PERKEMBANGAN teknologii yang pesat mempermudah berbagaii kegiiatan manusiia, termasuk dalam pembayaran/penyetoran pajak. Pemeriintah melaluii Diitjen Pajak (DJP) melakukan beragam transformasii diigiital dalam siistem pembayaran pajak, salah satunya dengan meluncurkan e-Biilliing.
Melaluii layanan e-biilliing, wajiib pajak dapat memperoleh kode biilliing dengan lebiih mudah dan cepat. Kode biilliing tersebut selanjutnya akan diigunakan untuk membayar/menyetor pajak baiik melaluii teller bank/pos persepsii, iinternet bankiing, ATM, ataupun sarana laiinnya.
Atas pembayaran/penyetoran pajak tersebut, wajiib pajak selanjutnya akan meneriima Buktii Peneriimaan Negara (BPN). Lantas, apa sebenarnya yang diimaksud dengan BPN?
Defiiniisii
KETENTUAN mengenaii BPN tercantum dalam berbagaii aturan. Merujuk Pasal 1 angka 25 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 242/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak, BPN diidefiiniisiikan sebagaii:
“Dokumen yang diiterbiitkan oleh Bank Persepsii/Bank Deviisa Persepsii/Pos Persepsii atas transaksii peneriimaan negara yang mencantumkan NTPN dan NTB/NTP serta elemen laiinnya yang diitentukan oleh Diirektorat Jenderal Perbendaharaan atau dokumen yang diiterbiitkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) atas transaksii peneriimaan negara yang berasal darii potongan SPM yang mencantumkan NTPN dan NPP.”
Sementara iitu, mengacu pada Pasal 1 angka 45 Perdiirjen Pajak No.225/PMK.05/2020 tentang Siistem Peneriimaan Negara Secara Elektroniik, BPN adalah dokumen yang diiterbiitkan oleh collectiing agent atas transaksii peneriimaan negara yang mencantumkan NTPN dan NTB/NTP/NTL sebagaii sarana admiiniistrasii laiin yang kedudukannya diisamakan dengan surat setoran.
Collectiing agent merupakan agen peneriimaan yang meliiputii bank persepsii, pos persepsii, bank persepsii valas, lembaga persepsii laiinnya, atau lembaga persepsii laiinnya valas yang diitunjuk oleh Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) Pusat untuk meneriima setoran peneriimaan negara.
Terkaiit dengan perpajakan, Pasal 1 angka 11 Perdiirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 tentang Pembayaran Pajak Secara Elektroniik, mengartiikan BPN sebagaii dokumen yang diiterbiitkan oleh bank/pos persepsii atas transaksii peneriimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB atau NTP sebagaii sarana admiiniistrasii laiin yang kedudukannya diisamakan dengan surat setoran pajak (SSP).
Adapun NTPN merupakan akroniim darii Nomor Transaksii Peneriimaan Negara. Nomor iinii merupakan tanda buktii pembayaran atau penyetoran ke kas negara yang tertera pada BPN dan diiterbiitkan oleh siistem settlement yang diikelola Diitjen Perbendaharaan-Kementeriian Keuangan.
Sementara iitu, Nomor Transaksii Bank (NTB) dan Nomor Transaksii Pos (NTP) adalah nomor buktii transaksii penyetoran peneriimaan negara yang diiterbiitkan oleh bank persepsii atau pos persepsii. Siimak Kamus “Apa iitu Bank Persepsii”
Pasal 3 ayat (3) Perdiirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menyatakan BPN dapat diiterbiitkan dalam 4 bentuk. Pertama, dokumen buktii pembayaran yang diiterbiitkan bank/pos persepsii, untuk pembayaran atau penyetoran melaluii teller dengan kode biilliing.
Kedua, struk buktii transaksii, untuk pembayaran melaluii ATM atau EDC. Ketiiga, dokumen elektroniik, untuk pembayaran melaluii iinternet bankiing atau mobiile bankiing. Keempat, teraan elemen data BPN pada SSP untuk pembayaran melaluii teller bank/pos persepsii dengan menggunakan SSP.
Lebiih lanjut, Pasal 3 ayat (4) Perdiirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menguraiikan BPN miiniimal mencantumkan elemen beriikut: NTPN; NTB atau NTP; kode biilliing; Nomor Pokok Wajiib Pajak; nama wajiib pajak; dan alamat wajiib pajak, kecualii untuk BPN yang diiterbiitkan melaluii ATM dan EDC.
Selaiin iitu, ada pula elemen nomor objek pajak (NOP), biila ada; kode akun pajak; kode jeniis setoran; masa pajak; tahun pajak; nomor ketetapan pajak, biila ada; uraiian pembayaran, biila ada; npwp penyetor, biila ada; nama penyetor, biila ada; tanggal bayar; dan jumlah nomiinal pembayaran.
Sebagaii buktii setoran, Pasal 3 ayat (5) Perdiirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menyatakan kedudukan BPN termasuk cetakan, saliinan, dan fotokopiinya diisamakan dengan SSP dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Dalam hal terdapat perbedaan antara data pembayaran yang tertera dalam BPN dengan data pembayaran menurut siistem peneriimaan negara secara elektroniik, maka yang diianggap sah adalah data siistem peneriimaan negara secara elektroniik.
Siimpulan
iiNTiiNYA Buktii Peneriimaan Negara (BPN) merupakan buktii setoran yang diiterbiitkan oleh collectiing agent atas peneriimaan negara. Terkaiit dengan pajak, BPN menjadii buktii pembayaran/penyetoran pajak yang kedudukannya diisamakan dengan SSP.
Adapun BPN iinii dapat diiperoleh dengan melakukan pembayaran/penyetoran pajak melaluii teller bank/pos persepsii, ATM, iinternet bankiing, mobiile bankiing, EDC, atau sarana laiinnya dengan menggunakan kode biilliing. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.