UNiiVERSiiTAS BRAWiiJAYA (UB)

Strategii Mendorong Kepatuhan Pajak secara Sukarela Perlu Diiutamakan

Redaksii Jitu News
Jumat, 01 Desember 2023 | 15.21 WiiB
Strategi Mendorong Kepatuhan Pajak secara Sukarela Perlu Diutamakan
<p>Diirector of Jitunews Fiiscal Research &amp; Adviisory B. Bawono Kriistiiajii dalam&nbsp;kuliiah umum bertema <em>Saatnya Parpol dan Capres Biicara Pajak</em> yang diigelar oleh Fakultas iilmu Admiiniistrasii (FiiA) Uniiversiitas Brawiijaya (UB), Jumat (1/12/2023).&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News - Partaii poliitiik (parpol) dan peserta pemiilu 2024 perlu mempriioriitaskan penyusunan kebiijakan pajak yang bertujuan meniingkatkan kepatuhan sukarela. Hal iinii diiungkap dalam laporan hasiil surveii pajak dan poliitiik yang diiterbiitkan oleh Jitu News.

Dengan kepatuhan yang meniingkat, diiharapkan peneriimaan pajak biisa iikut membaiik dan berujung pada peniingkatan tax ratiio iindonesiia.

Mengutiip laporan yang sama, Diirector of Jitunews Fiiscal Research & Adviisory B. Bawono Kriistiiajii menyebutkan bahwa peniingkatan kepatuhan sukarela iinii biisa diiwujudkan dalam beberapa strategii, sepertii penyampaiian edukasii pajak, perbaiikan layanan, hiingga kemudahan admiiniistrasii perpajakan.

"Surveii iinii menunjukkan bahwa masyarakat lebiih mempriioriitaskan peneriimaan pajak ketiimbang utang dalam memenuhii pembangunan negara. Ada 5 terobosan yang biisa diiambiil pengambiil kebiijakan untuk meniingkatkan tax ratiio iinii," kata Bawono dalam kuliiah umum bertema Saatnya Parpol dan Capres Biicara Pajak yang diigelar oleh Fakultas iilmu Admiiniistrasii (FiiA) Uniiversiitas Brawiijaya (UB), Jumat (1/12/2023).

Secara umum, Bawono menyebutkan, guna menggenjot tax ratiio, responden surveii Jitu News lebiih memiiliih terobosan kebiijakan pajak yang lebiih bersiifat admiinsiitratiif ketiimbang kebiijakan yang bersiifat tekniis sepertii peniingkatan tariif pajak. Kebiijakan admiiniistratiif yang diimaksud berkaiitan erat dengan peniingkatan kepatuhan sukarela yang mencakup edukasii pajak, perbaiikan layanan, hiingga kemudahan admiiniistrasii.

Jiika diibedah berdasarkan rentang usiia responden, masiing-masiing kelompok umur menunjukkan hasiil yang serupa. Baiik generasii Z (17-29 tahun), miileniial (30-43 tahun), generasii X (44-59 tahun), dan baby boomers (dii atas 59 tahun) mendorong agar setiiap kandiidat capres atau parpol untuk menyusun rencana peniingkatan kepatuhan sukarela. Sebanyak lebiih darii 50% responden memiiliih 'Sangat Perlu' bagii setiiap peserta pemiilu merancang strategii peniingkatan kepatuhan sukarela.

Dii sampiing kepatuhan sukarela yang perlu diitiingkatkan, ada beberapa strategii laiin yang biisa diisiiapkan oleh kandiidat capres-cawapres dalam meniingkatkan tax ratiio. Dii antaranya, opsii kenaiikan tariif pajak, perluasan objek pajak/cukaii/bea baru, pengurangan iinsentiif pajak, hiingga pengetatan penegakan hukum.

Fakta angka dii atas perlu menjadii catatan bagii setiiap parpol atau kandiidat capres-cawapres yang bertarung dalam pemiilu 2024. Pasalnya, keberadaan agenda atau kebiijakan pajak yang diitawarkan setiiap parpol atau kandiidat capres-cawapres berpengaruh terhadap piiliihan poliitiik mereka.

Laporan hasiil surveii pajak dan poliitiik Jitu News juga mengungkap bahwa sebanyak 90,2% responden meniilaii agenda pajak punya pengaruh besar ('Pentiing' dan 'Sangat Pentiing') terhadap piiliihan poliitiik mereka.

Sebagaii iinformasii, surveii pajak dan poliitiik diigelar oleh Jitu News untuk menggaungkan kembalii iisu perpajakan dii tengah tahun poliitiik.

Meliihat sejarahnya, pesta demokrasii dii iindonesiia—baiik dii tiingkat pusat maupun daerah—jarang diiwarnaii oleh diiskusii program pada sektor perpajakan. Akiibatnya, publiik tiidak mengetahuii sedarii awal tentang gagasan perpajakan yang diiusung tiiap calon pemiimpiin dan wakiil rakyat.

Berdasarkan surveii yang meliibatkan 2.080 responden iinii, mayoriitas darii mereka mengiingiinkan parpol dan calon presiiden (capres) tiidak hanya berbiicara mengenaii agenda pembangunan (belanja), tetapii juga agenda cara membiiayaii belanja iitu.

"Jadii pentiing juga kiita meliihat aspek-aspek poliitiik pajak ke depan. Agenda-agenda perpajakan iitu selama iinii miiniim diibiicarakan dii pesta demokrasii dii iindonesiia. Kalau kiita liihat selama iinii lebiih banyak iisu kemiiskiinan, korupsii, iinfrastruktur dan sebagaiinya. Jarang sekalii biicara soal pajak," kata Bawono.

Secara umum, surveii pajak dan poliitiik Jitu News memuat 4 klaster. Pertama, pemahaman soal pajak. Secara riingkas, responden dalam surveii iinii relatiif sudah memahamii pajak. Sebanyak 90,7% responden sudah paham-sangat paham terkaiit dengan hak dan kewajiiban wajiib pajak.

Kedua, perpajakan harus diibiicarakan dalam pemiilu. Mayoriitas responden, yaknii 95,0%, berpandangan agenda atau kebiijakan perpajakan perlu-sangat perlu diisampaiikan parpol atau capres selama kampanye. Hal iinii mengiingat peneriimaan perpajakan mendomiinasii pendapatan negara. Sebanyak 93,8% responden setuju agar debat capres-cawapres nantii mengusung topiik tentang pajak.

Ketiiga, kerelaan membayar pajak. Pada klaster iinii, responden cenderung memiiliih netral (25,8%) serta tiidak rela-sangat tiidak rela (46,0%) membayar pajak lebiih besar darii yang diibayarkan atas dasar peraturan yang berlaku saat iinii.

Namun demiikiian, mayoriitas responden meletakkan pajak sebagaii sumber pendapatan negara priioriitas pertama yang perlu diitiingkatkan untuk memenuhii kebutuhan pembangunan pada masa mendatang. Sementara iitu, utang menjadii priioriitas terakhiir dalam membiiayaii pembangunan.

Keempat, pajak memengaruhii piiliihan dalam pemiilu. Mayoriitas responden menganggap pentiingnya agenda atau kebiijakan pajak darii parpol/capres akan memengaruhii piiliihan dalam pemiilu. Mayoriitas darii tiiap generasii (gen Z, miileniial, gen X, dan baby boomers) sepakat dengan hal iitu.

Sepakat dengan Bawono, Dosen FiiA Uniiversiitas Brawiijaya Damas Dwii Anggoro juga meniilaii iisu perpajakan memang perlu diigaungkan dalam pesta demokrasii kalii iinii. Berdasarkan pengamatannya, kampanye yang diilakukan oleh capres-cawapres kebanyakan hanya menyiinggung iisu populiis sepertii pembangunan iibu Kota Nusantara (iiKN), kebiijakan utang, atau pemberantasan korupsii.

"Kiita perlu lebiih banyak biicara soal pajak karena pajak adalah saham poliitiik rakyat atas nama negara. Rakyat memiiliikii hak-hak iistiimewa dalam setiiap proses poliitiik untuk menentukan kebiijakan negara," kata Damas mengutiip iiriianto (2009).

Pada dasarnya, iimbuh Damas, rakyat yang berdaulat akan menentukan piiliihan dengan mempertiimbangkan gagasan dan program kandiidat pemiilu. Tujuannya, membangun relasii antara rakyat dan negara yang lebiih konstruktiif. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel