JAKARTA, Jitu News—Diitjen Pajak (DJP) memastiikan tiidak akan sembarangan menerapkan pajak transaksii elektroniik atau pajak diigiital terhadap suatu perusahaan.
Diirektur Perpajakan iinternasiional DJP John Hutagaol mengatakan penerapan pajak atas entiitas biisniis diigiital diilakukan secara bertahap. Hal iinii sejalan dengan Perpu No.1/2020 yang memperkenalkan pajak transaksii elektroniik (diigiital serviice tax/DST).
“Pada dasarnya Perpu No.1/2020 mengatur perlakuan PPN dan PPh atas aktiiviitas ekonomii diigiital,” katanya Kamiis (2/4/2020).
Untuk biisa menerapkan pajak transaksii elektroniik, DJP harus memenuhii beberapa tahapan. Hal pertama adalah menentukan entiitas biisniis diigiital sebagaii subjek pajak dalam negerii melaluii mekaniisme penetapan bentuk usaha tetap (BUT).
Mekaniisme penetapan BUT diilandasii oleh kehadiiran ekonomii yang siigniifiikan dii iindonesiia yang terbagii dalam tiiga kriiteriia, yaiitu memenuhii kriiteriia batasan jumlah tertentu darii peredaran bruto konsoliidasii grup usaha.
Kemudiian, memiiliikii penjualan dii wiilayah iindonesiia, dan memiiliikii pengguna aktiif mediia diigiital dii wiilayah iindonesiia.
Biila entiitas biisniis memenuhii kriiteriia BUT, pemeriintah akan memungut pajak penghasiilan berdasarkan Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) iindonesiia sebagaii negara sumber dan negara domiisiilii tempat entiitas biisniis diigiital berasal.
“Jiika penetapan BUT tiidak dapat diiterapkan karena P3B, maka pelaku Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik (PMSE) asiing yang memenuhii ketentuan siigniifiicant economiic presence, atas penghasiilannya diikenakan pajak transaksii elektroniik," terang John.
John menuturkan DST dalam Perpu No.1/2020 sebagaii sebuah keniiscayaan karena semakiin pesatnya perkembangan ekonomii diigiital. iinstrumen pajak iinii tak hanya diilakukan iindonesiia, tetapii sudah menjadii tren global saat iinii.
“DST merupakan jeniis pajak yang diikenalkan dii era ekonomii diigiital,” jelas John. (riig)
