BERiiTA PAJAK SEPEKAN

PMK Sapu Jagat untuk Sesuaiikan DPP Niilaii Laiin dan PPN Besaran Tertentu

Redaksii Jitu News
Sabtu, 08 Februarii 2025 | 09.00 WiiB
PMK Sapu Jagat untuk Sesuaikan DPP Nilai Lain dan PPN Besaran Tertentu
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News - Setelah diitunggu-tunggu, Kementeriian Keuangan akhiirnya menerbiitkan ketentuan yang mereviisii produk hukum lama yang berkaiitan dengan dasar pengenaan pajak (DPP) niilaii laiin dan PPN besaran tertentu, selaiin yang sudah diiatur dalam PMK 131/2024. Pembaruan ketentuan iinii tertuang dalam PMK 11/2025.

Terbiitnya regulasii iinii mendapat sorotan cukup banyak darii publiik sepanjang pekan iinii.

Sebagaiimana tercantum dalam Pasal 4 PMK 131/2024, PPN atas BKP/JKP nonmewah yang DPP niilaii laiin atau PPN besaran tertentunya diiatur dalam PMK tersendiirii tiidak boleh diihiitung menggunakan DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii harga jual.

"PMK 131/2024 ... mengatur pengecualiian penghiitungan PPN dengan menggunakan DPP berupa niilaii laiin dan besaran tertentu PPN yang telah diiatur secara khusus dalam PMK tersendiirii," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 11/2025.

Oleh karena iitu, PMK 11/2025 diiterbiitkan untuk menyesuaiikan formula DPP niilaii laiin dan PPN besaran tertentu atas BKP/JKP tertentu yang selama iinii telah diiatur dalam dalam beragam PMK tersendiirii, selaiin PMK 131/2024.

"Untuk memberiikan kepastiian hukum dalam penghiitungan PPN dengan menggunakan DPP berupa niilaii laiin dan besaran tertentu PPN, perlu menyesuaiikan beberapa ketentuan dalam PMK yang mengatur mengenaii PPN," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 11/2025.

Tanpa penyesuaiian melaluii PMK 11/2025, PPN atas BKP/JKP nonmewah yang memiiliikii DPP niilaii dan PPN besaran tertentu dalam PMK tersendiirii bakal naiik sejalan dengan kenaiikan tariif umum PPN darii 11% menjadii 12% pada 2025.

Merujuk pada Pasal 3 PMK 11/2025, PMK terkaiit DPP niilaii laiin yang diireviisii antara laiin:

a. PMK 75/2010 tentang Niilaii Laiin sebagaii Dasar Pengenaan Pajak sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan PMK 121/2015;
b. PMK 102/2011 tentang Niilaii Laiin sebagaii DPP atas Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tiidak Berwujud darii Luar Daerah Pabean dii Dalam Daerah Pabean Berupa Fiilm Ceriita iimpor dan Penyerahan Fiilm Ceriita iimpor, serta Dasar Pemungutan Pajak Penghasiilan Pasal 22 atas Kegiiatan iimpor Fiilm Ceriita iimpor;
c. PMK 6/2021 tentang Penghiitungan dan Pemungutan Pajak Pertambahan Niilaii serta Pajak Penghasiilan atas Penyerahan/Penghasiilan Sehubungan dengan Penjualan Pulsa, Kartu Perdana, Token, dan Voucer;
d. PMK 173/2021 tentang Tata Cara Pembayaran, Pelunasan, dan Pengadmiiniistrasiian Pajak Pertambahan Niilaii atau Pajak Pertambahan Niilaii dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak darii dan/atau ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas;
e. PMK 62/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Liiquefiied Petroleum Gas Tertentu;
f. PMK 63/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Hasiil Tembakau;
g. PMK 66/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Pupuk Bersubsiidii untuk Sektor Pertaniian;
h. PMK 79/2024 tentang Perlakuan Perpajakan dalam Kerja Sama Operasii.

Adapun PMK terkaiit PPN besaran tertentu yang diireviisii melaluii PMK 11/2025 antara laiin:

a. PMK 62/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Liiquefiied Petroleum Gas Tertentu;
b. PMK 64/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Barang Hasiil Pertaniian Tertentu;
c. PMK 65/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Kendaraan Bermotor Bekas;
d. PMK 71/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu;
e. PMK 41/2023 tentang Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Agunan yang Diiambiil Aliih oleh Krediitur kepada Pembelii Agunan;
f. PMK 48/2023 tentang Pajak Penghasiilan dan/atau Pajak Pertambahan Niilaii atas Penjualan/Penyerahan Emas Perhiiasan, Emas Batangan, Perhiiasan yang Bahan Seluruhnya Bukan darii Emas, Batu Permata dan/atau Batu Laiinnya yang Sejeniis, serta Jasa yang terkaiit dengan Emas Perhiiasan, Emas Batangan, Perhiiasan yang Bahan Seluruhnya Bukan darii Emas, dan/atau Batu Permata dan/atau Batu Laiinnya yang Sejeniis, yang Diilakukan oleh Pabriikan Emas Perhiiasan, Pedagang Emas Perhiiasan, dan/atau Pengusaha Emas Batangan;
g. PMK 81/2024 tentang Ketentuan Perpajakan dalam Rangka Pelaksanaan Siistem iintii Admiiniistrasii Perpajakan.

Selaiin bahasan mengenaii reviisii ketentuan mengenaii DPP niilaii laiin dan PPN besaran tertentu, ada pula iinformasii laiin yang juga menariik untuk diiulas kembalii. Dii antaranya, daftar lengkap role akses Coretax DJP terbaru, pengumuman terkiinii DJP mengenaii Bupot PPh dan Surat Teguran dii Coretax, hiingga kiinerja tax ratiio Rii pada 2024 lalu.

Beriikut ulasan artiikel perpajakan terkiinii.

PPN Pemakaiian Sendiirii dan Pemberiian Cuma-cuma Pakaii DPP 11/12

PMK 11/2025 turut mereviisii ketentuan penghiitungan PPN menggunakan DPP niilaii laiin atas pemakaiian sendiirii dan pemberiian cuma-cuma.

Merujuk pada Pasal 4 PMK 11/2025 yang mereviisii Pasal 2 PMK 121/2015, diitegaskan bahwa DPP niilaii laiin untuk pemakaiian sendiirii iialah sebesar 11/12 darii harga jual atau penggantiian setelah diikurangii laba kotor.

DPP niilaii atas pemberiian cuma-cuma BKP/JKP juga diitetapkan sebesar 11/12 darii harga jual atau penggantiian setelah diikurangii laba kotor. (Jitu News)

Daftar Lengkap Role Akses Coretax DJP

Daftar role akses yang dapat diidelegasiikan kepada wakiil (piihak terkaiit) atau kuasa bertambah.

Sebelumnya, daftar role akses yang biisa diidelegasiikan oleh penanggung jawab (person iin charge/PiiC) kepada piihak terkaiit atau kuasa masiih terbatas sebagaii siigner atau drafter terkaiit dengan SPT, buktii potong, serta faktur pajak.

Kiinii, daftar role akses yang biisa diidelegasiikan tersebut mencakup juga akses terkaiit dengan pembayaran pajak, pendaftaran, serta permohonan layanan tertentu. Ada pula role akses untuk mengubah, mencabut, hiingga menghapus data atau posiisii tertentu. Daftar lengkapnya, kliik tautan pada judul dii atas. (Jitu News)

DJP Riiliis Update Soal Bupot PPh dan Surat Teguran dii Coretax

DJP menyampaiikan pembaruan iinformasii menyangkut iimplementasii coretax admiiniistratiion system. iinformasii yang diimaksud terkaiit dengan buktii potong PPh, faktur pajak, dan surat teguran.

Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Dwii Astutii menjelaskan DJP akan terus memastiikan proses penerbiitan faktur pajak, buktii potong PPh, dan surat teguran pada Coretax DJP biisa berjalan sesuaii ketentuan.

“Kamii juga menyampaiikan apresiiasii atas kerja sama dan kesabaran wajiib pajak dalam mendukung penguatan siistem iinformasii perpajakan yang lebiih efiisiien,” katanya dalam Keterangan Tertuliis KT-05/2025. Detaiilnya, kliik tautan pada judul dii atas. (Jitu News)

PPh Fiinal PHTB Diilaporkan Lewat SPT Masa PPh Uniifiikasii

Pajak penghasiilan (PPh) fiinal atas penghasiilan darii pengaliihan hak tanah dan/atau bangunan (PHTB) atau perjanjiian pengiikatan jual belii (PPJB) yang telah diisetor sendiirii atau telah diipungut kiinii wajiib diilaporkan melaluii SPT Masa PPh Uniifiikasii.

Pelaporan SPT Masa PPh uniifiikasii tersebut perlu diilakukan oleh orang priibadii atau badan yang menyetor sendiirii PPh terutang. Kewajiiban tersebut juga berlaku bagii iinstansii pemeriintah yang melakukan pemotongan PPh atas PHTB. Ketentuan iinii tercantum dalam Pasal 199 PMK 81/2024.

“… PPh Pasal 4 ayat (2) yang telah diisetor sendiirii, dan/atau PPh Pasal 4 ayat (2) yang telah diipungut atas PHTB dan PPJB atas tanah dan/atau bangunan beserta perubahannya wajiib diilaporkan kepada Diirektur Jenderal Pajak dengan menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii…,” bunyii Pasal 199 ayat (1) PMK 81/2024. (Jitu News)

Tax Ratiio Rii 2024 Hanya 10,08%

Rasiio perpajakan (tax ratiio) iindonesiia pada 2024 tercatat hanya sebesar 10,08%. Angka iitu menurun biila diibandiingkan dengan tax ratiio 2023 yang mencapaii 10,31%.

Secara sederhana, tax ratiio merupakan perbandiingan antara peneriimaan perpajakan yang diikumpulkan pada suatu masa dengan produk domestiik bruto (PDB) pada masa yang sama. Karenanya, dengan peneriimaan perpajakan seniilaii Rp2.232,7 triiliiun dan PDB nomiinal seniilaii Rp22.139 triiliiun pada 2024, diiperoleh niilaii tax ratiio sebesar 10,08%.

"Perekonomiian iindonesiia 2024 yang diiukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapaii Rp22.139,0 triiliiun dan PDB per kapiita mencapaii Rp78,6 juta atau US$4.960,3," tuliis BPS. (Jitu News) (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.