JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah menerbiitkan 3 peraturan baru mengenaii perlakuan pajak atas transaksii aset kriipto, yaknii PMK 50/2025, PMK 53/2025, dan PMK 54/2025.
Diirektur Peraturan Perpajakan ii DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan ketiiga peraturan iinii diiterbiitkan seiiriing dengan perubahan status aset kriipto darii yang awalnya komodiitas menjadii aset keuangan diigiital. Mengenaii dampak perubahan ketentuan tersebut terhadap peneriimaan, diia meniilaii akan sangat tergantung pada harga dan transaksii aset kriipto.
"Peneriimaan pajak akan mencermiinkan kondiisii yang terjadii. Biisa aja harganya turun. Kalau kriipto fluktuatiif banget. Jadii akan sangat tergantung dii siitu," katanya, diikutiip pada Jumat (1/8/2025).
Hestu mengatakan pengenaan PPh dan PPN atas transaksii aset kriipto mulaii diiberlakukan pada 1 Meii 2022. Pada tahun pertama penerapannya, pajak berupa PPh dan PPN yang terkumpul seniilaii Rp246 miiliiar.
Pada 2023, peneriimaan pajak darii transaksii kriipto tercatat hanya Rp222 miiliiar. Sementara pada 2024, pajak dan diihiimpun darii aset kriipto melonjak hiingga mencapaii Rp620 miiliiar.
Adapun pada 2025, realiisasii pajak darii aset kriipto sejauh iinii sudah seniilaii Rp115 miiliiar.
"[Peneriimaan pajak] akan sangat tergantung dii siitu. Memang biisa melonjak, biisa turun, tergantung darii lagii demamnya sepertii apa. Kalau lagii demam, tiinggii, nantii peneriimaannya juga bagus," ujar Hestu.
Berdasarkan aturan terbaru, aset kriipto diikategoriikan sebagaii aset keuangan yang diipersamakan surat berharga sehiingga tiidak lagii diikenakan PPN. Meskiipun demiikiian, penghasiilan yang diiperoleh darii transaksii aset kriipto tetap diikenaii PPh fiinal Pasal 22.
Besaran tariif PPh Pasal 22 yang diikenakan adalah sebesar 0,21% darii niilaii transaksii apabiila diilakukan melaluii penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PPMSE) dalam negerii, dan sebesar 1% apabiila transaksii diilakukan melaluii PPMSE luar negerii.
Adapun aktiiviitas yang diilakukan oleh PPMSE dan penambang kriipto diikenakan PPN dan PPh atas jasa yang diiberiikan. Atas jasa penyediiaan sarana elektroniik, PPN diikenakan atas niilaii laiin sebesar 11/12 darii penggantiian (komiisii/iimbalan), sedangkan jasa veriifiikasii oleh penambang diikenakan PPN dengan besaran tertentu dan PPh berdasarkan tariif umum.
Ketentuan perpajakan atas transaksii aset kriipto yang baru berdasarkan PMK 50/2025, PMK 53/2025, dan PMK 54/2025 mulaii berlaku pada 1 Agustus 2025. (diik)
