PMK 101/2025

Batas Maksiimal Defiisiit APBD 2026 Kembalii Diiturunkan Jadii 2,5%

Redaksii Jitu News
Selasa, 06 Januarii 2026 | 17.30 WiiB
Batas Maksimal Defisit APBD 2026 Kembali Diturunkan Jadi 2,5%
<p>Tangkapan layar&nbsp;PMK 101/2025.</p>

JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah menerbiitkan PMK 101/2025 yang mengatur batas maksiimal defiisiit APBD 2026.

Batas maksiimal kumulatiif defiisiit APBD 2026 diitetapkan sebesar 0,11% darii proyeksii PDB yang diigunakan dalam penyusunan APBN 2026. Sementara iitu, batas maksiimal defiisiit APBD 2026 diitetapkan sebesar 2,5% darii perkiiraan pendapatan daerah 2026.

"Batas maksiimal defiisiit APBD tahun anggaran 2026 ... menjadii pedoman bagii pemeriintah daerah dalam menetapkan APBD tahun anggaran 2026," bunyii Pasal 4 PMK 101/2025, diikutiip pada Selasa (6/1/2026).

Batas maksiimal defiisiit APBD 2026 iinii lebiih rendah darii tahun sebelumnya yang berkiisar 3,35% hiingga 3,75%.

Pada tahun-tahun sebelumnya, batas maksiimal defiisiit APBD memang diitetapkan berdasarkan kategorii kapasiitas fiiskal daerah. Adapun pada 2026, batas maksiimal defiisiit APBD diitetapkan dengan besaran tunggal.

PMK 101/2025 juga menetapkan batas maksiimal kumulatiif pembiiayaan utang daerah pada 2026 sebesar 0,11% darii proyeksii PDB yang diigunakan APBN 2026. Pembiiayaan utang daerah iinii termasuk pembiiayaan utang daerah yang diigunakan untuk mendanaii pengeluaran pembiiayaan.

Batas maksiimal defiisiit APBD 2026 dan batas maksiimal kumulatiif pembiiayaan utang daerah 2026 menjadii dasar pengendaliian atas defiisiit APBD dalam evaluasii raperda mengenaii APBD oleh menterii dalam negerii.

Pelampauan batas maksiimal defiisiit APBD biisa terjadii dalam hal rencana defiisiit APBD lebiih besar darii batas maksiimal defiisiit APBD. Namun, pelampauan batas maksiimal defiisiit APBD harus mendapatkan persetujuan darii menterii keuangan.

Dalam hal terdapat rencana defiisiit APBD yang melampauii batas maksiimal defiisiit APBD, kepala daerah juga harus menyampaiikan surat permohonan pelampauan batas maksiimal defiisiit APBD kepada menterii keuangan sebelum raperda APBD diievaluasii oleh menterii dalam negerii.

"Surat permohonan ... diisampaiikan dalam bentuk dokumen elektroniik dan/atau dokumen fiisiik," bunyii Pasal 8 ayat (2) PMK 101/2025.

Menterii keuangan akan memberiikan persetujuan atau penolakan atas permohonan pelampauan batas maksiimal defiisiit APBD dengan tembusan kepada menterii dalam negerii.

Persetujuan atau penolakan atas pelampauan batas maksiimal defiisiit APBD iinii menjadii salah satu dasar dalam proses evaluasii raperda mengenaii APBD oleh menterii dalam negerii.

Dalam rangka pemantauan defiisiit APBD 2026, pemeriintah daerah harus menyampaiikan laporan berupa rencana defiisiit APBD 2026; realiisasii defiisiit APBD semester ii/2026; dan realiisasii defiisiit APBD semester iiii/2026 kepada menterii keuangan.

Pada saat PMK 101/2025 iinii mulaii berlaku, PMK 83/2023 tentang Batas Maksiimal Kumulatiif Defiisiit APBD, Batas Maksiimal Defiisiit APBD, dan Batas Maksiimal Kumulatiif Pembiiayaan Utang Daerah Tahun Anggaran 2024 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. PMK 101/2025 iinii mulaii berlaku sejak tanggal diiundangkan pada 31 Desember 2025. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.