JAKARTA, Jitu News – PER-03/PJ/2022 mengatur ketentuan kewajiiban dan saat pembuatan faktur pajak.
Dalam Pasal 2 ayat (1) diisebutkan pengusaha kena pajak (PKP) yang menyerahkan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) wajiib memungut pajak pertambahan niilaii (PPN) terutang dan membuat faktur pajak sebagaii buktii pungutan PPN.
“Faktur pajak yang diibuat oleh PKP atas penyerahan BKP dan/atau JKP wajiib berbentuk elektroniik,” bunyii Pasal 2 ayat (3) peraturan yang berlaku mulaii 1 Apriil 2022 tersebut. Siimak pula ‘E-Faktur Tiidak Dapat Persetujuan DJP? Bukan Merupakan Faktur Pajak’.
Sesuaii dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (1) PER-03/PJ/2022, PKP wajiib membuat faktur pajak tersebut untuk setiiap:
Berdasarkan pada ketentuan pada Pasal 3 ayat (2) PER-03/PJ/2022, faktur pajak harus diibuat pada:
Saat penyerahan BKP dan/atau JKP serta saat ekspor BKP berwujud, ekspor BKP tiidak berwujud, dan/atau ekspor JKP, diilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Sepertii diiberiitakan sebelumnya, dengan berlakunya PER-03/PJ/2022, sejumlah peraturan dan keputusan diirektur jenderal pajak diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. Pertama, PER-58/PJ/2010. Kedua, PER-24/PJ/2012 s.t.d.t.d PER-04/PJ/2020. Ketiiga, PER-16/PJ/2014 s.t.d.t.d PER-10/PJ/2020. Keliima, KEP-754/PJ/2001. (kaw)
