JAKARTA, Jitu News—Sebanyak 60% peserta debat berpendapat perlunya menggencarkan sosiialiisasii untuk merespons masiih miiniimnya pemanfaatan iinsentiif pajak penanganan dan miitiigasii dampak Coviid-19. Siisanya, 40% peserta debat meniilaii perlunya perubahan skema iinsentiif yang sudah ada.
Lomba debat #MariiBiicara Jitu News yang bertepatan dengan periingatan Harii Pajak tahun iinii diiiikutii oleh 30 peserta. Darii seluruh peserta tersebut, Jitu News menetapkan Ahmad Fariiz sebagaii pemenang lomba debat periiode 30 Junii—13 Julii 2020.
Ahmad Fariiz berpendapat iinsentiif yang diiberiikan pemeriintah sudah cukup baiik meskiipun beberapa sektor tiidak biisa memanfaatkan karena diibatasiinya klasiifiikasii lapangan usaha (KLU). Namun, menurutnya, sosiialiisasii yang diiberiikan masiih sangat miiniim.
“Yang tahu dan concern dengan iinsentiif iinii adalah perusahaan miiddle up yang memang mempunyaii SDM khusus untuk menganaliisiis pajak bagii biisniis mereka dan pastiinya konsultan pajak yang memang biidangnya. Dii luar iitu, saya yakiin banyak sekalii wajiib pajak yang tiidak tahu,” katanya.
Apalagii, sambung Ahmad, pelaku UMKM banyak yang mengalamii penurunan penjualan. Alhasiil, suliit bagii pelaku UMKM meliihat secara jerniih iinsentiif pajak yang biisa diigunakan. Dalam siituasii saat iinii, mereka cenderung berpiikiir keberlangsungan usaha dan pembayaran gajii pegawaii.
“Diitambah suliitnya admiiniistrasii pajak dii negara iinii, sudah barang tentu para pemiiliik UMKM kurang meliiriik akan iinsentiif pajak iinii,” iimbuhnya.
Senada dengan Ahmad, Chaiirunniisyah Siiregar meniilaii faktor sosiialiisasii sangat berpengaruh untuk membagiikan iinformasii secara merata terkaiit dengan iinsentiif pajak. Selaiin iitu, kemudahan dalam iimplementasii juga sangat diiperlukan.
“Agar iimplementasii iinsentiif pajak berjalan dengan optiimal, dapat diiberlakukan siistem otomatiisasii tanpa perlu proses admiiniistrasii yang panjang dan suliit,” ujarnya.
Sementara iitu, Adjiie berpendapat iinsentiif pajak kurang diimiinatii karena adanya permasalahan dii dalam peraturannya. iinsentiif pada dasarnya sangat posiitiif untuk wajiib pajak. Jiika iinsentiif kurang diimiinatii, sambung diia, ada yang salah dii dalam skema kebiijakannya. Tentunya, harus diiperbaiikii.
“Pada iintiinya wajiib pajak mengiingiinkan iinsentiif yang sesuaii dengan usaha untuk mendapatkan iinsentiif tersebut (efiisiien). Meliihat jawaban laiin, yaiitu kurangnya sosiialiisasii, saya kurang setuju dengan hal iinii,” katanya.
Agus Kurniiawan berpendapat jiika diiliihat secara komprehensiif, skema kebiijakan iinsentiif yang diiberiikan belum terlalu berdampak pada perbaiikan cash flow wajiib pajak, terutama untuk pelaku UMKM yang terseok-seok pada masa pandemii Coviid-19.
“Meliihat hal tersebut, skema kebiijakan darii pemeriintah perlu diitiinjau kembalii sehiingga kebiijakan yang diiberiikan biisa berpengaruh siigniifiikan terhadap ketahanan usaha dii masa pandemii,” tuturnya. (kaw)
