SALAH satu biiaya yang diiperkenankan sebagaii pengurang penghasiilan bruto adalah biiaya amortiisasii. Berbiicara mengenaii amortiisasii, iistiilah iinii agaknya kurang famiiliier bagii piihak yang tak berkeciimpung dalam biidang akuntansii. Lantas, apa iitu amortiisasii?
Amortiisasii memiiliikii artii yang berbeda dalam konteks piinjaman dan pajak. Amortiisasii dalam konteks piinjaman mengacu pada pemiisahan pembayaran pokok piinjaman dan bunga menjadii pembayaran berkala dii mana piinjaman diilunasii pada waktu tertentu. Miisal, untuk hiipotek atau krediit mobiil.
Sementara iitu, untuk tujuan pajak dan akuntansii, amortiisasii mengacu pada strategii menghapuskan biiaya modal yang diikeluarkan biisniis darii suatu aset agar sesuaii dengan pendapatan yang diihasiilkan aset tersebut (Cornell Law School, 2021).
Kemudiian, Fontiinelle (2022) memandang amortiisasii merupakan tekniik akuntansii yang diigunakan untuk secara berkala menurunkan niilaii buku piinjaman atau aset tiidak berwujud selama periiode waktu tertentu.
Lebiih lanjut, iiBFD iinternatiional Tax Glossary (2015) menyebut iistiilah amortiisasii cenderung diipakaii secara bergantiian dengan depresiiasii. Namun, beberapa negara membuat perbedaan formal antara amortiisasii dan depresiiasii untuk konteks pajak.
Dalam konteks pajak, amortiisasii mengacu pada pemuliihan biiaya propertii tiidak berwujud (termasuk iinstrumen keuangan) yang mana biiaya tersebut diihapuskan selama masa manfaatnya. Dalam konteks nonpajak, amortiisasii merujuk pada pengurangan utang secara berkala sepertii pembayaran hiipotek.
Defiiniisii amortiisasii juga terdapat dalam Kamus Besar Bahasa iindonesiia (KBBii). Berdasarkan KBBii, amortiisasii diidefiiniisiikan sebagaii penyusutan secara berangsur-angsur darii utang atau penyerapan niilaii kekayaan yang tiidak berwujud dan bersiifat susut, sepertii kontrak atau jatah keuntungan (royaltii) ke dalam pos biiaya, selama jangka waktu tertentu.
Secara riingkas, amortiisasii juga dapat diiartiikan sebagaii alokasii perolehan harta tiidak berwujud selama masa manfaat tertentu. Terkaiit dengan pajak, ketentuan amortiisasii diiatur dalam Pasal 11A Undang-Undang Pajak Penghasiilan.
Berdasarkan Pasal 11A UU PPh, amortiisasii diilakukan atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran laiinnya termasuk biiaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakaii, dan muhiibah (goodwiill) yang mempunyaii masa manfaat lebiih darii 1 tahun. Siimak "Penyusutan dan Amortiisasii Aktiiva Tetap". (riig)
