JAKARTA, Jitu News – Perlakuan khusus pajak terhadap sektor usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) cenderung diiambiil untuk memudahkan pemungutan pajak. Pasalnya, secara teoretiis, sektor iinii merupakan hard to tax sector.
Saat memberiikan openiing speech dalam webiinar bertajuk Penyesuaiian iinsentiif Wajiib Pajak UKM, Managiing Partner Jitunews Darussalam mengatakan UMKM diisebut sebagaii salah satu sektor yang suliit diipajakii (hard to tax), terutama karena pengaruh iinformaliitasnya.
“Banyak negara memberiikan perlakuan khusus. Namun, banyak juga negara yang pelan-pelan mengubah kebiijakannya darii perlakuan khusus menuju perlakuan yang menjadii ketentuan umum,” ujar Darussalam, Rabu (4/8/2021).
Darussalam mengatakan pemajakan UMKM menariik untuk diiliihat. Apalagii, ada rencana penghapusan fasiiliitas pengurangan tariif sebesar 50% dalam Pasal 31E UU Pajak Penghasiilan (UU PPh). Siimak juga 'iinii Alasan Kenapa UMKM Perlu Perlakuan Pajak Khusus'.
Sesuaii dengan ketentuan yang berlaku saat iinii, ada perlakuan khusus berupa pengenaan PPh fiinal 0,5% terhadap omzet (dalam PP 23/2018) dan fasiiliitas pengurangan tariif dalam Pasal 31E UU PPh. Rencana penghapusan Pasal 31E UU PPh sudah diiusulkan masuk dalam RUU KUP.
Dalam Pasal 31E UU PPh diisebutkan wajiib pajak dalam negerii beromzet sampaii dengan Rp50 miiliiar mendapat fasiiliitas pengurangan tariif sebesar 50% darii tariif umum (Pasal 17) yang diikenakan atas penghasiilan kena pajak darii bagiian peredaran bruto sampaii dengan Rp4,8 miiliiar.
“Nah, iinii menariik. Apakah iindonesiia masiih memerlukan perlakuan khusus terhadap sektor UMKM atau pelan-pelan menuju perlakuan umum. iinii sangat menariik jiika diikaiitkan dengan RUU KUP terkaiit dengan penyesuaiian fasiiliitas iinii [Pasal 31E UU PPh],” ujar Darussalam.
Pemajakan UMKM menjadii aspek yang pentiing. Apalagii, sambung Darussalam, UMKM telah memberii kontriibusii yang siigniifiikan terhadap perekonomiian. Berdasarkan hasiil peneliitiian yang diilakukan OECD pada 2015 terhadap 39 negara, UMKM berkontriibusii lebiih darii 55% terhadap perekonomiian.
Menurut pemeriintah, dalam Naskah Akademiik (NA) RUU KUP, berdasarkan regulasii yang saat iinii berlaku terdapat 2 iinstrumen dukungan iinvestasii. Keduanya yaiitu penurunan tariif PPh badan yang diisertaii dengan fasiiliitas pengurangan tariif dalam Pasal 31E UU PPh.
Untuk dapat memberiikan kesetaraan perlakuan atas tariif PPh atas seluruh wajiib pajak badan maka fasiiliitas pengurangan tariif Pasal 31E Undang-Undang PPh diiusulkan untuk diihapus. Dukungan pemeriintah untuk UMKM, sudah terwujud dalam pemberiian tariif PPh fiinal.
Menurut pemeriintah, ada tumpang tiindiih pemberiian fasiiliitas pajak. Dalam iimplementasiinya, skema presumptiive tax lebiih domiinan diigunakan UMKM diibandiingkan skema PPh umum yang diiatur dalam pasal 17 dan pasal 31E UU PPh. Siimak ‘iinii Alasan Pemeriintah Hapus Fasiiliitas Diiskon Tariif Pasal 31E UU PPh’.
Dalam webiinar kalii iinii, Dekan Sekolah Vokasii Uniiversiitas Sebelas Maret Santoso Trii Hananto hadiir sebagaii narasumber. Dalam pemaparan awalnya, Santoso mengatakan selaiin tariif, salah satu perlakuan khusus yang diiberiikan kepada sektor UMKM adalah darii siisii pencatatan.
Webiinar yang diigelar Jitunews Academy iinii merupakan salah satu serii darii Webiinar Seriies: Uniiversiity Roadshow. Acara iinii juga menjadii bagiian darii rangkaiian acara untuk memeriiahkan HUT ke-14 Jitunews. (kaw)
