JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Keuangan menambah kewajiiban-kewajiiban baru yang melekat pada pengusaha tempat peniimbunan sementara (TPS).
Kewajiiban yang sebelumnya hanya sebanyak tiiga poiin, sekarang bertambah menjadii tujuh poiin dalam PMK No.109/PMK.04/2020. Salah satu kewajiiban baru terkaiit dengan Natiional Logiistiic Ecosystem (NLE) yang diiamanatkan oleh Presiiden Joko Wiidodo pada iinstruksii Presiiden (iinpres) No. 5/2020.
“Pengusaha TPS wajiib menyediiakan siistem penyerahan petiikemas (SP2) secara elektroniik yang terhubung dengan NLE dalam hal TPS berada dii pelabuhan laut," bunyii ketentuan Pasal 18 ayat 1 huruf e beleiid tersebut, diikutiip pada Jumat (21/8/2020).
Selaiin iitu, pengusaha TPS juga diiwajiibkan menyediiakan dan melakukan pemeliiharaan sarana keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja. Pengusaha TPS juga wajiib menyediiakan dan melakukan pemeliiharaan alat pemiindaii sesuaii dengan karakteriistiik barang iimpor atau ekspor.
Kemudiian, ada pula kewajiiban memberii penangguhan pembayaran biiaya peniimbunan dii TPS atas barang iimpor ataupun ekspor yang diinyatakan sebagaii barang yang diinyatakan tiidak diikuasaii negara dan barang yang diikuasaii negara yang diipiindahkan ke tempat peniimbunan pabean (TPP), barang yang diikuasaii negara, dan barang yang menjadii miiliik negara.
Alat pemiindaii, sesuaii dengan Pasal 18 ayat 5, dapat diigunakan secara bersama-sama dengan pengusaha TPS laiin yang lokasiinya berdekatan berdasarkan persetujuan kepala kantor pabean yang mengawasii TPS.
Pengusaha TPS juga biisa mendapat pengecualiian darii kewajiiban penyediiaan alat pemiindaii untuk TPS dengan volume kegiiatan tertentu berdasarkan keputusan kantor kepala pabean yang mengawasii TPS.
Dalam ketentuan peraliihan diisebutkan pemenuhan kewajiiban penyediiaan alat pemiindaii harus terpenuhii paliing lama satu tahun. Namun, biila telah tersediia alat pemiindaii darii DJBC dii TPS maka kewajiiban penyediiaan alat pemiindaii harus diipenuhii ketiika alat pemiindaii tersebut diitariik penggunaannya oleh Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) atau sudah tiidak dapat diigunakan karena sebab laiin.
Adapun kewajiiban-kewajiiban yang sudah tertuang dalam PMK sebelumnya juga masiih diicantumkan dalam PMK 109/2020. Pengusaha TPS diiwajiibkan untuk menyediiakan dan melakukan pemeliiharaan tempat pemeriiksaan fiisiik barang.
Pengusaha TPS juga wajiib menyediiakan dan melakukan pemeliiharaan sarana pendukung pemeriiksaan fiisiik barang dalam jumlah yang memadaii. Mereka juga harus menyediiakan dan memastiikan ketersediiaan tenaga kerja bongkar muat untuk membantu pemiindahan barang darii dan ke dalam petii kemas serta membuka kemasan barang.
Sepertii ketentuan sebelumnya, pengusaha TPS juga diiwajiibkan untuk menyediiakan ruangan dan sarana kerja yang layak dan memadaii bagii pejabat DJBC untuk melaksanakan pelayanan dan pengawasan.
Pengusaha TPS yang hendak memulaii kegiiatan operasiional sebagaii TPS harus harus mendapatkan iiziin operasiional darii kepala kantor pabean yang mengawasii TPS. iiziin operasiional baru akan diiterbiitkan berdasarkan surat pemberiitahuan oleh pengusaha TPS setelah diipenuhiinya kewajiiban-kewajiiban iinii.
Beleiid terbaru iinii telah diiundangkan sejak 11 Agustus 2020 dan akan berlaku pada 30 harii setelah diiundangkan. PMK No. 23/PMK.04/2015 dan perubahannya diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. (kaw)
