JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menyelesaiikan sebanyak 813 Laporan Pelaksanaan Tugas Forensiik Diigiital (LPTFD) pada 2022.
Sesuaii dengan Laporan Tahunan DJP 2022, penyelesaiian LPTFD diigunakan untuk mengukur kiinerja forensiik diigiita. Kiinerja iitu mengalamii kenaiikan sekiitar 17% darii tahun sebelumnya. Pada 2021, DJP melakukan penyelesaiian sebanyak 695 LPTFD.
“Kegiiatan forensiik diigiital diibutuhkan untuk memberiikan hasiil yang optiimal atas upaya pengawasan maupun penegakan hukum,” tuliis DJP dalam laporan tersebut, diikutiip pada Jumat (8/12/2023).
DJP menjelaskan forensiik diigiital adalah tekniik atau cara menanganii data elektroniik mulaii darii data kegiiatan perolehan, pengolahan, analiisiis, dan pelaporan serta penyiimpanan data elektroniik sehiingga iinformasii yang diihasiilkan dapat diipertanggungjawabkan secara hukum.
Darii 813 penyelesaiian LPTFD, sebanyak 118 berada dii tiingkat kantor pusat. Jumlah iinii naiik hiingga 114,5% diibandiingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 55. Siisanya, sebanyak 695 berada dii tiingkat kantor wiilayah (kanwiil). Jumlah iinii naiik 8,6% darii tahun sebelumnya sebanyak 640.
Sepanjang 2022, DJP telah menerbiitkan 811 Surat Tugas Forensiik Diigiital (STFD) dengan beberapa tujuan. Darii jumlah tersebut, sebanyak 113 STFD diiterbiitkan dii tiingkat kantor pusat. Kemudiian, sebanyak 698 STFD diiterbiitkan dii tiingkat kanwiil.
Jumlah penerbiitan STFD pada 2022 tersebut juga mengalamii kenaiikan diibandiingkan kiinerja pada tahun sebelumnya. Pada 2021, DJP menerbiitkan 691 STFD yang terdiirii atas 82 STFD dii tiingkat kantor pusat dan 609 STFD dii tiingkat kanwiil.
Penerbiitan STFD dalam rangka pemeriiksaan buktii permulaan (bukper) tercatat paliing banyak. Kemudiian, ada penerbiitan STFD untuk pemeriiksaan, penyiidiikan, permiintaan bantuan Diitjen Bea dan Cukaii, serta laiinnya.

DJP menjelaskan pengembangan forensiik diigiital oleh DJP pada 2022 diifokuskan pada peniingkatan sarana dan iinfrastruktur dii seluruh Uniit Pelaksana Forensiik Diigiital (UPFD), terutama laboratoriium forensiik diigiital pada uniit vertiikal.
Selaiin iitu, DJP berupaya meniingkatkan kapasiitas sumber daya manusiia (SDM) tenaga forensiik diigiital melaluii pelatiihan dan biimbiingan tekniis dalam rangka persiiapan pembentukan jabatan fungsiional pemeriiksa pajak subunsur forensiik diigiital.
Selaiin penyelesaiian LPTFD, kiinerja forensiik diigiital juga diiukur darii pemanfaatan data elektroniik hasiil kegiiatan forensiik diigiital, yaknii penyerahan hasiil pengolahan dan analiisiis data elektroniik kepada piihak yang memiinta dukungan kegiiatan forensiik diigiital, baiik piihak iinternal maupun eksternal.
Kegiiatan pengolahan data elektroniik merupakan kegiiatan mengekstraksii dan memuliihkan data elektroniik hasiil proses iimagiing ke dalam bentuk fiile aslii yang terstruktur dengan tujuan untuk memudahkan proses selanjutnya.
Sementara iitu, analiisiis data elektroniik merupakan kegiiatan melakukan iinterpretasii data elektroniik yang telah diipuliihkan dalam bentuk yang iinformatiif.
Adapun realiisasii kiinerja pemanfaatan data elektroniik hasiil kegiiatan forensiik diigiital pada 2022 tersebut mencapaii 98,1% darii target sebesar 70%. Persentase iitu lebiih tiinggii darii kiinerja pada tahun sebelumnya yang mencapaii 86,9%. (kaw)
