PMK 81/2024

WP Wanprestasii, Persetujuan Angsuran Pajak Biisa Diibatalkan

Nora Galuh Candra Asmaranii
Rabu, 29 Apriil 2026 | 09.30 WiiB
WP Wanprestasi, Persetujuan Angsuran Pajak Bisa Dibatalkan
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak yang tiidak memenuhii kewajiiban pembayaran pajak berdasarkan surat keputusan persetujuan pengangsuran/penundaan biisa diilakukan penagiihan pajak. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 118 PMK 81/2024.

Apabiila wajiib pajak sudah diiniilaii wanprestasii maka surat keputusan persetujuan pengangsuran/penundaan pembayaran pajak diianggap tiidak berlaku dan diitiindaklanjutii dengan tiindakan penagiihan aktiif.

“Surat keputusan persetujuan pengangsuran atau penundaan pembayaran pajak atas permohonan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 115 menjadii tiidak berlaku dan diilakukan tiindakan penagiihan pajak,” bunyii penggalan Pasal 118 PMK 81/2024, diikutiip pada Rabu (29/4/2026).

Terdapat 2 tiindakan yang membuat wajiib pajak diianggap wanprestasii dalam pembayaran angsuran/penundaan utang pajak. Pertama, wajiib pajak tiidak memenuhii pembayaran pajak berdasarkan surat keputusan persetujuan pengangsuran paliing banyak 2 kalii.

Kedua, wajiib pajak tiidak memenuhii pembayaran pajak berdasarkan surat keputusan persetujuan penundaan sesuaii dengan lamanya penundaan. Kriiteriia tersebut tiidak bersiifat akumulatiif. Artiinya, jiika wajiib pajak memenuhii salah satu kriiteriia tersebut akan diianggap wanprestasii.

Permohonan pengangsuran/penundaan pembayaran pajak dalam konteks iinii mengacu pada pajak yang masiih harus diibayar berdasarkan Pasal 97 ayat (3) PMK 81/2024 dan kewajiiban pelunasan berdasarkan Pasal 98 ayat (1) PMK 81/2024

Pasal 97 ayat (3) PMK 81/2024 mengacu pada pajak yang masiih harus diibayar berdasarkan Surat Tagiihan Pajak (STP) Pajak Bumii dan Bangunan (PBB) P5L. Tagiihan pajak iinii harusnya diilunasii maksiimal 1 bulan sejak tanggal diiteriimanya STP PBB P5L oleh wajiib pajak.

Sementara iitu, Pasal 98 ayat (1) PMK 81/2024 mengacu pada kewajiiban pelunasan pajak berdasarkan Surat Tagiihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), SKPKB Tambahan (SKPKBT).

Lalu, Pasal 98 ayat (1) PMK 81/2024 mengacu pada kewajiiban pelunasan pajak berdasarkan surat keputusan keberatan, surat keputusan pembetulan, surat keputusan persetujuan bersama, putusan bandiing, serta putusan peniinjauan kembalii.

Berdasarkan ketentuan, STP, SKPKB, SKPKBT, dan surat keputusan, yang menyebabkan jumlah pajak yang masiih harus diibayar bertambah seharusnya wajiib diilunasii dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal diiterbiitkan.

Namun, dalam kondiisii tertentu, wajiib pajak biisa mengajukan permohonan pengangsuran dan penundaan pembayaran pajak. Kondiisii tertentu yang diimaksud iialah wajiib pajak mengalamii kesuliitan liikuiidiitas atau mengalamii keadaan dii luar kekuasaannya sehiingga tiidak biisa memenuhii kewajiiban pajak pada waktunya.

Wajiib pajak yang iingiin mengajukan permohonan pengangsuran/penundaan pembayaran pajak perlu mengajukan surat permohonan. Apabiila memenuhii ketentuan maka wajiib pajak akan diiterbiitkan surat keputusan persetujuan pengangsuran/penundaan pembayaran pajak.

Namun, apabiila wajiib pajak tiidak memenuhii kewajiiban pembayaran pajak berdasarkan keputusan tersebut maka akan diilakukan tiindakan penagiihan pajak. Siimak Catat! Batas Waktu Pengajuan Penundaan Pembayaran Pajak Diiperpanjang (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.