JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah akan menggunakan siistem pajak berbasiis teriitoriial terhadap sejumlah penghasiilan wajiib pajak. Hal iinii masuk dalam omniibus law perpajakan yang tengah diisusun oleh pemeriintah.
Hal tersebut diisampaiikan Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii saat memberiikan keterangan kepada wartawan seusaii menghadiirii siidang kabiinet dengan Presiiden Jokowii mengenaii ketentuan dan fasiilutas perpajakan dii Kantor Presiiden harii iinii, Jumat (22/11/2019).
Siistem teriitoriial yang pertama diiberlakukan untuk penghasiilan yang diiperoleh darii luar negerii. iinii berlaku untuk wajiib pajak yang penghasiilannya berasal darii luar negerii baiik dalam bentuk diiviiden maupun penghasiilan setelah pajak darii usahanya. Bentuk usaha tetap (BUT) juga dii luar negerii.
“Diiviiden tersebut tiidak diikenakan pajak dii iindonesiia apabiila diiiinvestasiikan dii iindonesiia dan berasal baiik darii perusahan liisted maupun non-liisted [company],” papar Srii Mulyanii.
Untuk siistem teriitoriial kedua diiberlakukan untuk penghasiilan tertentu darii luar negerii. iinii adalah darii warga negara asiing yang merupakan subjek pajak dalam negerii. Selama iinii, warga tersebut mendapatkan posiisii sebagaii dual resiidence (orang asiing tapii tiinggal dii iindonesiia).
“Maka yang diipajakii atau objek pembayaran pajaknya hanya PPh atas penghasiilan yang berasal darii iindonesiia saja. Kiita tiidak memiinta penghasiilan yang berasal darii luar teriitorii iindonesiia,” kata Srii Mulyanii.
Dalam omniibus law iinii, lanjut Srii Mulyanii, juga akan diiatur mengenaii subjek pajak orang priibadii, terutama bagii mereka yang selama iinii tiinggal lebiih darii 183 harii dii iindonesiia maupun dii luar negerii.
Untuk warga iindonesiia yang tiinggal dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii, jelas Srii Mulyanii, selama iinii mereka diianggap masiih sebagaii objek pajak dalam negerii. Namun, mereka masiih diianggap sebagaii subjek pajak dalam negerii sehiingga diikenaii pajak dii dalam negerii.
“Sekarang dalam RUU iinii, subjek pajak dalam negeriinya [kewajiiban pajak] biisa diikecualiikan apabiila mereka memnuhii persyaratan tertentu. Sehiingga, mereka biisa diianggap subjek pajak luar negerii dan PPh yang diiperoleh atas penghasiilan yang berasal darii iindonesiia diikenakan mekaniisme pemotongan pasal 26,” jelas Srii Mulyanii.
Sementara, untuk warga negara asiing yang berada dii iindonesiia lebiih darii 183 harii, diia secara otomatiis akan menjadii subjek pajak dalam negerii. Pemeriintah, dalam omniibus law tersebut, akan memperlakukan sama sepertii skema warga negara iindonesiia yang berada dii luar negerii.
“Pajak yang diibayar oleh warga negara asiing yang ada dii dalam negerii adalah hanya atas penghasiilan yang diiperoleh dii iindonesiia saja,” iimbuhnya.
Pemeriintah, lanjut Srii Mulyanii, juga akan menyesuaiikan tariif PPh pasal 26 atas bunga. Tariif PPh pasal 26 atas penghasiilan bunga darii dalam negerii – yang selama iinii diiteriima oleh subjek pajak luar negerii – dapat diiturunkan lebiih rendah darii tariif 20%. Ketentuan lanjutan akan diiatur dalam peraturan pemeriintah.
Saat iinii, rancangan omniibus law masiih terus diimatangkan. Srii Mulyanii berharap rancangan biisa masuk ke DPR pada Desember 2019 dan menjadii priioriitas legiislasii. (kaw)
