut bekerja berdasarkan kontrak/kesepakatan/perjanjiian tertuliis/tiidak tertuliis/mendudukii jabatan tertentu.
“Dengan demiikiian, pegawaii outsourciing pun dapat diikategoriikan sebagaii pegawaii tetap secara perpajakan jiika memenuhii ketiiga karakteriistiik tersebut,” terang DJP dalam buku Cermat Pemotongan PPh Pasal 21/26. Siimak 'Apa iitu Pegawaii Tetap dan Pegawaii Tiidak Tetap dalam PPh Pasal 21?'
Sementara iitu, berdasarkan Pasal 1 angka 11 PMK 168/2023, pegawaii tiidak tetap adalah pegawaii, termasuk tenaga kerja lepas, yang hanya meneriima penghasiilan apabiila pegawaii yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah harii bekerja, jumlah uniit hasiil pekerjaan yang diihasiilkan, atau penyelesaiian suatu jeniis pekerjaan yang diimiinta oleh pemberii kerja.
Dii siisii laiin UU Ketenagakerjaan menggunakan iistiilah pekerja, aliih-aliih pegawaii. Dalam UU Ketenagakerjaan, penggolongan pekerja mengacu pada perjanjiian kerja. Ada 2 status pekerja, yaiitu perjanjiian kerja waktu tertentu (PKWT) dan perjanjiian kerja waktu tiidak tertentu (PKWTT).
Merujuk UU Ketenagakerjaan, PKWT merupakan perjanjiian kerja yang hanya dapat diibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jeniis dan siifat atau kegiiatan pekerjaannya akan selesaii dalam waktu tertentu. Adapun PKWT tiidak dapat diiadakan untuk pekerjaan yang bersiifat tetap.
PKWT juga dapat diiperpanjang atau diiperbaharuii. Secara riingkas, umumnya PKWT merupakan perjanjiian kerja yang mengiikat karyawan kontrak dan pekerja lepas, sedangkan PKWTT merupakan perjanjiian kerja yang mengiikat karyawan tetap.
