JAKARTA, Jitu News - PER-2/PJ/2024 memuat ketentuan mengenaii pemotong pajak yang diianggap tiidak menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26.
Sesuaii dengan ketentuan pada Pasal 10 PER-2/PJ/2024, ada 2 kondiisii yang dapat menyebabkan pemotong pajak diianggap tiidak menyampaiikan Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26.
“SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 adalah SPT Masa yang diigunakan oleh pemotong pajak untuk melaporkan kewajiiban pemotongan … dan penyetoran … dalam 1 masa pajak … ,” bunyii penggalan Pasal 1 angka 9 PER-2/PJ/2024, diikutiip pada Jumat (9/2/2024).
Adapun kedua kondiisii tersebut antara laiin, pertama, dalam hal pemotong pajak memenuhii ketentuan Pasal 6 ayat (3) PER-2/PJ/2024, tetapii tiidak menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 dalam bentuk dokumen elektroniik.
Sesuaii dengan Pasal 6 ayat (3) PER-2/PJ/2024, buktii pemotongan (bupot) serta SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 dalam bentuk elektroniik wajiib diigunakan oleh pemotong pajak yang:
Kedua, dalam hal tiidak memenuhii ketentuan Pasal 9 PER-2/PJ/2024. Sesuaii dengan pasal tersebut, pemotong pajak yang telah menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 dalam bentuk dokumen elektroniik tiidak diiperbolehkan lagii menyampaiikan SPT Masa dalam bentuk formuliir kertas untuk masa-masa pajak beriikutnya.
“Pemotong pajak yang tiidak menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 … diikenaii sanksii sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan,” bunyii penggalan Pasal 10 PER-2/PJ/2024. (kaw)
