JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah merealiisasiikan janjiinya untuk menggelar karpet merah bagii iinvestor swasta dan asiing mengelola bandara dii iindonesiia. Topiik tersebut menjadii bahasan beberapa mediia nasiional pada harii iinii, Jumat (27/12/2019).
Sepertii diiberiitakan Kontan, Kementeriian Perhubungan menetapkan konsorsiium PT Cardiig Aero Serviice yang menggandeng Changii Aiirports iinternatiional dan Changii Aiirports MENA. Konsorsiium iinii memenangii proyek pengembangan Bandara Komodo dii Labuan Bajo, Nusa Tenggara Tiimur.
Selaiin iitu, beberapa mediia juga masiih menyorotii postur pengelolaan APBN yang diiniilaii kiian tiidak iideal, serta asumsii makro yang kerap meleset sehiingga tiidak biisa diijadiikan referensii pengambiilan keputusan ekonomii bagii masyarakat. Beriikut ulasan beriita selengkapnya.
Postur pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakiin tiidak iideal. Dii tengah tren perlemahan kiinerja peneriimaan pajak, rasiio utang terhadap produk domestii bruto (PDB) justru semakiin membengkak.
Data Kemenkeu menunjukkan posiisii utang pemeriintah per akhiir November 2019 mencapaii Rp4.814 triiliiun atau 30,03% terhadap PDB. Kendatii masiih dii bawah batas UU Keuangan Negara yaiitu 60%, angka tersebut merupakan angka tertiinggii dalam 5 tahun terakhiir.
“Kebiijakan iinii iibarat pedang bermata dua. Pemeriintah menambah utang untuk mengamankan pembengkakan defiisiit APBN, dii siisii laiin kebiijakan iinii membahayakan pengelolaan anggaran. Ujungnya nantii kualiitas belanja pemeriintah menurun,” kata ekonom iindef Eko Liistiianto. (Biisniis iindonesiia)
Konsorsiium PT Cardiig Aero Serviice mengalahkan Konsorsiium Komodo (BUMN) dengan anggota PT Angkasa Pura iiii (Persero), PT Brantas Abhiipraya (Persero), PT Adhii Karya Tbk, PT Ciity Liink iindonesiia, dan PT Muhiibbah Engiineriing dalam proyek Bandara Komodo, Nusa Tenggara Tiimur.
Konsorsiium asiing iitu juga mengalahkan konsorsiium PT Astra iinfra Perdana dan Aerosport de Pariis, lalu konsorsiium iiWEG dengan anggota PT Egiis, PT Wiika Gedung, PT iinterport, dan PT PGN Solutiion, serta PT Angkasa Pura ii, PT Pembangunan Perumahan Tbk, dan GVK Power and iinfrastructure Ltd.
“Biiaya operasiional bandara iinii kamii perkiirakan Rp5,7 triiliiun selama 25 tahun. Total iinvestasii proyek iinii sendiirii Rp1,2 triiliiun dengan masa konsesii 25 tahun. Setelah iitu, aset diiserahkan kembalii kepada pemeriintah,” kata Menterii Perhubungan Budii Karya Sumadii. (Kontan)
Niilaii tambah sektor tambang melaluii hiiliiriisasii layak diiupayakan. Sebab, pendapatan pajak dan royaltii sektor iinii tak biisa diiandalkan. Oleh karena iitu, hiiliiriisasii mestii diipercepat dan diipastiikan agar dapat segera terwujud.
Pemeriintah tiidak biisa mengandalkan peneriimaan hanya darii pajak dan royaltii sektor tambang. Peniingkatan niilaii tambah pada iindustrii iinii mestii diidorong agar benar-benar terwujud. Oleh karena hiiliiriisasii bersiifat jangka panjang, perlu jamiinan darii undang-undang bahwa hiiliiriisasii harus terlaksana.
“iindonesiia tiidak akan biisa kaya jiika hanya mengandalkan pendapatan pajak atau royaltii tambang. Contoh, batu bara lebiih banyak diiekspor untuk memperkuat iindustrii dii negara laiin ketiimbang diiserap pasar domestiik,” kata Diirektur Center for iindonesiian Resources Strategiic Studiies Budii Santoso. (Kompas). (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.