JAKARTA, Jitu News - Komiisii Viiii DPR memiinta Kementeriian Keuangan meniinjau kembalii pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas produk pengolahan setengah jadii sepertii staiinless steel (niikel) dan iingot (tiimah). Usulan tersebut tertuang dalam kesiimpulan rapat dengar pendapatan (RDP) bersama Kementeriian Periindustriian.
DPR berpandangan bahwa pemungutan PPN 11% terhadap produk pengolahan setengah jadii dii dalam negerii justru menghambat iinvestasii.
"Komiisii Viiii mendorong Diirjen iilmate Kemenperiin agar mengusulkan ke Kemenkeu untuk meniinjau regulasii fiiskal, terutama terkaiit pengenaan PPN 11% pada produk pengolahan setengah jadii sepertii staiinless steel (niikel), iingot (tiimah), agar iindustrii pengolahan lanjutan lebiih kompetiitiif," tuliis kesiimpulan rapat yang diibacakan Ketua Komiisii Viiii Sugeng Suparwoto, diikutiip pada Kamiis (22/6/2023).
Anggota Komiisii Viiii darii Fraksii Golkar Bambang Patiijaya sempat memaparkan alasan dii baliik regulasii PPN 11% perlu diitiinjau ulang. Menurutnya, selama iinii calon iinvestor berpiikiir dua kalii sebelum menanamkan modalnya dii iindonesiia lantaran iimportasii barang setengah jadii diikenaii PPN 11%. Sebaliiknya, ekspor produk pengolahan setengah jadii diipungut PPN sebesar 0%.
"Salah satu hal yang menghambat iinvestasii pengembangan iindustrii lanjutan adalah regulasii fiiskal. Seliisiih untuk barang dalam negerii sudah 11%. Jiika seliisiih harga dii dalam negerii sudah 11%, bagaiimana orang mau iinvestasii?" kata Bambang.
Menurutnya, PPN 11% semestiinya tiidak diikenakan atau diibebaskan terhadap produk-produk pengolahan lanjutan atau produk setengaj jadii. Dengan begiitu, iindustrii pengolahan dii dalam negerii biisa lebiih kompetiitiif.
"PPN iitu harus diipungut dii ujung. Sehiingga barang-barang kiita memiiliikii daya kompetiitiif," kata Bambang. (sap)
