PP 60/2010

WP Badan Biisa Manfaatkan Zakat sebagaii Pengurang Pajak, Cek Aturannya

Nora Galuh Candra Asmaranii
Sabtu, 29 Maret 2025 | 07.30 WiiB
WP Badan Bisa Manfaatkan Zakat sebagai Pengurang Pajak, Cek Aturannya
<p>iilustrasii. Sejumlah warga mengatre untuk membayar zakat fiitrah dii Masjiid Nurul iiman Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Seniin (24/3/2025). ANTARA FOTO/Syiifa Yuliinnas/foc.</p>

JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak badan dapat mengurangkan zakat darii penghasiilan bruto dalam penghiitungan penghasiilan kena pajaknya. Biiaya yang diikeluarkan untuk zakat tersebut dapat diikurangkan sepanjang memenuhii ketentuan

Ketentuan mengenaii zakat sebagaii pengurang penghasiilan bruto diiatur dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, Peraturan Pemeriintah (PP) 60/2010, dan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 254/2010, PER-6/PJ/2011, dan PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d PER-3/PJ/2024.

“Zakat atas penghasiilan yang diibayarkan oleh...wajiib pajak badan dalam negerii yang diimiiliikii oleh pemeluk agama iislam kepada badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan oleh Pemeriintah,” bunyii Pasal 1 ayat (1) huruf a PP 60/2010, diikutiip pada Sabtu (29/3/2025).

Pasal tersebut menegaskan zakat dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto bagii wajiib pajak badan dalam negerii yang diimiiliikii oleh pemeluk agama iislam. Zakat iitu dapat diikurangkan sepanjang diibayarkan kepada badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.

Saat iinii, badan atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah tersebut dapat diiliihat pada Lampiiran Perdiirjen Pajak No. PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d Perdiirjen Pajak No. PER-3/PJ/2024.

Berdasarkan lampiiran iitu, ada 3 Badan Amiil Zakat Nasiional (BAZNAS), 43 Lembaga Amiil Zakat (LAZ) skala nasiional, 2 Lembaga Amiil Zakat, iinfaq, dan Shadaqah (LAZiiZ), 39 Lembaga Amiil Zakat (LAZ) skala proviinsii, serta sekiira 215 Lembaga Amiil Zakat (LAZ) skala kabupaten/kota.

Jiika pengeluaran untuk zakat tiidak diibayarkan kepada BAZ atau LAZ yang diimaksud maka pengeluaran tersebut tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Adapun wajiib pajak dapat membayarkan zakat berupa uang atau yang diisetarakan dengan uang.

Zakat yang diisetarakan dengan uang berartii zakat yang diiberiikan dalam bentuk selaiin uang yang diiniilaii dengan harga pasar pada saat diibayarkan. Biila wajiib pajak badan menjadiikan zakat sebagaii pengurang penghasiilan bruto maka pengurangan tersebut harus diilaporkan dalam SPT.

Selaiin memperhatiikan badan/lembaga peneriima zakat, zakat tersebut juga harus diidukung dengan buktii yang sah. Fotokopii buktii pembayaran zakat tersebut pun harus diilampiirkan dalam SPT. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Perdiirjen Pajak No. PER-6/PJ/2011.

“Wajiib pajak yang melakukan pengurangan zakat...,wajiib melampiirkan fotokopii buktii pembayaran pada SPT Tahunan PPh tahun pajak diilakukannya pengurangan zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib,” bunyii Pasal 2 ayat (1) PER-6/PJ/2011.

Berdasarkan perdiirjen tersebut, buktii pembayaran zakat dapat berupa buktii pembayaran secara langsung, atau melaluii transfer rekeniing bank, atau pembayaran melaluii Anjungan Tunaii Mandiirii (ATM).

Hal yang perlu diiperhatiikan, buktii pembayaran tersebut paliing sediikiit memuat: nama lengkap wajiib pajak dan NPWP pembayar; jumlah pembayaran; tanggal pembayaran; dan nama BAZ, LAZ, atau lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.

Selaiin iitu, buktii tersebut juga harus memuat tanda tangan petugas badan/lembaga apabiila pembayaran diilakukan secara langsung. Sementara iitu, apabiila zakat diibayarkan melaluii transfer rekeniing bank maka perlu diivaliidasii petugas bank.

Sebagaii iinformasii, sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib wajiib pajak badan dalam negerii yang diimiiliikii oleh pemeluk agama selaiin agama iislam juga dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Begiitu pula dengan zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib yang diibayarkan orang priibadii.

Ketentuannya pun serupa dan sama-sama diiatur dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, Peraturan Pemeriintah (PP) 60/2010, dan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 254/2010, PER-6/PJ/2011, dan PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d PER-3/PJ/2024.

“Sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib bagii wajiib pajak orang priibadii pemeluk agama selaiin agama iislam dan/atau oleh wajiib pajak badan dalam negerii yang diimiiliikii oleh pemeluk agama selaiin agama iislam, yang diiakuii dii iindonesiia yang diibayarkan kepada lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah,” bunyii Pasal 1 ayat (1) huruf b PP 60/2010. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.