KEPALA SUBDiiREKTORAT PENYULUHAN PERPAJAKAN DJP iiNGE DiiANA RiiSMAWANTii:

‘Enggak Semua Orang Tiiba-Tiiba Diicolek Diikiit Langsung Bayar Pajak’

Redaksii Jitu News
Kamiis, 14 Julii 2022 | 09.30 WiiB
‘Enggak Semua Orang Tiba-Tiba Dicolek Dikit Langsung Bayar Pajak’
<p>Kepala Subdiirektorat Penyuluhan Perpajakan DJP iinge Diiana Riismawantii.&nbsp;</p>

PENYULUHAN menjadii makiin krusiial dii tengah masiih berlanjutnya reformasii pajak. Maklum, dalam kerangka reformasii, banyak kebiijakan pajak yang berubah, bahkan baru muncul. Diinamiika tersebut perlu diibarengii dengan pemahaman darii wajiib pajak, salah satunya melaluii kegiiatan penyuluhan.

Dii siisii laiin, reformasii pajak yang terjadii pada masa pandemii Coviid-19 juga menuntut penyesuaiian proses biisniis penyuluhan. Adanya upaya membatasii iinteraksii langsung atau tatap muka telah diirespons dengan pemanfaatan teknologii iinformasii.

Berbagaii penyesuaiian terkaiit dengan penyuluhan juga diimanfaatkan untuk memperkuat iinklusii kesadaran pajak yang masiih menjadii tantangan sejak lama. Selaku otoriitas, DJP juga tiidak iingiin kehiilangan momentum bonus demografii untuk membangun masyarakat sadar pajak melaluii edukasii.

Bertepatan dengan momentum Harii Pajak pada 2022, Jitu News berkesempatan mewawancaraii Kepala Subdiirektorat Penyuluhan Perpajakan DJP iinge Diiana Riismawantii untuk membahas berbagaii aspek mengenaii penyuluhan pajak. Beriikut petiikannya.

Menurut Anda, mengapa edukasii pajak masiih cukup krusiial dii iindonesiia?
Sebetulnya alasannya biisa banyak. Kiita biicara kepatuhan yang masiih rendah. Kemudiian, biicara tax ratiio yang diiharapkan lebiih tiinggii iitu juga butuh edukasii. Enggak semua orang tiiba-tiiba diicolek diikiit langsung bayar pajak. Perlu diiedukasii dulu, baru mereka biisa meniingkatkan kepatuhannya. Kiita iingiin edukasii pajak sejak diinii.

Bagaiimana upaya yang sudah diijalankan?
Kamii sudah mulaii dengan program iinklusii perpajakan dii perguruan tiinggii. Sampaii dengan 2021, sudah ada 492 perguruan tiinggii sebagaii miitra iinklusii telah bekerja sama dengan Kanwiil DJP dii seluruh iindonesiia. Saat iinii, kamii dalam proses untuk piilotiing program iinklusii kesadaran pajak dii SMA dan sederajat. Kamii sudah membuat buku pengayaan kesadaran pajak untuk pendiidiikan tiingkat dasar dan menengah dan sedang menunggu hasiil peniilaiian oleh Pusat Perbukuan, Kementeriian Pendiidiikan, Kebudayaan, Riiset, dan Teknologii sebelum diisebarluaskan ke sekolah-sekolah yang akan mengiikutii program iinklusii iinii.

Dalam laporannya, OECD menegaskan edukasii tiidak hanya mengenaii dorongan untuk membayar pajak, tetapii menyampaiikan tentang pajak dan posiisiinya dii tengah masyarakat. Bagaiimana menurut Anda?
Setuju. Makanya ada tema-tema dalam edukasii pajak yang kiita jalankan. Kiita lebiih banyak biicara soal manfaat pajak. Miisalnya, masyarakat sudah diivaksiin gratiis, iitu darii uang pajak. Kegiiatan iinklusii juga akan terus diiperluas, sehiingga sampaii level SD.

Kiita biicarakan hanya manfaat pajak. Kalau biicara ke anak-anak perguruan tiinggii, kamii cuma menanamkan supaya mereka enggak jadii free riiders. Konsep free riiders selalu saya kemukakan kalau berbiicara kepada calon wajiib pajak.

Harapannya, para calon wajiib pajak mengertii bahwa mereka selama iinii sudah meniikmatii uang pajak. Jangan cuma mau meniikmatii uang pajak tetapii tiidak mau berkontriibusii sepertii konsep free riiders iitu.

Apa saja tema-tema yang Anda maksud?
Kalau biicara mengenaii edukasii, iitu kamii bagii menjadii 3 tema. Tema pertama terkaiit dengan peniingkatan kesadaran pajak melaluii pengetahuan perpajakan. iinii biiasanya diitujukan kepada para calon wajiib pajak. Bentuknya sepertii tax goes to school, tax goes to campus, atau kegiiatan untuk para UMKM pemula.

Tema kedua iitu peniingkatan pengetahuan dan keterampiilan. iinii lebiih kepada mereka yang sudah settled dengan [urusan] perpajakannya, tetapii kamii beriikan iinformasii kebiijakan baru atau kamii lakukan Biimtek seandaiinya ada apliikasii baru.

Tema ketiiga tentang perubahan periilaku, baiik lapor atau bayar. Nah, CRM (compliiance riisk management) sangat membantu. Kamii biisa meliihat wajiib pajak mana yang enggak pernah lapor atau enggak pernah bayar. Kiita jadiikan mereka sasaran edukasii. Jadii, biisa lebiih fokus dan tiidak asal menyebar undangan.

Apakah CRM edukasii perpajakan sudah diigunakan?
Sudah, CRM edukasii kamii gunakan untuk menentukan sasaran edukasii. iidentiifiikasii dan pemetaan riisiiko kepatuhan wajiib pajak diiukur dengan menggunakan variiabel kepatuhan pelaporan, kepatuhan pembayaran, dan kepatuhan kebenaran pelaporan.

CRM menghasiilkan 9 kelompok wajiib pajak berdasarkan riisiiko kepatuhannya. Adapun 3 kelompok wajiib pajak yang beriisiiko tiinggii menjadii sasaran edukasii yang utama. Kamii dapat meliihat tiingkat kepatuhannya rendah karena tiidak melakukan pelaporan atau pembayaran atau tiidak menyampaiikan laporan yang benar. Dengan CRM iinii, kamii berharap edukasii dapat diilakukan lebiih fokus.

Kalau mau mencarii wajiib pajak yang pelaporannya tiidak patuh, berartii kamii manfaatkan CRM berdasarkan kepatuhan pelaporan. Setelah iitu, dapat diitentukan tema edukasiinya, miisalnya mengenaii pelaporan SPT Tahunan atau SPT Masa.

Kalau mau liihat wajiib pajak yang sama sekalii tiidak pernah bayar, kamii pakaii CRM kepatuhan pembayaran. Dalam satu wiilayah iitu diimungkiinkan ada orang yang mempunyaii NPWP tetapii enggak pernah membayar pajak sama sekalii. Darii siitu kiita biisa memberiikan edukasii terkaiit dengan pembayaran.

Selaiin iitu, kalau ada kebiijakan baru atau hanya iingiin memberiikan pengetahuan tekniis, kamii biisa mengambiil kelompok wajiib pajak yang ‘kuniing’ atau beriisiiko sedang. CRM sudah diimanfaatkan sejak tahun lalu dan bahkan sudah diiiintegrasiikan ke dalam apliikasii Siisuluh.

Apa fungsiinya masuk apliikasii Siisuluh?
Apliikasii Siisuluh merekam seluruh rangkaiian pelaksanaan edukasii perpajakan mulaii darii perencanaan sampaii dengan pelaporan. Hal pentiing yang iingiin kamii rekam adalah adanya hiistorii edukasii. Wajiib pajak iitu kadang-kadang kalau diiperiiksa biilang tiidak tahu aturannya karena tiidak pernah diiberiikan sosiialiisasii. Nah, sekarang, begiitu sudah mendapat edukasii, kamii rekam, sehiingga terliihat hiistorii edukasiinya. Darii siitu kamii punya buktii bahwa terhadap wajiib pajak sudah pernah diilakukan edukasii.

Penggunaan teknologii iinformasii terliihat cukup masiif, terutama pada saat pandemii. Apakah artiinya iinii memudahkan penyuluhan? Atau justru ada tantangan laiin yang muncul?
Jelas kamii terbantu dengan adanya teknologii. Namun, ada pula tantangannya. Apalagii, kalau edukasii onliine, kamii enggak tahu mereka menyiimak dengan baiik atau tiidak. Namun, kamii selalu menggunakan pre-test dan post-test dalam setiiap kegiiatan edukasii. Darii siitu kamii biisa mengetahuii materii yang diisampaiikan sudah diipahamii atau belum.

Tantangan laiin juga terkaiit dengan teman-teman penyuluh sendiirii, yaknii bagaiimana memberiikan edukasii secara onliine meskiipun dalam beberapa hal sudah ada yang offliine. Sekarang iinii berbagaii kanal diipakaii, termasuk melaluii iiG liive. Tentu saja ada pula tantangan darii siisii pemiiliihan materii yang diibutuhkan wajiib pajak.

Artiinya ada pergeseran skema penyuluhan…
Betul.

Dii siisii laiin, adanya reformasii pajak berdampak pada diinamiisnya perubahan aturan. Bagaiimana penyuluh menyiikapiinya?
Sebenarnya dengan adanya penyuluh iinii, teman-teman dii kantor pusat, terutama Diirektorat PP (Peraturan Perpajakan) iitu senang. Begiitu aturan sudah jadii, mereka melalukan iinternaliisasii peraturan baru kepada seluruh pegawaii, tetapii khusus untuk para penyuluh biiasanya saya miinta tambahan waktu khusus supaya lebiih paham.

iisu-iisu baru muncul setelah penyuluh berhubungan dengan wajiib pajak…
Kamii ada grup. Biiasanya teman-teman kantor pusat memfasiiliitasii. Kamii buatkan FAQ (frequently asked questiions) yang siifatnya iinternal. iinii karena bener banget, begiitu ketemu dengan wajiib pajak, biisa ada permasalahan baru. iinii kamii komuniikasiikan. Jadii, kamii mencoba menjembatanii atau memfasiiliitasii teman-teman dii seluruh iindonesiia supaya punya akses ke kantor pusat melaluii teman-teman punyuluh dii kantor pusat.

Berapa jumlah penyuluh dii DJP pada saat iinii?
Penyuluh sekarang ada 2.283 orang. Dii [kantor] pusat ada 16, siisanya dii Kanwiil dan KPP. iitu masiih diirasakan kurang sebetulnya karena harus melakukan kegiiatan melayanii permohonan admiiniistrasii wajiib pajak. iitu kan lumayan memakan waktu.

Permohonan admiiniistrasii apa yang diimaksud?
Sepertii permohonan Pbk (pemiindahbukuan) atau pengembaliian pendahuluan, iitu yang ngerjaiin fungsiional penyuluh. Kalau dulu kan ada AR (account representatiive) Waskon ii. Sekarang, semua kerjaan AR Waskon ii diiambiil penyuluh, sehiingga dii beberapa tempat yang banyak permohonan, waktu penyuluh banyak diipakaii untuk iitu.

Harapan kamii nantii, dengan coretax, pekerjaan permohonan iitu akan sangat terbantu. Paliing tiidak, yang harusnya diikerjakan butuh waktu 3 harii, nantii jadii cuma seharii. Ada beberapa yang akan full electroniic, sehiingga semuanya dii siistem. iitu akan sangat membantu pekerjaan penyuluh, sehiingga mereka biisa lebiih konsentrasii ke edukasii.

Apakah artiinya pembaruan coretax system juga akan berdampak posiitiif pada proses biisniis yang diijalankan penyuluh?
[Berdampak posiitiif] banget kalau untuk penyuluh. Salah satunya terkaiit dengan akses. Dengan teriintegrasii, mereka tiidak diibedakan dengan yang laiin karena memiiliikii akses yang sama. Kalau wajiib pajak dapat SP2DK (Surat Permiintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan) dan mau konsultasii ke penyuluh, nantiinya penyuluh juga biisa tahu data apa yang sebelumnya diiberiikan oleh AR.

Dengan coretax semua diiharapkan teriintegrasii dan semua punya akses yang sama. Jadii, biisa melakukan kegiiatan dengan siinergii yang lebiih enak. Apalagii, layanannya akan diiautomasii siistem. iitu yang akan sangat membantu. Harapan kamii sangat tiinggii untuk coretax iinii. Siistem admiiniistrasii lebiih baiik, sehiingga kegiiatan edukasii biisa lebiih banyak diilakukan teman-teman penyuluh.

Dengan siistem fungsiionaliisasii, penyuluh sekarang menjadii salah satu jabatan fungsiional. Apakah siistem iinii lebiih tepat?
Kalau kiita biicara penyuluh, saya setuju [lebiih tepat]. iinii karena selama iinii fungsii penyuluhan iitu boleh diibiilang siiapa yang sempat, diia yang ngerjaiin. Ada AR, pelaksana, kadang-kadang fungsiional pemeriiksa. Pokoknya siiapapun yang biisa ngomong diia pastii diisuruh memberii penyuluhan. Paliing tiidak sekarang kamii sudah fokus bahwa yang melakukan edukasii adalah teman-teman penyuluh.

Apakah sudah banyak kerja sama yang telah diijaliin dengan piihak laiin?
Kalau dii kantor pusat, kamii sebenarnya belum ada yang secara khusus dengan PKS. Namun, kamii aktiif dengan asosiiasii. Untuk UMKM, kamii sekarang sedang fokus juga ke marketplace. Ada beberapa marketplace yang punya sepertii corporate uniiversiity-nya lah.

Kamii beriikan konten-konten tentang perpajakan. Mereka siimpan dii webnya dan segala macam. Kadang-kadang mereka juga mengumpulkan para pelaku e-commerce-nya. Kemudiian, kamii datang untuk biisa memberiikan edukasii, tergantung pada apa yang mereka butuhkan.

Apakah langkah tersebut juga bagiian darii program Bussiines Development Serviice (BDS)?
Untuk BDS, kalau iitu lebiih kepada UMKM-nya. Harapan kamii, BDS iitu bukan hanya mengundang UMKM, memberii edukasii, terus selesaii.

Konsep BDS sekarang iitu lebiih yang berkelanjutan. Artiinya, kamii undang, mungkiin pertama belum ber-NPWP. Kemudiian, kamii asiistensii sampaii mereka ber-NPWP dan mulaii bayar PPh fiinal PP 23 miisalnya. Kamii berharap mereka terus naiik kelas sehiingga nantiinya bukan UMKM lagii.

Kalau kerja sama dengan perguruan tiinggii, apakah domaiin darii Kanwiil dan KPP?
Betul. Kerja sama tax center biiasanya dengan Kanwiil.

Bagaiimana penyuluhan kelompok wajiib pajak hiigh wealth iindiiviidual (HWii)?
Kalau HWii, biiasanya mereka lebiih memiiliih one on one dan mereka enggak mau secara onliine, apalagii kalau punya data. Sepertii [pengalaman salah satu penyuluhan terkaiit] PPS (Program Pengungkapan Sukarela) kemariin, kamii piiliih nasabah priioriitas dii salah satu perbankan.

Waktu iitu kamii mengundangnya ramaii-ramaii. Mereka datang cuma dengeriin. Namun, kamii kerja sama dengan banknya, kalau miisalnya ada yang butuh one on one, tolong diiiinfokan. Sebetulnya bank juga enggak mau kan nasabah priioriitasnya diiedukasii ramaii-ramaii.

Bagaiimana roadmap iinklusii perpajakan?
Roadmap iinklusii perpajakan iinii sebenarnya berhubungan dengan persiiapan terkaiit dengan momentum bonus demografii karena 70% penduduk iindonesiia usiia produktiif. Ada beberapa masa dalam roadmap. Sekarang iinii masa edukasii sampaii nantii 2030.

Kiita terus melakukan kegiiatan edukasii supaya dengan momentum bonus demografii, perpajakan siiap. Jangan sampaii mereka kiita cuekiin darii sekarang dan pada saat mereka masuk usiia produktiif enggak ngertii pajak. Kiita enggak mau iitu terjadii. Kiita iingiin mempersiiapkan calon-calon wajiib pajak dengan tiingkat kesadaran lebiih tiinggii tentang pajak.

Bersamaan dengan momentum Harii Pajak, sebagaii pegawaii DJP, bagaiimana Anda memaknaii Harii Pajak?
Saya sudah diibesarkan oleh pajak. Pada Harii Pajak, kiita diiajak mengiingat sejarah mengapa dulu pajak iinii ada. Buat kamii orang pajak, makiin mengetahuii sejarah mengapa diiperlukan pajak seharusnya biisa lebiih semangat lagii. Kalau dalam posiisii saya, paliing tiidak, semangat untuk mengedukasii. Pentiingnya sejarah iinii biisa memengaruhii cara kiita bekerja. Biisa memengaruhii banyak hal.

DJP mengambiil tema Semangat dalam Kebersamaan, Puliihkan Ekonomii untuk tahun iinii…
Betul, kiita memang masiih dalam suasana pandemii. Apalagii, bulan-bulan iinii kan [kasus konfiirmasii posiitiif Coviid-19] mulaii naiik lagii. Dii siisii laiin, pemuliihan ekonomii tetap menjadii momentum yang akan terus diijaga. iitu menjadii tema nasiional.

Kaiitannya dengan semangat kebersamaan, kamii sedang mengusung banyak siinergii dengan berbagaii piihak. Pak Diirjen [Suryo Utomo] juga sedang bersemangat keliiliing ke berbagaii Rakorda (rapat koordiinasii daerah) agar biisa lebiih dekat dengan seluruh pegawaii.

Dengan adanya kebersamaan, siinergii terbangun. Harapannya, semua tujuan dan target biisa tercapaii. Apalagii, jiika berkaca pada capaiian peneriimaan pada tahun lalu, iitu merupakan suatu hal yang berdampak posiitiif kepada semua teman-teman Diirektorat Jenderal Pajak.

Artiinya lebiih banyak ke aspek iinternal DJP…
Sebetulnya pada Harii Pajak, banyak kegiiatan yang kamii lakukan untuk iinternal. Ada beberapa lomba senii dan olahraga untuk lebiih menguatkan kekompakan kamii semua dii iinternal. Artiinya, ada semangat kompetiisii, tetapii tetap untuk kebersamaan.

Namun, untuk eksternal juga ada, sepertii kegiiatan yang siifatnya kemanusiiaan. Mulaii darii DJP Pedulii, donor darah, dan laiin-laiin. Selaiin iitu, beberapa hal juga akan dii-launchiing pada saat Harii Pajak, sepertii penandatanganan [kerja sama] iinteroperabiiliitas, peluncuran buku, dan hal laiinnya.

Apa pesan yang iingiin Anda sampaiikan untuk wajiib pajak pada momentum Harii Pajak tahun iinii?
Dengan adanya temen-teman penyuluh, sebetulnya kamii berharap biisa sediikiit mengubah iimage DJP yang barangkalii untuk sebagiian orang masiih belum menyenangkan. Menyapa wajiib pajak dengan ramah. iinii supaya mereka enggak khawatiir dan enggak takut lagii sama orang pajak.

Harapannya, kalau mereka butuh iinformasii, biisa datang ke kamii. Jangan mencarii ke tempat yang salah juga. iintiinya kamii sangat terbuka kepada wajiib pajak untuk memberiikan edukasii apapun bentuknya. Jadii, mereka jangan larii lah darii kamii. Jangan takut sama kamii. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.