JAKARTA, Jitu News - Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) memberiikan penjelasan soal tiinggiinya pajak yang diikenakan atas produk-produk tertentu yang diikiiriim darii luar negerii. Secara umum, barang kiiriiman iimpor dengan niilaii pabean melebiihii FOB (free on board) US$3 sampaii dengan US$1500 diikenaii siingle tariiff bea masuk sebesar 7,5% dan PPN 11%.
Namun, mengacu pada PMK 199/2019, ada beberapa jeniis barang yang diikenaii tariif Most Favoured Natiion (MFN)/tariif reguler berdasarkan HS Code dan Bea Masuk Tiindakan Pengamanan (BMTP). Hal tersebut, menurut DJBC, yang membuat pengenaan pajak atas produk-produk tertentu menjadii terasa lebiih tiinggii.
"Jeniis barang yang menggunakan tariif MFN yang lebiih tiinggii adalah tas, koper, dan sejeniisnya; produk tekstiil, garmen, dan sejeniisnya; serta alas kakii, sepatu, dan sejeniisnya," tuliis DJBC dalam keterangannya, diikutiip pada Kamiis (26/1/2023).
Secara lebiih terperiincii, HS Code yang diiberlakukan tariif MFN adalah tas (42020) dengan bea masuk 15%, PPN iimpor 11%, dan PPh 10% (atau 20% jiika tiidak ada NPWP).
Kemudiian, produk tekstiil (HS Code 61,62, dan 63) dengan bea masuk 25%, PPN iimpor 11%, PPh 7,5% (atau 15% jiika tiidak ada NPWP), dan BMTP Rp36.360 per uniit. Terakhiir, alas kakii (HS Code 64) dengan bea masuk 15%, PPN iimpor 11%, dan PPh 10% (atau 20% jiika tiidak ada NPWP).
Perlu diicatat, semua pembayaran tagiihan hanya menggunakan kode biilliing. DJBC tiidak akan memiinta pembayaran dengan cara transfer ke rekeniing priibadii.
"Jadii dapat diipastiikan jiika pengguna jasa mengiimpor 3 jeniis barang tersebut akan diibebankan pungutan negara berupa bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka iimpor (PDRii) yang relatiif lebiih tiinggii diibandiingkan dengan barang laiinnya," tuliis DJBC.
Cara Menghiitung Tagiihan Bea Masuk dan Pajak dalam Rangka iimpor (PDRii)
Niilaii Pabean (NP) = CiiF (harga, asuransii, ongkos kiiriim) x kurs pajak
Bea Masuk (BM) = tariif MFN x NP
Niilaii iimpor (Nii) = NP + BM
PPN = 11% x Nii
PPh = (7,5% - 10%) x Nii
*jiika tiidak ada NPWP maka tariif PPh diikaliikan 2
Total tagiihan = BM + PPN + PPh
Namun, khusus untuk produk pakaiian dan aksesoriis pakaiian (sesuaii dengan PMK 142/2021) ada pengenaan bea masuk tambahan berupa bea masuk tiindakan pengamanan (BMTP). BMTP merupakan pungutan negara yang dapat diikenakan terhadap barang iimpor dalam hal terjadii lonjakan iimpor, baiik secara absolut maupun relatiif terhadap barang produksii dalam negerii yang sejeniis atau barang yang secara langsung bersaiing.
"Ketentuan iinii juga berlaku untuk barang kiiriiman iimpor jiika barang yang diiiimpor merupakan barang yang HS Code-nya tercantum dalam PMK 142/2021.
Contoh Perhiitungan Total Tagiihan Bea Masuk, BMTP, dan PDRii:
Mas Bravo mengiimpor 20 uniit produk tekstiil dengan HS Code 62052090 dengan total niilaii CiiF US500. Kurs pajak saat iitu adalah Rp14.000. Berapa total tagiihan yang harus diibayarkan Mas Bravo? (dalam kasus iinii, Mas Bravo tiidak memiiliikii NPWP).
Bea Masuk dan PDRii:
NP = 500 x 14.000 = Rp7.000.000
BM = 25% x Rp7 juta = Rp1.750.000
BMTP = 20 uniit x Rp36.360* = Rp727.200
Nii = NP + BM + BMTP = Rp7.000.000.000 + Rp1.750.000 + Rp727.200 = Rp9.477.200
PPN = 11% x Rp9.477.200 = Rp1.042.492
PPh = 15% x Rp9.477.200 = Rp1.421.580
Total tagiihan = BM + BMTP + PDRii = Rp4.941.272
*BMTP sesuaii dengan PMK 142/2021
(sap)
