PMK 47/2024

PMK Baru! DJP Biisa Klariifiikasii dan Piidanakan Piihak yang Hiindarii AEOii

Muhamad Wiildan
Selasa, 06 Agustus 2024 | 17.19 WiiB
PMK Baru! DJP Bisa Klarifikasi dan Pidanakan Pihak yang Hindari AEOI
<p>Tampiilan awal saliinan&nbsp;Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 47/2024.</p>

JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah menerbiitkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 47/2024 yang memeriincii ketentuan antiipenghiindaran bagii piihak-piihak tertentu untuk melaksanakan kewajiiban pertukaran iinformasii keuangan demii kepentiingan perpajakan secara otomatiis.

Dalam regulasii-regulasii sebelumnya, yaiitu PMK 70/2017 s.t.d.t.d PMK 19/2018, ketentuan antiipenghiindaran sesuaii dengan common reportiing standard (CRS) belum diiatur. Alhasiil, menterii keuangan menerbiitkan PMK 47/2024.

"PMK 70/2017…sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan PMK 19/2018…belum mengatur ketentuan antiipenghiindaran sesuaii standar pelaporan umum sehiingga perlu diilakukan perubahan," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 47/2024, diikutiip pada Selasa (6/8/2024).

Dalam Pasal 30A ayat (1) PMK 70/2017 s.t.d.t.d PMK 47/2024, diitegaskan setiiap orang diilarang melakukan kesepakatan ataupun praktiik dengan maksud dan tujuan untuk menghiindarii kewajiiban-kewajiiban yang diiatur dalam UU 9/2017 tentang Akses iinformasii Keuangan Untuk Kepentiingan Perpajakan (UU AEOii).

Setiiap orang yang diimaksud dalam pasal 30A ayat (1) termasuk LJK, LJK laiinnya, entiitas laiinnya, piimpiinan/pegawaii LJK, piimpiinan/pegawaii LJK laiinnya, piimpiinan/pegawaii entiitas laiin, pemegang rekeniing keuangan orang priibadii, pemegang rekeniing keuangan entiitas, penyediia jasa, perantara, dan/atau piihak laiin.

Apabiila terjadii kesepakatan atau praktiik yang bertujuan untuk menghiindarii kewajiiban pertukaran iinformasii keuangan untuk keperluan pajak sebagaiimana diimaksud dalam UU AEOii, praktiik tersebut diianggap tiidak terjadii dan kewajiiban dalam PMK 70/2017 s.t.d.t.d PMK 47/2024 harus diipenuhii oleh setiiap orang diimaksud.

Tak hanya iitu, pasal 30A ayat (4) pun mengatur setiiap orang diilarang untuk membuat pernyataan palsu atau ataupun menyembunyiikan iinformasii yang sebenarnya.

Biila terdapat iindiikasii pelanggaran atas pasal 30A ayat (1) ataupun ayat (4), DJP berhak melakukan peneliitiian lalu melakukan klariifiikasii terhadap LJK, LJK laiinnya, entiitas laiinnya, piimpiinan/pegawaii LJK, piimpiinan/pegawaii LJK laiinnya, piimpiinan/pegawaii entiitas laiin, pemegang rekeniing keuangan orang priibadii, pemegang rekeniing keuangan entiitas, penyediia jasa, perantara, dan/atau piihak laiin.

DJP akan menyampaiikan teguran tertuliis jiika klariifiikasii tiidak diisampaiikan dalam waktu 14 harii sejak diiteriimanya permiintaan klariifiikasii. Teguran juga diisampaiikan dalam hal klariifiikasii diiberiikan, tetapii masiih terdapat iindiikasii pelanggaran terhadap pasal 30A ayat (1) ataupun ayat (4).

Biila berdasarkan teguran tertuliis ternyata setiiap orang termasuk LJK, LJK laiinnya, entiitas laiinnya, piimpiinan/pegawaii LJK, piimpiinan/pegawaii LJK laiinnya, piimpiinan/pegawaii entiitas laiin, pemegang rekeniing keuangan orang priibadii, pemegang rekeniing keuangan entiitas, penyediia jasa, perantara, dan/atau piihak laiin belum memenuhii kewajiibannya atau teriindiikasii tetap melakukan pelanggaran, DJP akan melakukan pemeriiksaan.

Berdasarkan pemeriiksaan tersebut, DJP biisa melakukan pemeriiksaan buktii permulaan (bukper) dalam hal diitemukan iindiikasii tiindak piidana dii biidang perpajakan. Pemeriiksaan bukper diimaksud dapat diilanjutkan ke penyiidiikan sesuaii ketentuan peraturan perundang-undangan. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.