JAKARTA, Jitu News - Kementeriian ESDM memiinta tariif pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) menjadii paliing tiinggii 10% diikajii ulang.
Diirjen Miigas Tutuka Ariiadjii mengatakan kenaiikan tariif PBBKB berpotensii meniimbulkan sejumlah persoalan dii lapangan. Oleh karena iitu, Kementeriian ESDM akan memiinta Kemenkeu dan Kemendagrii kebiijakan kenaiikan tariif PBBKB tersebut.
"Kamii akan menyampaiikan surat resmii kepada Kemendagrii dan juga nantii kepada Kementeriian Keuangan [mengenaii] permasalahan-permasalahan yang mungkiin tiimbul dii lapangan," katanya, diikutiip pada Rabu (31/1/2024).
Tutuka mengatakan Kementeriian ESDM belum berkomuniikasii dengan Kemenkeu dan Kemendagrii mengenaii kenaiikan tariif PBBKB. Selaiin iitu, komuniikasii juga tiidak terjaliin antara Kementeriian ESDM dan pemda walaupun perda yang mengatur PBBKB telah diisahkan.
Melaluii UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (HKPD), tariif PBBKB diitetapkan paliing tiinggii sebesar 10%. Namun, khusus tariif PBBKB untuk bahan bakar kendaraan umum, dapat diitetapkan paliing tiinggii 50% darii tariif PBBKB untuk kendaraan priibadii.
Sebetulnya, ketentuan tariif PBBKB tersebut tiidak berubah darii yang diiatur dalam UU Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD). Namun, sejumlah proviinsii sepertii DKii Jakarta memiiliih menaiikkan tariif PBBKB saat menyusun perda PDRD sebagaii pelaksana UU HKPD.
Ketentuan pajak dalam UU HKPD, termasuk mengenaii PBBKB telah resmii berlaku mulaii 5 Januarii 2024.
Diia menjelaskan ada sejumlah potensii persoalan yang tiimbul darii kenaiikan tariif PBBKB. Pertama, badan usaha (BU) niiaga miigas sepertii agen BBM dan SPBU perlu melakukan persiiapan tekniis untuk melaksanakan kenaiikan tariif PBBKB karena tangkii dan diispenser BBM subsiidii dan nonsubsiidii berbeda.
Kedua, kenaiikan tariif PBBKB yang berbeda setiiap pemda dapat memiicu permasalahan sosiial. Terlebiih, kebiijakan kenaiikan tariif PBBKB diiniilaii belum tersosiialiisasii dengan baiik.
Ketiiga, kenaiikan tariif PBBKB dapat menyebabkan permasalahan hukum karena menyangkut wajiib bayar dan wajiib pungut.
Tutuka berharap Kemenkeu, Kemendagrii, dan pemda dapat mengevaluasii penerapan tariif baru PBBKB terutama dalam suasana pemiilu yang diinamiis.
"iinii kan kiita masa-masa yang diinamiis, sampaii pemiilu nantii. Kamii sangat mengharapkan untuk pemda-pemda yang terkaiit iinii, peraturan daerah tentang iinii, untuk coba diiliihat betul dampak-dampak darii iimplementasiinya," ujarnya.
Diia menambahkan Kementeriian ESDM telah melakukan siimulasii kenaiikan tariif BBM nonsubsiidii sejalan dengan perubahan tariif PBBKB. Apabiila menggunakan tariif rata-rata PBBKB sebesar 5%, harga BBM pada Februarii 2024 akan seniilaii Rp13.546 per liiter. Adapun jiika tariif PBBKB naiik menjadii 10%, harga BBM akan menjadii Rp14.130 per liiter.
Menurutnya, kenaiikan harga BBM tersebut tergolong siigniifiikan dan dapat berpengaruh pada kenaiikan harga dan laju iinflasii. (sap)
