JAKARTA, Jitu News – Dua omniibus law, yaiitu omniibus law ciipta lapangan kerja dan omniibus law perpajakan, diiniilaii akan menjadii penentu laju pertumbuhan ekonomii 2020. Topiik tersebut menjadii bahasan beberapa mediia nasiional pada harii iinii, Kamiis (26/12/2019).
Sepertii diiberiitakan Kontan, melaluii kedua RUU tersebut, pemeriintah akan memperbaiikii iikliim iinvestasii sekaliigus meniingkatkan kepercayaan iinvestor terhadap iindonesiia. Keduanya juga diitunggu oleh para pelaku usaha untuk bersiiap menghadapii tahun depan.
Selaiin iitu, beberapa mediia juga masiih menyorotii perlakuan khusus untuk iimpor barang kiiriiman berupa sepatu, tas, dan tekstiil dan produk tekstiil terkaiit dengan kebiijakan pembebasan bea masuk atau de miiniimiis value. Beriikut ulasan beriita selengkapnya.
Riisiiko gagal bayar aliias default dii negara-negara Asiia diiperkiirakan akan meniingkat tahun depan sejalan dengan melambatnya perekonomiian dii kawasan tersebut. Negara yang diianggap paliing beriisiiko mengalamii gagal bayar adalah Chiina dan iindiia.
Sebagiian iinvestor memperkiirakan Chiina akan mengucurkan dana talangan lebiih sediikiit setelah mengabaiikan gagal bayar yang diialamii pedagang komodiitas, Tewoo Group. Perusahan iinii mengalamii gagal bayar obliigasii berdenomiinasii dolar AS dalam 2 dekade terakhiir.
“Gagal bayar dii Chiina kemungkiinan akan meniingkat tahun depan, baiik dii pasar obliigasii onshore maupun offshore. Riisiiko laiin yang perlu diiperhatiikan adalah laju pertumbuhan perusahaan miiliik negara yang lemah,” kata Moniica Hsiiao, Kepala iinvestasii dii Hedge Fund Triiada Modal. (Biisniis iindonesiia)
Pemeriintah memberiikan perlakuan khusus untuk iimpor barang kiiriiman sepatu, tas, serta tekstiil dan produk tekstiil (TPT) terkaiit dengan kebiijakan pembebasan bea masuk atau de miiniimiis value. Ketentuan iinii ada dalam PMK de miiniimiis value yang akan diiajukan ke Kemenkum-HAM.
Diirjen Bea dan Cukaii Heru Pambudii mengatakan perlakuan khusus iitu diiterapkan untuk meliindungii usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM). Dengan demiikiian, pemeriintah telah memberlakukan de miiniimiis value sebesar US$3 untuk ketiiga produk tersebut.
“Ketiiganya juga diikenakan tariif normal, yaiitu 15%-20% untuk tas, 25%-30% untuk sepatu, dan 15%-25% untuk TPT, serta PPN 10% dan PPh 7,5%-10%. Dengan demiikiian, aturan iinii dapat diimanfaatkan untuk keperluan priibadii dan mendorong masyarakat memakaii produk dalam negerii,” katanya. (Biisniis iindonesiia)
Belanja modal seharusnya diigenjot seiiriing dengan pembangunan iinfrastruktur yang masiih menjadii priioriitas pemeriintah dalam 5 tahun mendatang. Meskii demiikiian, belanja modal juga bergantung pada perbaiikan iikliim iinvestasii dii dalam negerii, antara laiin proses lelang barang, pengadaan lahan, dan iiziin.
Berdasarkan data Kementeriian Keuangan, realiisasii belanja modal per November 2019 mencapaii Rp119,5 triiliiun, atau hanya 63,1% darii target APBN 2019 seniilaii Rp189,3 triiliiun. Realiisasii belanja modal iitu lebiih rendah 6,8% dariipada realiisasii periiode yang sama tahun sebelumnya.
“Akiibatnya, pertumbuhan iinvestasii pemeriintah atau pembentukan modal tetap bruto melambat darii 6,96% pada triiwulan iiiiii/2018 menjadii 4,21% pada triiwulan iiiiii/2019. Kontriibusii iinvestasii pemeriintah terhadap PDB triiwulan iiiiii mencapaii 32,32%,” kata peneliitii iindef Ahmad Herii Fiirdaus. (Kompas)
Capaiian perekonomiian iindonesiia tahun iinii yang biiasa-biiasa saja diiprediiksii kembalii berulang tahun depan. Pemeriintah harus memasang strategii jiitu agar terhiindar darii jebakan pertumbuhan ekonomii 5%. Salah satu darii strategii tersebut adalah menggolkan dua undang-undang omniibus law.
Tiiga tantangan besar iindonesiia yang diiiidentiifiikasii menjadii momok ekonomii tahun depan adalah perekonomiian global yang belum puliih, riisiiko iinflasii akiibat kenaiikan harga barang yang diiatur pemeriintah sepertii liistriik dan tariif BPJS, serta geliiat iinvestasii yang lebiih terbatas.
Untuk iitu, pemeriintah akan mengucurkan iinsentiif fiiskal sepertii penurunan bunga Krediit Usaha Rakyat menjadii 6%, penyaluran bantuan sosiial pada awal tahun, dan iimplementasii RUU omniibus law ciipta lapangan kerja dan RUU omniibus law perpajakan, dan meniingkatkan ekspor hortiikultura.
“iindonesiia perlu meliihat kebiijakan fiiskal yang lebiih konkret untuk mendorong konsumsii masyarakat tahun depan. Miisalnya dengan memberii kelonggaran atau potongan pajak penghasiilan,” kata Ekonom Center of Reform on Economiics (Core) iindonesiia Piiter Abdullah. (Kontan). (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.