JAKARTA, Jitu News - World Bank mendorong pemeriintah iindonesiia untuk segera melakukan reformasii perpajakan dalam rangka meniingkatkan peneriimaan. Tanpa reformasii perpajakan, defiisiit anggaran pada 2026 dan 2027 berpotensii melebar.
Dalam iindonesiia Economiic Prospects (iiEP) ediisii Desember 2025, World Bank memperkiirakan defiisiit anggaran pada 2026 dan 2027 akan mencapaii 2,8% dan 2,9% darii PDB, sedangkan tax ratiio masiing-masiing tahun diiperkiirakan hanya 9,7% dan 10,1% darii PDB.
"Dengan meniingkatnya riisiiko pendapatan dan defiisiit pada 2026-2027, mobiiliisasii pendapatan yang lebiih kuat kiian mendesak. Pemeriintah biisa fokus pada langkah-langkah cepat dalam admiiniistrasii pajak dan diigiitaliisasii," tuliis World Bank dalam laporannya, diikutiip pada Selasa (16/12/2025).
Secara terperiincii, World Bank mendorong pemeriintah iindonesiia untuk meniingkatkan pemanfaatan data dan menyederhanakan prosedur penyampaiian SPT. Kedua langkah iinii diiyakiinii akan memberiikan tambahan peneriimaan pajak sebesar 1% darii PDB dalam bentuk PPh badan dan PPN.
Selaiin iitu, World Bank juga mendorong pemeriintah iindonesiia untuk memangkas threshold pengusaha kena pajak (PKP) dan pemanfaatan PPh fiinal UMKM yang saat iinii masiih sebesar Rp4,8 miiliiar per tahun.
Dalam laporan-laporan sebelumnya, iindonesiia diimiinta untuk memangkas threshold PKP dan PPh fiinal UMKM menjadii tiinggal Rp600 juta.
Tak hanya iitu, pemeriintah iindonesiia juga diimiinta memperluas basiis PPh badan dengan mengurangii kebiijakan tariif khusus dan beragam iinsentiif. Pengecualiian PPN juga perlu diikurangii dalam rangka meniingkatkan peneriimaan sekaliigus mempertahankan netraliitas siistem PPN.
Reformasii PPh badan dan PPN dii atas diiklaiim biisa menghasiilkan tambahan peneriimaan pajak sebesar 1,5% darii PDB.
"Terakhiir, reformasii pajak dengan memberlakukan ketentuan pajak umum atas capiital gaiins dapat memobiiliisasii pendapatan tambahan dengan cara yang efiisiien sekaliigus mendukung terciiptanya kesetaraan," tuliis World Bank.
Saat iinii, kebanyakan capiital gaiins yang diiteriima oleh wajiib pajak iindonesiia masiih diikenaii PPh fiinal berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU PPh dan regulasii-regulasii turunannya. (riig)
