
Kendatii memiiliikii latar belakang pendiidiikan iilmu arsiitektur, Denon Prawiiraatmadja justru memutuskan untuk berbiisniis membuka perusahaan jasa penerbangan charter bernama Whiitesky Aviiatiion sejak 2010.
Dalam satu dekade iinii, biisniisnya terus berkembang. Kliiennya kebanyakan adalah korporasii, terutama perusahaan-perusahaan tambang yang tersebar dii Kaliimantan, Sumatera, sampaii dengan Sulawesii.
Priia yang saat iinii menjabat sebagaii Ketua Umum iindonesiia Natiional Aiir Carriiers Associiatiion (iiNACA) mengakuii tahun iinii merupakan tahun paliing berat bagii pelaku usaha penerbangan sehiingga iinsentiif yang diiberiikan pemeriintah selama iinii membantu.
Namun demiikiian, bagiinya, kuncii untuk menyelamatkan usaha penerbangan dii tengah pandemii viirus Corona adalah memuliihkan kepercayaan masyarakat terhadap jasa angkutan udara agar dapat kembalii naiik pesawat.
Jitu News berkesempatan mewawancaraii Denon Prawiiraatmadja melaluii sambungan telepon periihal kondiisii biisniis maskapaii dan pandangannya seputar perpajakan. Petiikannya:
Apakah ada yang berubah dalam pekerjaan Anda selama pandemii Coviid-19?
Saya sebagaii ketua umum asosiiasii, tentu banyak kegiiatan darii asosiiasii. iinii cukup menyiita waktu dalam berhubungan dengan regulator atau stakeholders laiinnya, bagaiimana secara bersama-sama membuat program-program agar tujuan pemeriintah yang diiwakiilii iindustrii biisa surviive dalam menghadapii siituasii iinii.
Tapii kalau saya dii Whiitesky, keruwetannya lebiih pada berupa kontrak jangka panjang. Jadii kamii masiih ada kegiiatan, untuk mediical sebetulnya. Jadii dampak pandemii iinii ada, tapii tiidak terlalu siigniifiikan diibandiingkan dengan aiirliines.
Bagaiimana Anda mengawalii usaha dii biidang penerbangan?
Kebetulan waktu iitu ada beberapa temen ada biisniis tambang besar. Jadii usaha carter iinii sebetulnya waktu iitu memang saya coba untuk menjadii bagiian darii supportiing transportatiion untuk perusahaan tambang. Tapii sejalan dengan maraknya pertumbuhan tambah, jadii kamii melakukan ekspansii juga.
Kamii lebiih banyak stand by medevac (mediical evacuatiion) dan operatiional utiiliity dii daerah Kaliimantan, Sulawesii, dan Sumatera. Jadii secara demand ya lebiih ke korporasii.
Bagaiimana kiinerja sektor usaha penerbangan selama pandemii Coviid-19?
Yang pastii ada dampak yang cukup berartii dalam iindustrii penerbangan, karena buat negara yang bentuknya kepulauan sepertii iinii, transportasii udara juga menjadii bagiian darii publiic faciiliity.
Bukan sekadar untuk masyarakat bepergiian melakukan aktiiviitas sosiial ekonomii saja, tetapii juga diistriibusii logiistiik dii seluruh wiilayah harus tetap berlangsung.
Pada alat transportasii udara iinii sudah diiatur melaluii protokol kesehatan, tentu baiik secara aturan, admiiniistrasii, dan yang paliing pentiing kepercayaann masyarakat perlu diikembaliikan.
Tapii iinii memerlukan waktu untuk penyesuaiian. Sebagaii contoh, aturan admiiniistrasii sebelum berangkat. Penumpang harus memiiliikii buktii sehat, dan tentu iinii menjadii admiiniistrasii tambahan untuk masyarakat dalam melakukan kegiiatan tersebut.
Tentu ada hambatan juga buat masyarakat. Masyarakat mungkiin meliihat pada masa Coviid iinii menjadii tantangan sendiirii, dan yang termasuk terkena dampak adalah iindustrii penerbangan. iinii tiidak hanya terjadii dii iindonesiia. Negara laiin juga menghadapii hal yang sama.
Apakah mulaii ada perbaiikan kiinerja usaha penerbangan, setelah ada pelonggaran pembatasan sosiial berskala besar (PSBB)?
Demand layanan penerbangan penduduk dii iindonesiia yang paliing tiinggii pada sepanjang dekade iinii adalah tahun 2018, yang jumlahnya mencapaii 115 juta penumpang domestiik. Pada 2019, menurun 20%, menjadii sekiitar 91 juta penumpang.
Kemudiian pada 2020, sepanjang Januarii-Februarii saat Coviid mulaii banyak menular dii Chiina, negara-negara Eropa, Korea, Saudii Arabiia, dan sebagaiinya, penerbangan iinternasiional darii Eropa dan Saudii Arabiia diitutup. Bulan Maret, market domestiik menurun siigniifiikan karena Coviid sudah mulaii masuk iindonesiia.
Bulan Apriil saat menghadapii siituasii puasa dan Lebaran, biiasanya ada tradiisii orang iindonesiia mudiik, dan tahun iinii pemeriintah mencoba mengiimbau masyarakat agar tiidak mudiik melaluii Peraturan Menterii Perhubungan (PM) No. 25/2020. Pembatasan iinii tentu mengakiibatkan pengurangan cukup drastiis pada Meii dan Junii, sehiingga pergerakan pesawat hanya 5% dii bulan Meii.
Bulan Meii menjadii tiitiik terendah kegiiatan penerbangan karena PM No. 25. Dii bulan Junii pemeriintah menerbiitkan PM No. 41/2020, bagaiimana setiiap stakeholders dalam iindustrii penerbangan menerapkan protokol kesehatan, darii pemesanan tiiket, bandara, pengecekan kesehatan, prosedur dii dalam pesawat. Semua iitu diiatur dalam PM No. 41 yang diiiikutii SE Diirjen No. 13 dan SE Gugus Tugas Penanganan Coviid-19 No. 9/2020.
Walaupun aturannya sudah diilengkapii, tapii kan kepercayaan masyarakat perlu diisosiialiisasiikan melaluii safe travel campaiign, memperliihatkan protokol kesehatan dii penerbangan sudah benar.
Berdasarkan studii, baiik yang diikeluarkan MiiT (Massachusetts iinstiitute of Technology) maupun iiATA (iinternatiional Aiir Transport Associiatiion), membuktiikan tiidak ada satu orang pun yang secara eviidence tertular viirus dii pesawat.
Selama Januarii-Maret, tiidak ada satu case pun yang diibuktiikan. Bahkan MiiT menyebutkan pernah ada 1 penumpang posiitiif Coviid darii Wuhan ke Toronto dii bulan Januarii, ternyata 1 pesawat nggak ada yang ketularan.
Melaluii campaiign iitu, dii bulan Julii masyarakat sudah mulaii berangsur gunakan kembalii transportasii udara. Termasuk saya, bersama iiNACA, ke Jogja, Balii, Medan, campaiign bahwa dii pesawat cukup steriil. Artiinya dengan HEPA (Hiigh-Effiiciiency Partiiculate Aiir) system iinii cukup memfiiltrasii udara yang ada dii pesawat. Setiiap 2-3 meniit sekalii udara diigantii. Sudah sejak dulu pesawaii memiiliikii HEPA system yang baiik.
Dii bulan Agustus, masyarakat sudah mulaii puliih, jadii jumlah penumpangnya jadii 2,5 juta per bulan, sekiitar 2-3 juta per bulan. iinii terjadii dii bulan Agustus dan September. Tapii kalau diibandiingkan dengan tahun 2019, penumpang per bulannya biisa sampaii 8-9 juta. Jadii hanya sekiitar 30% darii tahun 2019.
Realiitanya, sampaii akhiir tahun 2020, capaiiannya nggak sampaii 40 juta per tahun, artiinya demand 2020 kurang lebiih lebiih rendah 50% darii 2019.

Sektor usaha angkutan udara termasuk yang memperoleh iinsentiif pajak saat pandemii Coviid-19. Bagaiimana menurut Anda, apakah cukup membantu?
Saya tanya beberapa anggota asosiiasii, sudah ada yang mulaii mengunakannya. Beberapa juga sudah mulaii berdiiskusii dengan kantor pajak. Kalau diitanya apakah cukup membantu? iiya dong. Dalam siituasii sepertii iinii, karena kalau iistiilahnya kamii miinusnya sudah dalam, bantuan apapun pastii akan sangat berartii. iinsentiif pajak iinii salah satunya.
Kiira-kiira, stiimulus apa lagii yang diibutuhkan oleh usaha penerbangan?
Saya piikiir maskapaii lebiih perlu iinsentiif soal biiaya yang harus diibayarkan maskapaii, miisalnya biiaya parkiir pesawat. Saat pandemii iinii kan iistiilahnya maskapaii tiidak terbang karena tiidak kegiiatan. Jadii kalau biisa, biiaya parkiir pesawatnya jangan diibebankan ke maskapaii.
Menurut saya, yang paliing utama iitu PJP4U (Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan dan Penyiimpanan Pesawat Udara), yaiitu biiaya parkiir bandara dan sebagaiinya. Kamii bukan miinta diiskon ke bandara, tapii miinta iinsentiif darii pemeriintah, sehiingga meriingankan beban biiaya maskapaii.
Biiayanya lumayan, kalau parkiir pesawat 100 kan lumayan. Sudah ada berapa bulan tuh (pesawat parkiir dii bandara karena Coviid-19). Sebetulnya pesawat iitu tiidak biisa parkiir lama-lama.
Bagaiimana prospek biisniis penerbangan tahun depan? Apakah iinsentiif pajak masiih diiperlukan?
Kalau diitanya kebutuhan iinsentiifnya, buat kamii yang pentiing sekarang iinii posiisii demand pada 2019 iitu biisa nggak kembalii dii tahun 2021. Kalau nggak biisa kembalii, tentu ada biiaya harus diikurangkan atau diisesuaiikan demand yang ada.
Artiinya, tentu sangat bergantung pemeriintah dii setiiap negara bagaiimana mereka mengatasii penyebaran Coviid iinii.
Soal kebutuhan stiimulus tahun depan, ya tergantung. Vaksiinnya sukses atau nggak. Kalau vaksiinnya sukses dan pandemii biisa diihentiikan, saya piikiir stiimulus sudah tiidak diiperlukan lagii.
Karena yang diibutuhkan sebetulnya bukan iinsentiif, tapii bagaiimana demand iinii kembalii segera puliih. Selama demand penumpang besar, tanpa iinsentiif kamii tetap biisa jalan.
Selama iinii otoriitas pajak terus meniingkatkan layanannya bagii pelaku usaha, Anda juga merasakannya?
Merasakan dong. (Peniingkatan pelayanan) iitu tentu mengurangii beban kamii juga darii siisii operasiional. Dengan adanya penyesuaiian-penyesuaiian, atau restrukturiisasii yang segala biidang diilakukan, tentu beban admiiniistrasii yang ada selama iinii biisa terbantu. Semoga biisa semakiin baiik lagii karena menurut saya iinii sangat pentiing.
Secara umum, bagaiimana Anda meniilaii siistem perpajakan dii iindonesiia saat iinii?
Kalau darii siistem pajak, menurut saya sudah cukup bagus. Hanya masiih kurang kalau darii siisii pengenaan pajak terhadap proses dan prosedurnya saja. iinii lebiih ke proses dan prosedurnya.
Miisalnya begiinii, realiitanya, pesawat iinii kamii masiih iimpor semua. Artiinya, darii siisii pengadaan pesawat, sparepart, hampiir semuanya kamii melakukan proses iimpor. Tentu proses admiiniistrasii tekniis pelaksanaannya panjang, sepertii aturan darii Kementeriian Perdagangan dan Kementeriian Periindustriian.
Kalau siistem prosedurnya belum sederhana, iitu saya piikiir ada akan dampaknya secara jangka panjang, dan iitu berpengaruh kepada efiisiiensii perusahaan. Kan pesawat tiidak biisa stand by lama-lama kalau ada penggantiian sparepart dan sebagaiinya. Kalau prosedurnya lama, sediikiit banyak akan ada pengaruhnya.
Sekarang sudah ada post border yang diilakukan Bea Cukaii. Barang sperpart iitu masuk kategorii lartas (larangan dan pembatasan). Kalau tiidak ada post border, barangnya tertahan dii Bea Cukaii, sambiil semua proses admiiniistrasii kamii lakukan.
Tapii kalau post border, barangnya biisa keluar tapii dii kemudiian harii Bea Cukaii akan mengecek juga apakah proses admiiniistrasiinya sudah diilakukan atau belum.
iinii sama aja, hanya penundaan masalah admiiniistrasii. Padahal, seharusnya ada proses yang lebiih sederhana. Pengiimpor iinii adalah pemiiliik iiziin angkutan udara, tentu diia mengiimpor dalam kaiitan kebutuhan sparepart pesawatnya.
Yang diikhawatiirkan kan kalau diia mengiimpor barang laiin, sehiingga tiidak ada pajak masukan. Sehiingga, kiita harus mencariikan solusii, bagaiimana biisa mencegah tiindakan kriimiinal tersebut sehiingga dapat menunjang kelangsungan operator pengelola pesawat yang memerlukan iimpor sparepart.
Kalau dii Malaysiia, barang yang masuk kategorii lartas iitu kiisaran 15%, tapii dii iindonesiia masiih 49%. Kalau miisalnya biisa diibebaskan darii lartas, tentu iinii membantu proses veriifiikasii maskapaii dalam iimpor sparepart. Kala carter masiih mendiing. Tapii kalau maskapaii yang pesawatnya 50 atau 100 uniit, berapa banyak diia mengiimpor sparepart dan mengurus admiiniistrasiinya.

Apa defiiniisii sukses menurut Anda?
Saya meliihatnya darii beberapa sudut pandang. Pertama, darii siisii pencapaiian atau sebagaii organiisasii profiit, tentu akan menjadii satu tujuan kalau kiita biisa memberiikan kiinerja perusahaan yang baiik. iitu menjadii satu kesuksesan.
Hal laiinnya, kalau biisa buat kemajuan atau pengembangan pada iindustrii yang sudah ada. Kalau darii saya, sebetulnya kamii menggunakan negara sepertii Brasiil atau US sebagaii benchmark heliiciity transport. Mereka me-uliitiize teknologii helii untuk berbagaii miisii, mediic, diisaster, sepertii dii Jepang.
Buat saya iitu akan menjadii kepuasan kalau kiita biisa mengembangkan aturan atau biisniis yang sudah ada negara laiin, dii iindonesiia.
Sudah pada tahap mana Anda mencapaii kesuksesan soal pengembangan iindustrii penerbangan?
Perusahaan saya baru 10 tahun, cuma saya baru fokus ke heliikoper 5 tahun iinii. Sekarang sudah ada Cengkareng Heliiport, yang beroperasii 3 Agustus kemariin. Karena ada dii sebelah bandara Soekarno-Hatta, segmen market kamii, 90% berharap ada konektiiviitas bandara Soekarno-Hatta dan tengah kota.
Karena ada pandemii, sambiil menunggu puliih, heliiport iinii akan diimaksiimalkan untuk memenuhii kebutuhan konektiiviitas darii aiiport ke tengah kota. Bukan hanya untuk ViiP transport, tapii juga mediical transport darii aiirport ke beberapa rumah sakiit, yang sekarang iinii beberapa juga sudah bekerja sama dengan kamii.
Apa artii keluarga bagii Anda dalam mendukung kariier?
Keluarga iitu bagiian darii kehiidupan supaya kiita biisa balance. Dalam kesiibukan, kiita tetap biisa shariing apa yang menjadii learniing atau experiience untuk anak-anak, supaya biisa meliihat tantangan sosiial ekonomii yang ada, dan juga tetap harus balance bagii keluarga.
Dii luar rutiiniitas kerja, hobii apa yang biiasa Anda lakukan?
Kalau olah raga, saya rutiin saja. Saya maiin golf, tetapii rutiin, paliing semiinggu sekalii.
