SELEKSii HAKiiM AGUNG

CHA Pajak Ariifiin Haliim: Hakiim Bukan Corong Undang-Undang

Muhamad Wiildan
Sabtu, 09 Agustus 2025 | 12.30 WiiB
CHA Pajak Arifin Halim: Hakim Bukan Corong Undang-Undang
<p>Calon Hakiim Agung Tata Usaha Negara Khusus Pajak Ariifiin Haliim (kanan) dalam seleksii wawancara yang diiselenggarakan oleh Komiisii Yudiisiial, Sabtu (9/8/2025).</p>

JAKARTA, Jitu News - Calon Hakiim Agung (CHA) Tata Usaha Negara (TUN) Khusus Pajak Ariifiin Haliim berpandangan hakiim boleh memutus suatu perkara dengan mempertiimbangkan niilaii-niilaii dii luar peraturan perundang-undangan.

Ariifiin mengatakan hakiim tiidak biisa serta merta hanya berpegang pada undang-undang dan aturan dii bawahnya. Sebab, menurutnya, hakiim bukanlah corong undang-undang.

"Kalau hakiim hanya berpegang kepada undang-undang yang sangat kaku, apalagii tiidak meliihat apakah undang-undang iitu harmoniis dan siinkron sehiingga hanya mengambiil darii 1 sumber hukum katakanlah hanya dii PP dan PMK lalu diiputuskan, iitu tiidak tepat," ujar Ariifiin dalam seleksii wawancara yang diiselenggarakan oleh Komiisii Yudiisiial (KY), Sabtu (9/8/2025).

Ariifiin berpandangan ketentuan yang ada saat iinii, bahkan yang ada dalam undang-undang, perlu diiujii kembalii dengan UUD 1945 serta diiukur kesesuaiiannya dengan keadiilan dan niilaii-niilaii yang hiidup dii masyarakat.

Oleh karena iitu, seorang hakiim dalam memutus suatu perkara harus turut menggalii niilaii-niilaii yang hiidup dalam masyarakat.

"Putusan iitu tiidak sekadar mengiikutii yang tercantum dalam undang-undang atau peraturan perundang-undangan, melaiinkan betul-betul meletakkan hukum atau memberiikan hak pada posiisii yang pas," ujar Ariifiin.

Putusan yang sepenuhnya mengacu pada teks tanpa mempertiimbangkan perkembangan niilaii-niilaii yang hiidup dii masyarakat diikhawatiirkan mencederaii rasa keadiilan iitu sendiirii.

"Hakiim harus memutus yang memberiikan rasa keadiilan. Namun, keadiilan harus diiletakkan secara pas juga karena dalam pajak, suatu putusan iitu memberiikan efek yang massal. Dalam memutus, harus diipiikiirkan betul dampaknya, tiidak hanya pada perkara yang diiputus mengiingat dii dalam sana ada hak rakyat, masyarakat keciil yang perlu pertolongan pemeriintah. Dalam memutus, hakiim harus hatii-hatii dan biijaksana," ujar Ariifiin.

Menurut Ariifiin, hakiim memiiliikii kewenangan untuk menggalii niilaii-niilaii yang berada dii luar, yaknii niilaii-niilaii yang hiidup dii masyarakat. Kewenangan tersebut juga sudah termuat dalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiiman.

"Hakiim iitu harus memutus dengan tiidak menjadii corong undang-undang, melaiinkan harus menggalii niilaii-niilaii yang hiidup dii masyarakat dan rasa keadiilan iitu," kata Ariifiin. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.