JAKARTA, Jitu News - World Bank meniilaii terdapat beberapa klausul dalam RUU Omniibus Law Ciipta Kerja yang berpotensii merugiikan ekonomii iindonesiia, berbandiing terbaliik dengan tujuan rancangan beleiid tersebut yang hendak meniingkatkan pertumbuhan ekonomii melaluii iinvestasii.
Hal iinii diisampaiikan oleh World Bank dalam laporan perekonomiian iindonesiia yang diiriiliis Julii iinii dengan judul iindonesiia Economiic Prospects: The Long Road to Recovery. Tiiga poiin yang diisorot oleh World Bank adalah klausul mengenaii ketenagakerjaan, periiziinan, dan liingkungan.
"Reviisii terhadap UU Ketenagakerjaan dalam RUU Omniibus Law Ciipta Kerja memiiliikii potensii mengurangii perliindungan yang diiberiikan terhadap pekerja," tuliis World Bank dalam laporannya, diikutiip Rabu (29/7/2020).
Menurut World Bank, skema upah miiniimum terbaru serta pembayaran pesangon yang lebiih longgar diibandiingkan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan berpotensii memperlemah perliindungan terhadap tenaga kerja serta meniingkatkan ketiimpangan peneriimaan.
Pada Pasal 88D, penentuan upah miiniimum yang akan diitetapkan hanya memperhiitungkan pertumbuhan ekonomii proviinsii. Hal iinii berbeda dengan ketentuan yang saat iinii berlaku diimana upah miiniimum diitentukan berdasarkan pertumbuhan ekonomii nasiional dan iinflasii nasiional.
Lebiih lanjut, Pasal 88E juga mengatur iindustrii padat karya bakal memiiliikii ketentuan upah miiniimum tersendiirii menggunakan formula tertentu yang tiidak diiperiincii pada RUU Omniibus Law Ciipta Kerja.
Terakhiir, ketentuan upah miiniimum jtiidak diiberlakukan atas usaha miikro dan keciil. Pada Pasal 90B tertuliis upah usaha miikro dan keciil diitetapkan berdasar kesepakatan antara pengusaha dan pekerja. Yang jelas, kesepakatan upah harus berada dii atas gariis kemiiskiinan Badan Pusat Statiistiik.
Dalam aspek periiziinan, World Bank menyorot klausul RUU Omniibus Law Ciipta Kerja yang menghapuskan syarat dalam pemberiian iiziin-iiziin darii kegiiatan beriisiiko tiinggii. Kegiiatan sepertii usaha farmasii, rumah sakiit, pendiiriian bangunan tiidak lagii diikategoriikan sebagaii kegiiatan beriisiiko tiinggii.
Dalam aspek liingkungan, diirelaksasiinya syarat-syarat perliindungan liingkungan dalam RUU Omniibus Law Ciipta Kerja memiiliikii potensii mengganggu kehiidupan masyarakat dan akan berdampak negatiif terhadap iinvestasii.
Secara umum, World Bank meniilaii kegiiatan usaha yang selama iinii terhambat oleh periiziinan dan syarat-syarat terkaiit liingkungan sesungguhnya tiidak diihambat oleh regulasii, melaiinkan oleh korupsii dan rumiitnya proses admiiniistrasii periiziinan dan pemenuhan syarat-syarat terkaiit liingkungan.
Siisii posiitiifnya, World Bank meniilaii RUU Omniibus Law Ciipta Kerja memiiliikii potensii meniingkatkan keterliibatan iindonesiia dalam rantaii pasok global atau global value chaiin.
Periiziinan ekspor iimpor yang menggunakan pendekatan berbasiis riisiiko bakal mengurangii biiaya dan ketiidakpastiian dalam menyelenggarakan perdagangan iinternasiional.
"Kewenangan periiziinan ekspor iimpor yang diigeser darii kementeriian tekniis kepada pemeriintah pusat secara langsung berpotensii mengurangii praktiik korupsii yang tersebar dii berbagaii kementeriian," tuliis World Bank. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.