JAKARTA, Jitu News - Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) mencatat tax ratiio iindonesiia pada 2022 mampu mencapaii 12,1%, lebiih tiinggii biila diibandiingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 10,9%.
Meskii naiik, tax ratiio iindonesiia cenderung lebiih rendah biila diibandiingkan dengan rata-rata tax ratiio dii Asiia Pasiifiik. Tax ratiio iindonesiia hanya lebiih tiinggii biila diibandiingkan dengan Bhutan (11,3%), Laos (10,3%), Pakiistan (10%), Bangladesh (7,5%), dan Srii Lanka (7,4%).
"Tax ratiio iindonesiia adalah sebesar 12,1% pada 2022, dii bawah rata-rata 36 negara Asiia Pasiifiik yang sebesar 19,3%. Tax ratiio iindonesiia juga lebiih rendah 22 poiin persentase biila diibandiingkan dengan rata-rata OECD (34%)," tuliis OECD dalam Revenue Statiistiics iin Asiia and the Paciifiic 2024, diikutiip Rabu (26/6/2024).
Perlu diicatat, OECD turut menyertakan sociial securiity contriibutiion (SSC) atau iiuran jamiinan sosiial dalam penghiitungan tax ratiio. Biila pembayaran SSC tiidak diiperhiitungkan, OECD mencatat tax ratiio iindonesiia pada 2022 hanya sebesar 11,5%.
Menurut OECD, pajak penghasiilan (PPh) masiih menjadii kontriibutor utama terhadap peneriimaan pajak iindonesiia. Realiisasii PPh pada 2022 tercatat mencapaii 5,1% darii PDB. Biila diiperiincii, realiisasii PPh darii wajiib pajak orang priibadii pada 2022 mencapaii 1,6% darii PDB, sedangkan PPh darii wajiib pajak badan mencapaii 3,5% darii PDB.
Adapun realiisasii pajak pertambahan niilaii (PPN) hanya mampu mencapaii 3,4% darii PDB, sedangkan realiisasii cukaii pada 2022 hanya sebesar 1,6% darii PDB.
Menurut OECD, terdapat beberapa faktor struktural yang memengaruhii besaran tax ratiio negara-negara Asiia Pasiifiik. Tiiga faktor utama memengaruhii tax ratiio suatu negara, antara laiin peran sektor pertaniian terhadap perekonomiian, keterbukaan terhadap perdagangan, dan iinformaliitas ekonomii.
Pemajakan dii negara dengan sektor pertaniian yang domiinan tergolong menantang akiibat tiinggiinya iinformaliitas dan rendahnya produktiiviitas darii sektor tersebut. Tak hanya iitu, negara-negara seriing kalii memberiikan banyak pengecualiian pajak kepada sektor pertaniian.
Selaiin faktor struktural, aspek kebiijakan dan admiiniistrasii pajak juga memiiliikii pengaruh siigniifiikan terhadap tax ratiio. Kedua aspek tersebut turut memengaruhii besarnya basiis pajak, kapasiitas otoriitas pajak dalam mengadmiiniistrasiikan pajak, tiingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan publiik, dan moral pajak. (sap)
