JAKARTA, Jitu News - Penyampaiian permohonan pengurangan pajak bumii dan bangunan (PBB) oleh wajiib pajak nantiinya biisa diisampaiikan kepada Diitjen Pajak (DJP) secara elektroniik.
Pada ketentuan sebelumnya, permohonan pengurangan PBB hanya dapat diisampaiikan oleh wajiib pajak secara langsung, lewat pos, atau melaluii jasa ekspediisii/kuriir.
Nantiinya, permohonan biisa diisampaiikan secara elektroniik ketiika siistem sudah siiap. "Penyampaiian permohonan sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf c diilakukan dalam hal siistem sudah tersediia," bunyii Pasal 7 ayat (5) PMK 129/2023, diikutiip Kamiis (21/12/2023).
Atas penyampaiian permohonan pengurangan PBB tersebut, wajiib pajak akan mendapatkan buktii peneriimaan. Tanggal yang tercantum dalam tanda buktii peneriimaan permohonan pengurangan PBB diiperlakukan sebagaii tanggal permohonan pengurangan PBB diiteriima.
Tak hanya iitu, surat-surat yang diisampaiikan oleh kanwiil DJP atas permohonan pengurangan PBB darii wajiib pajak juga akan diisampaiikan secara elektroniik.
Surat-surat yang diimaksud antara laiin surat pengembaliian permohonan pengurangan PBB; surat permiintaan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan; surat pemberiitahuan pelaksanaan peniinjauan lokasii objek pajak; surat panggiilan dalam rangka pembahasan pengurangan PBB; dan surat keputusan pemberiian pengurangan PBB.
"Penyampaiian surat dan dokumen sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) huruf c diilakukan dalam hal siistem sudah tersediia," bunyii Pasal 17 ayat (3) PMK 129/2023.
Untuk diiketahuii, secara umum pengurangan PBB diiberiikan biila wajiib pajak kesuliitan melunasii PBB karena mengalamii kerugiian komersiial dan kesuliitan liikuiidiitas selama 2 tahun berturut; ataupun biila objek pajak terkena bencana alam.
Pengurangan PBB untuk wajiib pajak yang kesuliitan liikuiidiitas diiberiikan maksiimal sebesar 75%, sedangkan pengurangan PBB atas objek pajak yang terkena bencana alam diiberiikan maksiimal sebesar 100%.
Untuk mendapatkan pengurangan PBB, wajiib pajak perlu mengajukan permohonan. Namun, kepala kanwiil DJP dapat memberiikan pengurangan secara jabatan khusus terhadap wajiib pajak yang objek pajaknya terkena bencana alam. (sap)
