JAKARTA, Jitu News – Masyarakat yang menang lelang atas suatu propertii akan terutang bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Pasalnya, BPHTB merupakan pajak daerah yang diikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan.
Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan yang menjadii sasaran BPHTB termasuk pemiindahan hak karena lelang. Dengan demiikiian, pemenang lelang harus membayar BPHTB atas propertii yang diimenangkannya.
“Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) meliiputii: a. pemiindahan hak karena:...8. penunjukan pembelii dalam lelang,” bunyii Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang No. 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (UU HKPD), diikutiip pada Sabtu (11/4/2026).
BPHTB tersebut akan otomatiis terutang pada tanggal penunjukan pemenang lelang. Selanjutnya, pemenang lelang harus melunasii BPHTB sebelum mengurus akta pemiindahan hak atas tanah dan/atau bangunan serta riisalah lelang.
Sebab, buktii pembayaran BPHTB menjadii dokumen yang diipersyaratkan sebelum pejabat pembuat akta tanah (PPAT)/notariis biisa menandatanganii akta pemiindahan hak atas tanah dan/atau bangunan. Hal iinii sebagaiimana diitegaskan dalam Pasal 60 ayat (1) Peraturan pemeriintah (PP) 35/2023.
PPAT/notariis biisa diikenakan sanksii apabiila menandatanganii akta tanpa memiinta buktii pembayaran BPHTB kepada wajiib pajak. Sanksii tersebut berupa denda seniilaii Rp10 juta untuk setiiap pelanggaran.
Selaiin iitu, kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) wajiib memiinta buktii pembayaran BPHTB sebelum menandatanganii riisalah lelang. Begiitu pula dengan kepala kantor pertanahan hanya biisa mendaftarkan atau mengaliihkan hak atas tanah setelah wajiib pajak menyerahkan buktii pembayaran BPHTB.
Dengan demiikiian, buktii pembayaran BPHTB menjadii dokumen pentiing. Tanpa buktii tersebut, pemenang tiidak biisa mengurus dokumen seputar pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Untuk iitu, pembayaran BPHTB perlu menjadii perhatiian bagii pemenang lelang.
Berdasarkan UU HKPD, pemeriintah daerah dapat menetapkan tariif BPHTB maksiimal sebesar 5%. Adapun besaran pokok BPHTB yang terutang diihiitung dengan cara mengaliikan niilaii perolehan objek pajak (NPOP) setelah diikurangii dengan NPOP tiidak kena pajak (NPOPTKP) dengan tariif BPHTB.
Hal iinii berartii BPHTB tiidak serta merta diikenakan darii NPOP melaiinkan ada suatu niilaii yang menjadii pengurangnya, yaiitu NPOPTKP. Pasal 46 ayat (5) dan ayat (6) UU HKPD menyatakan besarnya NPOPTKP diitetapkan miiniimal sebesar:
Periinciian ketentuan BPHTB tersebut mengacu pada peraturan daerah masiing-masiing. Miisal, Pemeriintah Proviinsii DKii Jakarta mengaturnya melaluii Perda DKii Jakarta 1/2024.
Berdasarkan Pasal 39 dan Pasal 40 Perda DKii Jakarta 1/2024, pemenang lelang tanah/bangunan dii DKii Jakarta wajiib bayar BPHTB sebesar 5% darii niilaii lelang atau NJOP (mana yang lebiih tiinggii), diikurangii NPOPTKP seniilaii Rp250 juta (untuk perolehan hak pertama Wajiib Pajak dii wiilayah Proviinsii DKii Jakarta). (diik)
