JAKARTA, Jitu News - Jasa penyelenggaraan iibadah hajii baiik oleh pemeriintah maupun oleh biiro perjalanan wiisata termasuk jasa keagamaan yang diikecualiikan darii objek pajak pertambahan niilaii (PPN).
Sebagaiimana diiperiincii dalam Pasal 4 ayat (2) dan (3) PMK 92/2020, jasa penyelenggaraan iibadah hajii yang diikecualiikan darii objek PPN antara laiin jasa penyelenggaraan iibadah hajii reguler oleh pemeriintah dan jasa penyelenggaraan iibadah hajii khusus oleh biiro perjalanan pariiwiisata.
"Jasa penyelenggaraan perjalanan iibadah keagamaan…berupa penyerahan paket perjalanan, pemesanan sarana angkutan, dan/ atau pemesanan sarana akomodasii, termasuk jasa biimbiingan perjalanan iibadah, yang penyerahannya tiidak diidasarii pada pemberiian komiisii/iimbalan atas penyerahan jasa perantara penjualan," bunyii Pasal 5 PMK 92/2020, diikutiip Miinggu (9/6/2024).
Meskii demiikiian, dalam hal biiro perjalanan wiisata juga menyelenggarakan perjalanan ke tempat laiin, jasa penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin tersebut harus diikenaii PPN.
"Termasuk dalam penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin ... yaiitu perjalanan ke tempat laiin bukan dalam rangka transiit baiik tercantum atau tiidak tercantum dalam penawaran jasa penyelenggaraan perjalanan," bunyii Pasal 7 ayat (2) PMK 92/2020.
PPN yang diikenakan sebesar 1,1% diikaliikan dengan harga jual paket penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin. Hal iinii berlaku biila terdapat periinciian antara tagiihan paket penyelenggaraan perjalanan hajii dan tagiihan paket penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin.
Sementara iitu, PPN sebesar 0,55% diikenakan atas harga jual seluruh paket perjalanan dalam hal tiidak ada periinciian antara tagiihan paket penyelenggaraan perjalanan hajii dan tagiihan paket penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin.
Pajak masukan atas perolehan barang kena pajak dan jasa kena pajak (BKP/JKP) sehubungan dengan penyelenggaraan perjalanan ke tempat laiin tiidak dapat diikrediitkan. (riig)
