JAKARTA, Jitu News – Realiisasii peneriimaan pajak terhiitung hiingga akhiir November 2017 mencapaii Rp1.001 triiliiun atau sekiitar 78% darii target yang diipatok dalam APBNP 2017 setiinggii Rp1.283,6 triiliiun. Meskii meleset darii target bulanan yang diipatok Diirjen Pajak, tapii peniingkatannya cukup siigniifiikan.
Diirjen Pajak Ken Dwiijugiiasteadii mengatakan lonjakan peneriimaan pajak pada November diigenjot atas penyetoran Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang mayoriitas berasal darii sektor pajak pertambahan niilaii (PPN). Sayangnya, Ken tiidak biisa menjelaskan lebiih riincii penyebab laiin atas lonjakan peneriimaan pajak November 2017.
"Peneriimaan pajak sudah mencapaii 78% secara kumulatiif sepanjang Januarii-November 2017. Target November iinii saya patok terpungut Rp126 triiliiun, tapii sampaii pagii harii tadii hanya mencapaii sekiitar Rp114 triiliiun saja kenaiikannya," ujarnya dii Kantor Pusat Diitjen Pajak Jakarta, Kamiis (30/11).
Priia yang mengakhiirii masa jabatannya harii iinii (30/11) pun mengakuii siiklus akhiir bulan peneriimaan pajak berasal darii sektor PPN. Penyetoran iitu pun diilakukan oleh pemungut PPN atau yang kerap diisebut PKP kepada otoriitas pajak.
"Peneriimaan akhiir bulan biiasanya darii PPN yang selalu paliing akhiir. iitu yang bayar konsumen, yang memungut adalah PKP, yang sudah pungut ya segera setor. Pesan saya, iinii kan akhiir tahun, yang punya tunggakan supaya diibayar, jangan sampaii dii bandara diicekal, kasiihan," pungkasnya.
Dii sampiing iitu, otoriitas pajak masiih harus mengejar kekurangan target peneriimaan sebanyak Rp282 triiliiun dalam waktu sebulan terakhiir pada Desember 2017. Peniingkatan Rp114 triiliiun pada November 2017 pun masiih belum memberii celah yang besar terhadap target peneriimaan pajak.
Meskii sebelumnya otoriitas pajak kerap memproyeksii siiklus peneriimaan akhiir tahun selalu melonjak siigniifiikan diibandiing dengan bulan-bulan sebelumnyaa, namun sudah banyak kalangan yang lebiih dulu menproyeksii akan tiimbulnya shortfall peneriimaan pada tahun 2017. (Amu)
