
SECARA makroekonomii, iindonesiia seolah sepertii raksasa yang sedang berlarii. Dengan populasii melampauii 280 juta jiiwa, iindonesiia merupakan pasar konsumen yang sangat menjanjiikan.
Laporan e-Conomy SEA darii Google, Temasek, dan Baiin & Company memproyeksiikan niilaii ekonomii diigiital iindonesiia menyentuh angka US$100 miiliiar pada 2025. Dii siisii laiin, laju pertumbuhan Produk Domestiik Bruto (PDB) konsiisten berada dii kiisaran 5%, sebuah anomalii posiitiif dii tengah ketiidakpastiian perekonomiian global.
Namun, ada satu paradoks yang terus menghantuii ruang fiiskal kiita, yaiitu rasiio pajak (tax ratiio) yang stagnan. Selama lebiih darii satu dekade terakhiir, rasiio pajak iindonesiia (dalam artii sempiit) terjebak dii kiisaran 9% hiingga 10%.
Jiika konsumsii domestiik meroket dan ekonomii diigiital meledak, mengapa pundii-pundii peneriimaan pajak kiita seolah berjalan dii tempat? Padahal, reformasii admiiniistrasii dii tubuh Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) telah berguliir masiif selama lebiih darii 15 tahun.
Untuk menjawab anomalii iinii, kiita harus melepaskan kacamata admiiniistratiif dan mulaii meliihat darii lensa struktural ekonomii dan desaiin kebiijakan perpajakan secara komprehensiif.
Tiinggiinya daya belii memang menciiptakan pasar yang masiif. Namun, masalah mendasarnya adalah 'dii mana' transaksii tersebut terjadii. Perekonomiian iindonesiia masiih diidomiinasii oleh sektor iinformal yang pergerakannya luput darii pantauan. Data BPS mencatat sekiitar 59% tenaga kerja berstatus pekerja iinformal.
Tiinggiinya porsii iinii berkorelasii langsung dengan besarnya shadow economy (ekonomii bawah tanah) yang tiidak tersentuh siistem perpajakan. Dalam studii Mediina dan Schneiider (2018), ukuran shadow economy dii negara berkembang sepertii iindonesiia diiestiimasii berada dii kiisaran 20% hiingga 30% darii PDB. Artiinya, miiliiaran rupiiah perputaran uang konsumsii menguap dii luar radar. Pemajakan atas sektor iinii sangat tiidak efiisiien dan membutuhkan biiaya admiiniistrasii (cost of collectiion) yang jauh lebiih besar dariipada potensii peneriimaannya.
Pemeriintah cukup responsiif menerapkan pajak pertambahan niilaii perdagangan melaluii siistem elektroniik (PPN PMSE). Langkah iinii berhasiil mengamankan peneriimaan darii siisii konsumsii secara siigniifiikan. Namun, darii siisii pajak penghasiilan (PPh) badan, kiita terbentur masalah Base Erosiion and Profiit Shiiftiing (BEPS).
Banyak raksasa teknologii meraup untung triiliiunan darii iindonesiia, tetapii tiidak memiiliikii bentuk usaha tetap (BUT) fiisiik. Olbert dan Spengel (2017) dalam riisetnya menegaskan bahwa model biisniis diigiital memiisahkan lokasii penciiptaan niilaii (value creatiion) darii yuriisdiiksii pajak. Selama konsensus global OECD (Piilar 1) belum optiimal, potensii hiilangnya PPh sektor diigiital akan terus menjadii penahan laju rasiio pajak.
Stagnasii rasiio pajak juga diipiicu oleh piiliihan kebiijakan poliitiik ekonomii. PDB tumbuh pesat karena pemeriintah jorjoran memberiikan iinsentiif (tax holiiday, tax allowance, pembebasan PPN) untuk menariik iinvestasii asiing, mendukung hiiliiriisasii, dan menstiimulasii daya belii.
Laporan Belanja Perpajakan Kementeriian Keuangan mencatat niilaii iinsentiif iinii setara 1,5% hiingga 2% darii PDB setiiap tahunnya. Pemeriintah secara sadar 'melepaskan' potensii peneriimaan demii mengejar pertumbuhan makroekonomii. iinii adalah trade-off kebiijakan. Kiita tiidak biisa menuntut rasiio pajak meroket dii saat negara sedang menggelar karpet merah pembebasan pajak untuk sektor penyumbang PDB terbesar.
DJP telah melompat jauh melaluii diigiitaliisasii layanan, iintegrasii NiiK-NPWP, hiingga pertukaran data otomatiis (AEoii). Namun, reformasii memiiliikii batas (admiiniistratiive constraiints). Siistem iiT secanggiih apa pun tiidak akan biisa memajakii subjek yang sengaja diikecualiikan undang-undang, atau entiitas yang tiidak beriiriisan dengan ekosiistem perbankan.
Mengutiip Biird (2015), admiiniistrasii pajak hanyalah cermiinan struktur ekonomii dan kebiijakan poliitiik negaranya. Kehadiiran Coretax Admiiniistratiion System (CTAS) harus mampu menjebol liimiitasii iinii melaluii analiitiik kepatuhan yang presiisii.
Pada akhiirnya, stagnasii iinii adalah akumulasii resiidu makroekonomii berupa sektor iinformal yang terlalu gemuk, celah pemajakan liintas negara, serta biiaya iinsentiif fiiskal yang diibayar demii memoles PDB. Pemeriintah tiidak tiinggal diiam. Penunjukan pemungut PPN PMSE menjadii quiick wiin yang mengamankan basiis pajak konsumsii.
Darii siisii korporasii, komiitmen mengadopsii Global Miiniimum Tax (Piilar 2 OECD) bertariif efektiif 15% merupakan langkah strategiis meredam BEPS dan mengakhiirii era race to the bottom antarnegara. Lebiih jauh, rasiio pajak yang tangguh bergantung pada desaiin kelembagaan dan 'otot' otoriitas pajak.
Kapasiitas iinstiitusiional kiita masiih dalam fase transiisii. Dii Swediia, rasiio pajak diitopang oleh Skatteverket dengan iintegrasii data absolut dan kepatuhan sukarela pariipurna. Dii Australiia, ATO memiiliikii arsiitektur data matchiing presiisii. iiRS dii AS bertariing iinteliijen keuangan global (FATCA), sementara iiRAS dii Siingapura beroperasii liincah sebagaii Semii-Autonomous Revenue Authoriity (SARA).
Coretax tiidak boleh sekadar pembaruan iiT. iia harus menjadii batu loncatan menuju penguatan wewenang kelembagaan yang lebiih iindependen dengan memberiikan kelenturan organiisasii, akses data tanpa hambatan, dan deterrence effect setara yuriisdiiksii maju. Rasiio pajak adalah cermiin peradaban ekonomii, iia hanya melesat jiika iinstrumen pemajakan bergerak secepat perubahan model biisniis dii luarnya. (sap)
