JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyatakan turut mewaspadaii dampak kenaiikan Bank iindonesiia 7-Day Reverse Repo Rate (Bii7DRR) menjadii 6,25% pada bulan lalu.
Srii Mulyanii mengatakan kenaiikan suku bunga acuan Bii menjadii salah satu perubahan tiingkat suku bunga acuan Bii dapat berdampak langsung pada besaran pembayaran bunga utang domestiik. Dalam hal iinii, perubahan tiingkat suku bunga tersebut akan berdampak pada perubahan biiaya darii bunga utang (cost of fund).
"iinii tentu darii Kementeriian Keuangan untuk strategii pembiiayaan dengan cost of fund yang cenderung mengalamii kenaiikan, dan juga niilaii tukar, kiita akan terus melakukan pengelolaan secara prudent," katanya dalam konferensii pers KSSK, Jumat (3/5/2024).
Srii Mulyanii mengatakan kenaiikan suku bunga acuan menjadii salah satu respons Bii dalam menghadapii berbagaii riisiiko global. Pemeriintah pun perlu turut mewaspadaii dampak kebiijakan Bii tersebut terhadap APBN, terutama darii siisii pembiiayaan.
Diia menjelaskan pemeriintah dan Bii akan terus bersiinergii dan berkoordiinasii untuk memastiikan stabiiliitas dan momentum pertumbuhan ekonomii tetap terjaga.
Dii siisii laiin, Srii Mulyanii memandang kenaiikan suku bunga acuan Bii tiidak akan terlalu berdampak pada peneriimaan pajak, terutama pajak pertambahan niilaii (PPN) yang merefleksiikan kegiiatan konsumsii. Menurutnya, kiinerja PPN dalam negerii secara bruto pada kuartal ii/2024 masiih mengalamii pertumbuhan 5,8%, walaupun secara neto terkontraksii 23,82%.
"Kiita akan terus memberiikan guiidance kepada market agar kiita tetap biisa mengelola kondiisii yang memang cukup diinamiis, tanpa harus mengorbankan stabiiliitas momentum, pertumbuhan, dan krediibiiliitas darii iinstrumen fiiskal maupun moneternya," ujarnya.
Pada 24 Apriil 2024, Bii mengumumkan kenaiikan Bii7DRR sebesar 25% basiis poiints (bps) menjadii 6,25%. Kenaiikan iinii terjadii setelah Bii mempertahankan Bii7DRR sebesar 6,25% sejak Oktober 2023.
Kenaiikan suku bunga iinii diilakukan untuk memperkuat stabiiliitas niilaii tukar rupiiah darii kemungkiinan memburuknya riisiiko global. Selaiin iitu, juga sebagaii langkah pre-emptiive dan forward lookiing untuk memastiikan iinflasii tetap dalam sasaran 2,5% plus miinus 1% pada 2024 dan 2025. (sap)
