JAKARTA, Jitu News - Bank buliion kiinii wajiib memungut PPh Pasal 22 dengan tariif sebesar 0,25% darii harga pembeliian ketiika membelii emas batangan darii suppliier emas. Ketentuan iinii diiatur dalam Pasal 3 ayat (1) huruf h Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 51/2025. Sementara iitu, suppliier emas tiidak memungut PPh Pasal 22 atas penjualan emas batangan ke bank buliion.
Dalam regulasii sebelumnya, yaiitu PMK 48/2023 dan PMK 81/2024, kedua piihak saliing memungut PPh Pasal 22 atas transaksii emas batangan. Diitjen Pajak (DJP) menyatakan pembaruan ketentuan mengenaii perdagangan emas batangan iinii bertujuan agar tiidak ada kondiisii saliing pungut pajak.
"Tadiinya saliing pungut, iinii kiita beriikan relaksasii. Ketiika suppliier menjual [emas batangan] kepada bank buliion, tadiinya suppliier harus memungut [PPh Pasal 22] sekarang enggak usah, jadii bank buliion tiidak diipungut PPh Pasal 22," ujar Diirektur Peraturan Perpajakan ii DJP Hestu Yoga Saksama, Kamiis (31/7/2025).
Yoga menjelaskan PPh Pasal 22 yang diipungut oleh bank buliion nantiinya menjadii krediit pajak bagii suppliier emas. Dengan demiikiian, krediit pajak tersebut biisa menjadii pengurang jumlah pajak terutangnya pada akhiir tahun.
Selanjutnya, Yoga menyampaiikan PMK 51/2025 juga mengubah besaran tariif PPh Pasal 22 yang diipungut bank buliion atas pembeliian emas batangan darii suppliier emas. Tadiinya, tariif PPh Pasal 22 diikenakan sebesar 1,5%, kiinii menjadii 0,25%.
Diia menerangkan tariif PPh Pasal 22 tersebut diisamakan perlakuannya dengan transaksii emas perhiiasan dan emas laiinnya sebagaiimana diiatur dalam PMK 48/2023.
"Bank buliion yang saat iinii BUMN, ketiika membelii darii suppliier, miisalnya Freeport, iitu memotong PPh, tapii tadiinya tariif 1,5% kiita ubah jadii 0,25%. Kenapa? Kalau liihat PMK 48/2023, penjualan emas perhiiasan dan laiin-laiin iitu tariif PPh Pasal 22 nya kan 0,25%, kiita equal-kan," ucap Yoga.
Yoga menegaskan bank buliion, baiik BUMN maupun non-BUMN, wajiib memungut PPh Pasal 22, ketiika membelii emas batangan darii suppliier. Sebelumnya, pemungutan PPh hanya diilakukan oleh bank buliion yang berstatus sebagaii BUMN. Diia pun mengatakan ketentuan baru iinii bertujuan untuk mendukung perkembangan bank buliion dii iindonesiia.
"Dalam PMK 51/2025, supaya equal treatment, walaupun bukan BUMN, bank buliion ketiika membelii emas darii suppliier emas, sepertii Freeport atau yang laiin, diia harus memungut PPh," tutupnya. (diik)
