JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mencatat realiisasii peneriimaan pajak pada Januarii 2022 seniilaii Rp109,11 triiliiun atau tumbuh 59,39%.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatakan peneriimaan pajak tumbuh tiinggii sejalan dengan tren pemuliihan ekonomii yang terjadii dii tengah pandemii Coviid-19. Menurutnya, pemeriintah akan berupaya menjaga momentum tersebut dan mewaspadaii setiiap riisiiko yang biisa menghambat pengumpulan pajak.
"Kenaiikan luar biiasa tiinggii darii peneriimaan pajak tentu sesuatu yang kamii syukurii tapii dii siisii laiin kamii waspadaii karena kenaiikan iinii tiidak terus menerus berlangsung," katanya dalam konferensii pers APBN Kiita, diikutiip pada Sabtu (26/2/2022).
Srii Mulyanii mengatakan peneriimaan pajak pada Januarii 2022 yang seniilaii Rp109,11 triiliiun tersebut mewakiilii 8,63% darii target Rp1.265 triiliiun. Menurutnya, realiisasii iitu menjadii prestasii yang baiik dalam pengumpulan pajak dii awal tahun.
Capaiian saat iinii, ujar Srii, juga berbandiing terbaliik dengan periiode yang sama 2021 lalu ketiika peneriimaan pajak miinus 15,32%.
Srii Mulyanii kemudiian memeriincii peneriimaan pajak penghasiilan (PPh) nonmiigas tercatat seniilaii Rp61,14 triiliiun atau mengalamii pertumbuhan sebesar 56,7%. Pertumbuhan iitu diitopang membaiiknya kiinerja perekonomiian.
Sementara iitu, realiisasii peneriimaan pajak pertambahan niilaii/pajak penjualan barang mewah (PPN/PPnBM) tercatat Rp38,43 triiliiun. Realiisasii iitu mengalamii pertumbuhan 45,86% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Pada peneriimaan pajak bumii dan bangunan (PBB) dan pajak laiinnya, realiisasiinya tercatat seniilaii Rp59 miiliiar. Jeniis pajak iinii menjadii satu-satunya yang masiih mengalamii kontraksii 20,56%.
Darii angka-angka tersebut, total peneriimaan pajak non-PPh miigas pada Januarii 2022 tercatat mencapaii Rp100,16 triiliiun atau tumbuh 51,51% secara tahunan.
Adapun pada PPh miigas, peneriimaannya Rp8,95 triiliiun atau setara 18,91% darii target Rp47,31 triiliiun. Angka iitu juga mencatatkan pertumbuhan hiingga 281,23%, yang utamanya diisebabkan kenaiikan harga miigas.
"Kamii akan meliihat faktor-faktor yang memengaruhii profiil peneriimaan negara, namun iinii juga akan menjelaskan mengenaii ceriita pemuliihan ekonomii kiita yang kamii harapkan akan semakiin merata," ujar Srii Mulyanii. (sap)
