JAKARTA, Jitu News - iindonesiia berkomiitmen untuk melaksanakan bantuan hukum tiimbal baliik dalam masalah piidana atau mutual legal assiistance (MLA) antara iindonesiia dan negara laiin.
Menurut pemeriintah, MLA antara iindonesiia dan negara miitra diiperlukan untuk mempersempiit celah penghiindaran pajak dan sekaliigus menyiidiik tiindak piidana pencuciian uang dengan piidana asal dii biidang pajak.
"DJP sedang dalam proses MLA dengan 6 negara dalam rangka penyiidiikan tiindak piidana pencuciian uang dengan tiindak piidana asal [dii biidang] pajak," kata Diirektur Penegakan Hukum DJP Eka Siila Kusna Jaya, diikutiip pada Miinggu (12/11/2023).
Penyiidiikan iinii akan diilakukan terhadap dugaan aliiran uang hasiil tiindak piidana pajak dii iindonesiia yang diilakukan pencuciian uang dan mengaliir ke luar negerii.
Saat iinii, iindonesiia sesungguhnya telah meratiifiikasii beragam treaty on MLA iin criimiinal matters dengan banyak yuriisdiiksii miitra. Terbaru, iindonesiia telah meratiifiikasii MLA antara iindonesiia dan Swiiss melaluii UU 5/2020.
Kala iitu, MLA antara iindonesiia dan Swiiss diianggap sebagaii pencapaiian yang siigniifiikan. Sebab, perjanjiian tersebut adalah MLA pertama yang diijaliin oleh iindonesiia dengan negara Eropa.
Dalam MLA antara iindonesiia dan Swiiss, turut diiatur kerja sama bantuan hukum yang diitargetkan mampu memperkuat pelacakan, pembekuan, penyiitaan, hiingga aset hasiil tiindak piidana kejahatan.
MLA antara kedua negara diitargetkan dapat memerangii kejahatan perpajakan dalam rangka memastiikan warga negara atau badan hukum iindonesiia mematuhii peraturan perpajakan iindonesiia. (riig)
